Category: Uncategorized


Pingsan


Pengalamanku ini terbilang langka. Sebab akupun sampai sekarang masih belum percaya akan hal yang telah aku alami itu. Aku adalah seorang remaja berumur 16 tahun. Pada umurku yang segini, tinggi badanku hanya 165cm. Badanku ideal, dan wajahku agak sedikit tampan. Suatu hari ketika aku sedang mangikuti karyawisata di sekolahku yang kebetulan waktu itu sekolahku mengadakan karyawisata ke sebuah pantai di jawa barat. Kami sampai disana pada jam 2 dini hari. Otomatis semua guru dan siswa kelelahan dan lansung tidur. Tapi tidak dengan aku, karena di bis aku sempat tertidur maka aku bisa tertidur ketika waktu manunjukan tepat pukul 4 dini hari.

Siangnya aku terbangun sekitar jam 9. Dan ketika terbangun aku heran kaena teman-teman sekamarku semuanya tidak ada. Waktu itu aku segera keluar kamar dan melihat bis sudah tak ada. Ternyata mereka sudah pergi ketempat tujuan mereka. Ketika aku menanyakan kepada cleaning servis di situ, ternyata benar. Sekitar jam 7 pagi tadi mereka sudah berangkat. Aku sangat kesal akan hal itu, kesal karena tidak ikut dan kesal karena temanku tidak membangunkan aku. Karena masih kesal, aku langsung keluar dan bejalan-jalan di pantai. Karena kebetulan hotel kami menginap berdekatan dengan pantai.

Ketika sampai di pantai, aku merasa heran karena pantai ini sangat sepi, tak ada seorangpun ada disini. Tapi aku langsung menarik kesimpulan bahwa pantai ini sepi karena pantai ini bukan pantai pariwisata. Tanaman di pantai ini cukup tinggi dan banyak sekali sampah disini. Mungkin karena itu oang tidak suka dengan pantai ini. Dengan bertelanjang kaki, aku menelusuri pantai ini. Sepanjang pantai aku hanya menemukan sampah plastik dan sampah bekas makanan instan.

Ketika hatiku mulai tenang, tiba-tiba aku melihat sesosok tubuh yang tergeletak di tepi pantai. Aku segera berlari menghampirinya, dan segera menyeretnya ke bawah pohon yang cukup rindang. Ketika kuperhatikan, ternyata dia adalah seorang gadis yang yang sebaya dengan saya dan dia berparas cantik dengan rambut panjang. Gadis itu memakai pakaian renang yang cukup indah. Aku coba memeriksa denyut nadinya dan ternyata denyut nadinya masih bergerak dan suhu tubuhnya pun masih hangat. Saya pikit dia hanya pingsan dan terseret oleh air laut ke sini. Tapi aku masih merasa heran, darimana datangnya dia.

Lalu aku coba memeriksa sekujur tubuhnya siapa tahu ada identitas tertinggal di sana. Tapi ketika aku memeriksa tubuhnya, langsung timbul pikiran-pikiran ngeres di otakku. Sesekali aku sentuh dadanya yang lumayan besar. Dan aku selalu memperhatikan pada bagian vagina. Tak terasa kemaluanku sudah berdiri tegak. Ketika itu timbullah niatku untuk berbuat cabul terhadap gadis itu. Sedikit demi sedikit aku menyingkirkan celana renangnya yang menutupi vaginanya.

Ketika sudah terbuka terlihatlah bukit kecil dengan bulu yang sangat terawat. Aku langsung menyentuh mulut vaginanya. Karena tak tahan aku langsung malepas celanaku dan langsung mengocok kemaluanku sambil aku menggesek-gesekkan jariku ke mulut vaginanya itu. Tapi karena aku masih belum merasa puas dengan hanya beronani, aku mencoba untuk menyentuh-nyentuhkan kemaluanku ke mulut vagina itu.

“Aahh.. ternyata vaginanya hangat sekali.. mmhh..”

Karena aku masih belum merasa puas juga, akhirnya aku langsung melepaskan semua pakaian renangnya. Dan setelah terlepas ternyata tubuh gadis itu lebih indah dari sebelumnya. Tanganku langsung meraih payudaranya yang putih dan meremas-remas payudara itu. Kemaluanku yang terus berdiri, kugesek-gesekkan dengan mulut vaginanya itu. Tak puas dengan itu, aku langsung memainkan puting susunya yang berwarna pink. Dengan tangan kiri masih memegang payudaranya, tangan kananku bergerak menuju vaginanya. Lalu kucoba menusuk-nusukkan jariku kedalam lubang vaginanya yang ternyata masih rapat sekali.

Ketika jariku berhasil masuk ke dalam lubang vaginanya itu, tiba tiba gadis itu bergerak. Aku langsung menghentikan kegiatanku itu kerena aku sangat terkejut sekali. Dan setelah ku perhatikan ternyata dia masih pingsan. Aku sempat menunggu beberapa saat untuk memastikan dia tak bergerak. Lalu setelah yakin dia tak bergerak, kembali aku memainkan vaginanya dengan jariku. Kucoba untuk menikmati hal itu, aku langsung mendekatkan wajahku ke depan mulut vaginanya itu. Kulihat mulut vaginanya itu sangat merah dengan lubang yang sedikit basah.

Lalu aku langsung manciumi mulut vagina itu sambil kedua tanganku membuka lebar mulut vaginanya. Setelah beberapa saat aku menciumi mulut vaginanya, lidahku kujulurkan untuk memainkan klitorisnya. Kurasakan nafas gadis itu menjadi sedikit lebih kasar. Nafasnya menjadi lebih cepat. Dan ketika nafasnya makin cepat, tiba-tiba dari lubang itu keluar cairan putih yang hangat membasahi wajahku.
“Wah.. aku berhasil membuatnya orgasme.. sekarang gilian saya harus orgasme..”

Aku langsung mempersiapkan kemaluanku yang sudah mencapai ukuran maksimal untuk memcoba memasuki lubang vaginanya. Aku langsung mencoba memasukkan kemaluanku ke dalam vagina itu dengan menggesek-gesekan kemaluanku terlebih dahulu, tapi ketika aku akan memasukan kemaluanku ke dalam lubang vaginanya ternyata lubang vaginanya itu terlalu sempit untuk dimasuki. Kemaluanku malah membengkok. Aku pun mencoba membantu kemaluanku dengan tanganku dan akhirnya kemaluanku berhasil masuk. Aku terus mencoba untuk memasukan kemaluanku hingga semua batang kemaluanku masuk kedalam.

Setelah berhasil masuk kedalam lubang vagina itu, kurasakan pijatan pada batang kemaluanku dan hangatnya lubang vagina itu mambuat kemaluanku semakin keras berdiri.
“Aahh.. ternyata vagina itu sangat manyenangkan.. hangat sekali..”
Aku langsung mengangkat pinggul gadis itu sejajar dengan kemaluanku. Lalu dengan perlahan aku gerakan pinggulku ke depan dan kebelakang.
“Aahh.. enak sekali..”
Setelah beberapa saat aku menggenjot, aku mencoba mempercepat genjotanku hingga akhirnya nafsuku telah sampai pada puncaknya.
“Aahh..!!”

Bersamaan dengan desahan panjang dari mulutku, aku keluarkan semua maniku dalam tubuh gadis itu. Aku langsung terkulai di pasir pantai. Aku membaringkan tubuhku di samping gadis itu. Aku barbaring sambil memandang ke atas dan sesekali aku memandang wajah gadis itu yang terlelap dengan wajahnya yang lugu. Dan sesekali aku memegang payudaranya yang sangat menggoda.

Hingga sore menjelang, aku terus memainkan tubuhnya karena aku tak mau melewatkan kesempatan ini. Beberapa saat aku berpikir untuk menemani gadis ini hingga sadar. Tapi kadang aku merasa takut akan apa yang telah aku lakukan tadi. Tapi setelah berpikir beberapa kali, akhirnya aku memutuskan untuk menemani gadis itu hingga siuman. Ditemani api unggun dan debur ombak, sambil bersandar di pohon aku memeluk gadis itu dari belakang. Dan walaupun begitu pikiran kotorku tak pernah hilang. Sambil aku memeluknya, mencoba untuk menghangatkannya, tanganku tak henti-hentinya memegangi payudaranya yang waktu itu dia masih telanjang karena aku tidak ingat untuk memakaikan pakaian renangnya.

Aku melihat jam tanganku, dan waktu menunjukan tepat jam 7 malam. Beberapa saat kemudian akhirnya dia siuman. Dia langsung terkejut dan berdiri manjauhiku.
“Hey..! apa yang kamu lakukan. Kenapa aku telanjang!”
“Eeit.. tenanglah. Diam dan dengarkan aku.. aku akan menjelaskan semuanya!”

Kemudian akupun menjelaskan semuanya, dari mulai aku menemukan dia sampai dia siuman. Mendengar ceritaku dia sempat meneteskan air mata. Dengan air mata bercucuran, dia menceritakan semuanya. Kami kemudian berkenalan dan namanya Dila. Dan ternyata dia adalah putri dari seorang jutawan dari kota X. Dia terseret ombak ketika dia sedang berenang di pantai dan dia tak sadarkan diri hingga dia bangun disini.
“Begitulah semuanya berawal.. “
“Oohh jadi begitu..”
“Vid, kamu bisa tolong saya..”
“Iya apa saja!”
“Tolong hangatkan saya.. saya kedinginan dan saya tidak bawa pakaian, pakaian saya basah.”
“Eemmhh.. baiklah”

Kemudian dia mandekatkan tubuhnya yang putih ke tubuh saya. Dia hanya memeluk lututnya di dalam pelukan saya.
“La, kalo kamu cuma begitu kamu akan kedinginan”
“Lalu aku harus gimana?”
“Agar tidak kedinginan kamu harus bergerak.”
“Contohnya apa?”
“Eemmhh.. gimana kalo .. kalo kita itu.. eemmhh.. ML”
“Apa..!”
“Mau nggak?”
“Mau sih.. tapi..”
“Sudahlah lakukan aja..” kataku sambil terus memeluk dan menciumnya dengan lembut.
Beberapa saat kamu berciuman dengan tubuh tanpa busana. Sesekali tanpa disengaja kemaluanku yang sedang berdiri menyentuh-nyentuh perutnya. setelah beberapa menit kami berciuman, aku langsung menarik mulutku dari mulutnya. Aku langsung menyuruhnya untuk mengulum kemaluanku yang sudah lama berdiri.
“sekarang kamu kulum penis saya..!”

Tanpa banyak bicara dia langsung menuruti semua apa yang saya katakan. Dia langsung mengulum kemaluanku. Pertama dia masih ragu, tetapi setelah beberapa saat dia mengulum kemaluanku akhirnya dia menikmatinya. Nafasnyapun mulai cepat.
“mmhh.. bagus sekali .. iya terus mmhh..”
Setelah beberapa menit dia mengulum kemaluanku akhirnya aku sudah mencapai puncak. Aku mengeluarkan maniku kedalam mulutnya dan dia pun langsung mengeluarkan maniku dari mulutnya.
“Kamu jorok banget, kok kencing di mulut saya. Mana asin lagi!”
“Ehh..! kamu kok spermanya dibuang, itu namanya orgasme bukannya kencing. Dan kalo orang lain, spermanya suka di minum. Katanya sih biar awet muda”
“Oohh gitu ya..”
“Iya sekarang giliran saya jilatin vagina kamu..!”

Kemudian dia langsung merebah di pasir dan membuka selangkangannya lebar-lebar. Kemudian aku memulai dengan menciumi pahanya lalu berpindah ke dadanya lalu ke perutnya lalu aku manciumi mulut vaginanya. Setelah seluruh permukaan mulut vaginanya aku kulum, aku mencoba membuka vaginanya lebar lebar dan langsung menghisap klitorisnya yang terasa lebih keras.
“aahh.. geli sekali..!”

Aku langsung memainkan klitorisnya yang tersasa hangat dimulutku. Dia pun mengeluarkan desahan-desahan kecil yang membuatku semakin ingin melumat seluruh vaginanya. Setelah beberapa saat aku melumat vaginanya itu, aku langsung menghentikan kegiatanku itu.
“Eehh.. kenapa berhenti! Lagi enak nih..!”
“Tunggu dulu biar lebih nikmat..”

Tanpa banyak bicara lagi, aku langsung meraih kemaluanku yang sudah berdiri lagi. Aku langsung mengarahkan kemaluanku kearah vaginanya yang sudah terlihat basah sekali. Dan ketika aku memasukannya ternyata kali ini lebih mudah dari sebelumnya. Diiringi desahan yang sedikit keras, aku tanamkan kemaluanku dalam-dalam.
“Aahh..!! Sakit..!”
Lalu perlahan aku mulai manggenjot pinggulku. Perlahan desahan sakit yang keluar dari mulutnya berubah menjadi desahan nikmat.
“Ahh.. enak.. ayo terus..!”
Ditengah aku sedang menggenjot vaginanya, aku langsung menyuruhnya untuk bangkit.
“Dila.. kita coba dogy style..!”
“Apa tuh..?”
“Sekarang kamu nungging seperti anjing..”
“Oohh.. baiklah..”
Kemudian dia menungging dan aku langsung menyambut vaginanya dari belakang. Lalu akupun langsung menggenjot kembali pinggulku ini.

“Aahh.. aahh.. enak mmhh..”
Setelah hampir mancapai puncak, aku langsung mempercepat genjotanku yang mambuat timbulnya suara benturan pinggulku dengan pantatnya. Dan dengan diiringi desahan panjang dari mulutnya, terasa cairan hangat membasahi kemaluanku. Aku pun terus mampercepat genjotanku dan akhirnya aku pun mengeluarkan maniku didalam tubuhnya. Dan kamu pun langsung terkulai lemas di pasir pantai. Kami barbaring sambil saling berpelukan. Kamipun tertidur disaksikan oleh cahaya bulan dan deburan ombak. Pagi-pagi sekali kami terbangun dan dia segera memakai pakaian renangnya kembali. Aku langsung mengantarnya pulang ke villanya yang letaknya ternyata tak jauh dari hotel tempat aku menginap. Kami sempat bertukaran no. telepon sebelum kami berpisah.
Setelah sampai di hotel, saya melihat rombongan sekolah saya telah kembali ke hotel dan bersiap untuk pulang.
“kamu dari mana aja Ton! Kok baju kamu kotor begitu.. semalem tidur dimana..!” tanya temanku .
“Aahh enggak, dari pada aku boring di hotel mendingan aku keluar. Gara-gara kalian juga aku nggak ikut.. huh dasar!”
“Pokoknya kamu nyesel banget lah nggak ikut..”
“Eit.. tunggu dulu. Yang nyesel itu pasti kalian bertiga, pake ninggalin segala..!”
“Emangnya kenapa..?”
“Ah ada aja..!”
“Wah.. ni anak bisa aja bikin penasarannya..”

Kemudian kamipun pulang dan sesampainya di sana saya langsung menelepon Dila. Dan ternyata dia sedang ada di kotaku. Kamipun segera menentukan tempat untuk ketemuan. Dan yang pasti setelah kami ketemuan, kami melakukannya lagi. Setelah saat itu kami pacaran hingga sekarang. Untuk menjaga agar hubungan kami tidak rusak karena hamilnya dia, aku memintanya agar meminum pil KB.


Sekian lama aku berteman tak disangka dan diduga diapun mengutarakan maksud dan tujuannya mengajak berteman aku dahalulu karena dia ingin mengenal aku lebih jauh, Bila aku tak jawab,mungkin aku dikira sombong, setelah aku berpikir panjang dengan berbagai pertimbangan keputusan akhirnya aku pilih’Aku menerima jadi pacarnya’ singkat dan penuh malu aku kirim Sms’untuk kata ”IYA AKU MAU JADI CEWEKMU’, dia gembira bukan kepalang tentu saja orang lain aja belum tentu bisa meraih hatiku, dengan uletnya dan gigihnya akupun luluh karena aku yakin dia tulus sayang sama aku sikap-sikap yang ditunjukin kepadaku telah jadi buktnya.

Namaku Rima. Kata orang aku cantik, kulitku kuning, hidungku bangir, sepintas aku mirip Indo. Tinggiku 160cm, ukuran Bhku 34, cukup besar untuk seorang gadis seusiaku. Aku punya pacar, Dino namanya. Dia kakak kelasku, kami sering ketemu di sekolah.
Dino seorang siswa yang biasa-biasa saja, dia tidak menonjol di sekolahku. Prestasibelajarnyapun biasa saja. Aku tertarik karena dia baik padaku. Entah kebaikan yang tulus atau memang ada maunya. Dia juga mencoba mendekatiku. Di sekolah, aku tergolong populer. Banyak siswa cowok mencari perhatian padaku.

Tapi entah mengapa aku memilih Dino. Singkatnya, aku pacaran dengan Dino. Banyak teman-teman cewekku menyayangkannya, padahal masih ada si Anto yang bapaknya pejabat, Si Danu yang juara kelas, Si Andi yang jago basket, dan lainnya. Entah mengapa aku tidak menaruh perhatian pada mereka-mereka itu.Aku dan Dino telah berjalan kurang lebih 6 bulan. Pacaran kami sembunyi-sembunyi, ya karena kami masih SMP jadi kami masih takut untuk pacaran secara terang-terangan. Orang tuaku sebenarnya melarangku untuk berpacaran, masih kecil katanya. Tetapi apabila cinta telah melekat, apapun jadi nikmat.

Hari Sabtu sepulang sekolah aku janjian sama Dino. Aku mau nemanin dia ke rumah temannya. Aku bilang ke orang tua bahwa hari Sabtu aku pulang telat karena ada les tambahan. Aku berbohong. Di tasku. telah kusiapkan kaos dan celana panjang dari rumah. Sepulang sekolah, aku ke wc dan mengganti seragamku dengan baju yang kubawa dari rumah. Dinopun begitu.
Dari sekolah kami yang berada di perbatasan Jakarta Timur dan Selatan, kami naik bis kearah Cipinang, Jakarta Timur, rumah teman Dino. Sesampai disana, aku diperkenalkan dengan teman Dino, Agus namanya. Rumahnya sepi, karena orang tua Agus sedang ke luar kota. Agus juga bersama pacarnya, Anggi.

Pembantunya pun pulang kampung, sesekali kakak Agus yang telah menikah, datang ke rumah sekalian menengok Agus dan membawakannya makanan. Kakaknya hari ini sudah datang tadi pagi dan akan datang lagi besok, demikian kataAgus. Jadi hanya kami berempat di rumah itu. Kami ngobrol bersama ngalor ngidul.
Tak lama kemudian, Agus dan Dino pergi ke dapur dan menyiapkan minuman untuk kami. Aku ngobrol dengan Anggi. Dari Anggi, aku tahu bahwa Agus telah berhubungan selama kurang lebih 1 tahun. Keduanya satu sekolah, juga di SMP hanya berlainan dengan sekolahku.

10 menit kemudian, Agus dan Dino kembali dengan membawa 4 gelas sirup dan dua toples makanan kecil. Setelah memberikan minuman dan makanan itu, Agus berdiri dan memutar VCD.Film baru katanya. Aku enggak ngerti, aku pikir film bioskop biasa. Agus menyilakan kami minum. Aku minum sirup yang diberikannya. 10 menit berlalu, kepalaku pusing sekali, bersamaan dengan itu ada rasa aneh menyelimuti tubuhku.
Rasa..hangat merinding di tv tampak adegan seorang wanita bule yang sedang dientot oleh 2 laki-laki, satu negro dan satu lagi bule juga. Aku berniat untuk pulang, tetapi entah mengapa dorongan hatiku untuk tetap menyaksikan film itu. Mungkin karena aku baru pertama kali ini nonton blue film. Badanku makin enggak karuan rasanya kepalaku serasa berat dan ah rangsangan di badanku semakin menggila.

Aku lihat Agus dan Anggi sudah saling melepaskan baju mereka telanjang bulat di hadapan aku dan Dino.Mereka saling berpelukan, berpagutan tampak Agus menciumi tetek Anggi yang mungil Agus lalu mengisep-isep pentilnya tampaknya keduanya sudah sering melakukannya . Mereka tampak tidak canggung lagi Anggi mengisep-isep peler Agus persis seperti kejadian di film blue itu . Anggi juga sepertinya telah terbiasa Kontol Agus bak permen, diisep, dikulum oleh Anggi Dino merapatkan tubuhnya kepadaku.

“Rim .kamu sayang aku enggak?”tanyanya padaku. “Eh..emang kenapa, Din ?”kataku kaget karena aku masih asyik menyaksikan Agus dan Anggi “Aku pengen kayak gitu .”kata Agus sambil menunjuk pada Agus dan Anggi yang semakin hot. Tampak Agus mulai menindih Anggi, dan memasukkan batang kontolnya ke nonok Anggi. Dengan diikuti teriakan kecil Anggi, batang kontol itu masuk seluruhnya ke nonok Anggi. Gairahku melonjak-lonjak entah kenapa?Seluruh badanku merinding .”Rima?”kata Dino lagi. “Eh enggak ah enggak mau malu .”kataku. “Malu sama siapa?”kata Dino.
Tangannya mulai merayapi dadaku. Kutepis pelan tangannya. “Malu sama Agus dan Anggi tuh “kataku. “Ah mereka aja cuek ayo dong Rima aku sudah enggak tahan nih “kata Dino. “Ah..jangan ah “kataku. Gairahku makin tidak keruan mendengar erangan dan rintihan Agus dan Anggi. Tak terasa tangan Dino mulai membuka kancing bajuku. Entah kenapa aku membiarkannya sehingga bajuku terbuka. Aku hanya mengenakan BH dan celanapanjang jeans.

Adegan di TV makin hot tampak sekarang seorang wanita asia di entot tiga orang bule dua orang memasukkan kontolnya ke memek dan pantatnya sedangkan yang satunya kontolnya lagi diisep oleh si wanita. Keempatnya terlihat sedang merasakan kenikmatan Tangan Dino mulai merayapi dan meremas-remas buah dadaku yang masih kencang dan belum pernah disentuh oleh siapapun. Aku menggelinjang, geli nikmat ah..baru pertama kali aku merasakan ini. ”Buka Bhnya, ya sayang “pinta Dino. Aku mengangguk, aku jadi inginmerasakan lebih nikmat lagi Dengan cekatan Dino membuka Bhku.. aku sekarang benar-benar telanjang dada.

Dino mengisepi pentilku memencet-memencet buah dadaku yang masih kenyal dan bagus “Tetekmu enak bener, sayang belum pernah ada yang pegang yaa”kata Dino sambil terus meremas tetekku dan mengisepi pentilku “Belum Din ahhh enak Din terus terus..jangan berhenti .”kataku. Kenikmatan itu baru kali ini aku rasakan. Kulirik Agus dan Anggi, mereka sekarang bermain doggy style.
Anggi berposisi nungging dan Agus menusuknya dari belakang terdengar erangan dan eluhan mereka Gairahku makin menggila “Buka celanamu ya sayang aku udah pengen nih “pinta Dino. “Jangan Din takut .”kataku. “Takut apa sayang?”kata Dino. “Takut hamil “kataku. “Enggak Din, aku nanti keluarnya di luar memekmu sayang kalo hamilpun aku akan tanggung jawab, percayalah “katanya.

Cerita Dewasa Pecah Wanita Perawan Aku diam saja Dino mulai membuka ristleting celanaku, aku diamkan saja .tak lama kemudian, dia memerosotkan celanaku tampak memekku yang menggumpal dengan jembut yang lumayan tebal. Dino pun memerosotkan celana dalamku Aku benar-benar polos bugil. Dinopun membukaseluruh bajunya, kami berdua telanjang bulat.
Tangan Dino tetap meremas-remas tetekku Kulirik Agus dan Anggi, eh mereka bersodomi Anggi sudah biasa bersodomi rupanya kulihat kontol Agus maju mundur di pantat Anggi sedangkan tangan kiri Anggi mengucek-ucek memeknya sendiri yang sudah basah Erangan mereka terdengar makin sering .Dino terus mengerjaiku, tangannya mulai merayapi jembutku. Salah satu jarinya dimasukkan ke nonokku”Ah..sakit, pelan-pelan, Din..”teriakku ketika jari itu memasuki nonokku.

Dino agak sedikit mengeluarkan jari itu dan bermain di bibir kemaluanku tak lama kemudian nonokku basah . “Din, isep dong punyaku “pinta Dino sambil menyodorkan kontolnya ke mukaku. “Ah..enggak ah “kataku menolak. “Jijik ya? Punyaku bersih kok ayo dong Anggi saja berani tuh “pinta Dino memelas.

Dengan ragu aku pegang kontol Dino. Baru sekali ini aku memegang punya laki-laki. Ternyata liat dan keras. Kontol Dino sudah berdiri tegang rupanya. “Ayo dong Rima sayang “pinta Dino lagi. Dengan ragu kumasukkan kontol itu ke mulutku, aku diamkan kontol itu sambil kurasa-rasa. Ih, kenyal “Hisap dong sayang seperti kamu makan permen “Dino mengajariku. Pelan-pelankuisap-isap, kujilati bolong kontol itu dengan lidahku lama kelamaan aku merasa senang mengisapnya kuisep keras-keras..kusedot-sedot, kujilati .kumaju mundurkan kontol itu di dalam mulutku terdengar berulang kali erangan Dino. “Ah ah. uuuhhh enak sayang teruskan ..” erang Dino. Tangan Dino terus mengucek-ucek nonokku.
Sudah tidak sakit lagi sekarang, mungkin sudah basah Aku jadi senang mengisap kontol Dino terus kulomoh kuisap..kujilati kusedot-sedot ih..enak juga, pikirku Tiba-tiba Dino menarik kontolnya dan mengarahkannya ke nonokku Aku pasrah, dimasukkannya kontolnya ternyata meleset, Dino melumuri tangannya dengan ludahnya kemudian tangannya itu diusapkan ke kontolnya dan mencoba lagi memasukkan kontolnya ke liang nonokku, ketika kepalanya masuk ke nonokku, aku berteriak”Aduuh sakit Din pelan-pelan dong ” Gairah semakin meninggi .aku ingin merasakan kenikmatan lebih.

Dino melesakkan kontolnya ke nonokku pelan kurasakan sesak nonokku ketika kepala kontol itu masuk ke dalamnya Dino lagi menghentakkan kontolnya sehingga amblas semuanya ke dalam nonokku .”Ahhh perih Din “kataku. Dino diam sebentar memberikan waktu kepadaku untuk menenangkan diri. “Tenang Din, sebentar lagi kamu akan terbiasa kok “katanya. Pelan-pelan Dino mengocokkontolnya di nonokku.

Masih terasa perih sedikit kocokkan Dino semakin kencang Aneh, perih itu sudah tidak terasa lagi, yang ada hanya rasa nikmat nikmat sekali “Terus Din Terus ahhhh ah .enak .”kataku. Sempat kulirik Agus dan Anggi masih terus bersodomi. Gimana rasanya disodomi ya, pikirku Agus semakin menggencarkan kocokkanyya Aku semakin menggelinjang .ah ternyata ngentot itu nikmat .surga dunia coba dari dulu.. kataku dalam hati .”Din ah.ah .aku aku .”entah apa yang aku ingin ucapkan. Ada sesuatu yang ingin kukeluarkan dari nonokku entah apa “Keluarkan saja sayang kamu mau keluar .”kata Dino. “Ahh iya Din aku mau keluar ..”tak lama kemudian terasa cairan hangat dari nonokku .

Dino terus mengocok kontolnya kuat juga pacarku ini, pikirku. “Satu nol, sayang”kata Dino tersenyum. Dino mencopot kontolnya, aku sedikit kecewa “Kenapa dicopot Din..”tanyaku. “Kita coba doggy style, sayang “jawabnya sambil membimbingku berposisi seperti anjing. Dino menusukan kontolnya lagi sekarang badanku terguncang-guncang keras terdengar erangankeras dari Anggi dan Agus, mereka ternyata telah mencapai puncaknya kulihat peluh bercucuran dari kedua tubuh mereka, dan akhirnya mereka terkapar kenikmatan tampak wajah puas dari mereka berdua Aku sudah hampir tiga kali keluar Dino tampak belum apa-apa dia terus mengocok kontolnya di memekku.

Sudah hampir ¾ jam aku dientot Dino, tapi tampaknya Dino belum menunjukkan akan selesai. Kuat juga aku lemes sekali lalu Dino mencopot lagi kontolnya dan mengambil baby oil yang tersedia dekat kakinya. Aku ingat baby oil itudipakai untuk melumuri pantat Anggi ketika mau disodomi .eh apakah aku mau disodomi Dino? “Mau ngapain Din “tanyaku penasaran .”Seperti Anggi dan Agus lakukan, Rima aku ingin menyodomimu sayang “jawabnya. Sebenarnya aku takut, tapi terdorong rasa gairahku yang melonjak-lonjak dan keingin tahuanku rasanya disodomi, maka aku mendiamkannya ketika Dino mulai mengolesi lubang pantatku dengan baby oil.

Tak lama kemudian, kontol Dino yang masih keras itu diarahkan ke pantatku meleset dicoba lagi kepala kontol Dino tampak mulai merayapi lubang pantatku “Aduuuh sakit Din “kataku ketika kontol itu mulai masuk pantatku. “Tenang sayang nanti juga enggak sakit “jawab Dino sambil melesakkan bagian kontolnya kepalanya sudah seluruhnya masuk ke pantatku “Aduuuhh sakiiiitt “kataku lagi.
“Tenang Rim, nanti enak deh..aku jadi ketagihan sekarang “kata Anggi sambil mengelus rambutku dan menenangkanku. “Kamu sudah sering disodomi, Nggi?”tanyaku. “Wah bukan sering lagi hampir tiap hari kadang aku yang minta abis enak sih udah tenang saja ayo Dino coba lagi nanti pacarmu pasti ketagihan ayo..”kata Anggi sambil menyuruh Dino mencoba lagi.

Dino mendesakkan lagi kontolnya sehingga seluruhnya amblas ke pantatku. Terasa perih di pantatku .”Tuuh kan sudah masuk tuh enak kan nanti pantatmu juga terbiasa kok kayak pantatku ini enak kan jadi enggak ada hari libur, kalo lagi mens-pun tetap bisa dientot hi hihi “kata Anggi. Aku diam saja. Ternyata sakit kalo disodomi .Dino mulai mengocok kontolnya di pantatku. “Pelan-pelan, Din masih sakit “pintaku pada Dino.
“Iya sayang enak nih sempit”katanya. Anggi ke belakang pantatku dan mengucek-ucek nonokku dengan tangannya aku semakin menggelinjang nikmat “Anggi ah .enak “kataku. “Ayo Din, kocok terus, biar aku mengucek nonoknya, biar rasa sakit itu bercampur rasa nikmat”kata Anggi pada Dino. Benarsekarang rasa sakit itu tidak muncul lagi hanya nikmat .”Hai sayang ini ada lobang nganggur mau pake? Boleh kan Dino? Lubang yang satu ini dipake pacarku Agus “kata Anggi.
“Tanya Rima saja deh, aku lagi asyik nih”jawab Agus sambil terus mengocok kontolnya di pantatku. “Gimana Rima? Bolehkan? Enak lo di dobelin aku sering kok “pinta Anggi. “Ah..jangan deh “kataku.”Sudahlah Rima, kasih saja aku rela kok”kata Dino. Tiba-tiba Agus merayap di bawahku dan menciumi tetekku. Kontolnya dipegang oleh Anggi dan diarahkan ke nonokku.

Dengan sekali hentakan, kontol itu masuk ke nonokku. “Jaang “kataku hendak berteriak jangan tetapi terlambat, kontol itu sudah masuk ke nonokku. Jadilah aku dientot dan disodomi. ½ jam Agus dan Dino mengocok kontolku.
Aku lemes sekali baru sekali dientot sudah diduain tanganku sudah tidak kuat menopang badanku. Kakiku lemes sekali. Kenikmatan itu sendiri tidak adaduanya .aku sebenarnya jadi senang dientot berdua begini tapi mungkin kali ini kurang siap.

Aku keluar 2 kali sebelum Agus mencopot kontolnya dan memasukkan kontol nya ke mulut Anggi. Anggi menghirup peju yang keluar dari kontol Agus dengan nikmat. Kemudian Dino melakukan hal yang sama, tadinya aku ragu untuk menghirupnya, tapi lagi-lagi rasa penarasan pada diriku membuatku ingin rasanya menikmati pejunya Dino. Dino memuntahkan pejunya dimulutku akupun menelannya. Ah..rasanya asin dan agak amis setelah kontolnya bersih, Dino mencopot kontolnya dan menciumku yang sudah KO di kasur. “Terima kasih sayang aku puas dan sayang sama kamu “katanya lembut. Aku diam saja sambil merasakan kenikmatan yang baru pertama kali aku rasakan. Badanku lemes sekali Kulihat di seprai ada bercak merah..darah keperawananku dan mungkin bercampur dengan sedikit darah dari pantatku yang mungkin juga sobek karena dirasuki kontol Dino. Aku mencoba duduk, ah masih terasa sakit di kedua lubangku itu, lalu aku menangis di pelukan Dino .”Din, aku sudah enggak perawan lagi sekarang jangan tinggalkan aku yaa .”kataku pada Dino. Kulihat Anggi dan Agus sudah tidur berpelukan dalam keadaan telanjang bulat. “Iya sayang aku makin cinta sama kamu aku janji enggak akan meninggalkanmu tapi kamu harus janji yaa “katanya. “Bener Din? Kamu enggak ninggalin aku? Tapi janji apa ?”kataku balik bertanya. “Janji, kita akan mengulangi ini lagi aku bener-bener ketagihan sekarang sama nonokmu dan juga pantatmu, sayang “kata Dino sambil mengelus rambutku. Aku diam saja, aku juga ingin lagi..aku juga ketagihan kataku dalam hati. “Janji ya sayang “katanya lagi mendesakku. Aku hanya mengangguk. “Sudah jangan nangis sekarang kamu mau langsung pulang atau mau istirahat dulu?”tawar Dino. Aku pilih istirahat dulu lalu akupun tertidur berpelukan dengan Dino. Hari ini baru pertama kali aku berkenalan dengan sex. Ternyata enak dan nikmat. Demikian Cerita Dewasa Pecah Wanita Perawan,Semoga anda dapat terhibur atas posting kami kali ini,ikuti terus update kami selanjutnya di Dalam Dunia Kitta,terimakasih


Saya adalah seorang mahasiswa yang sedang pulang untuk liburan. Di suatu hari yang cerah, saya sedang berbaring untuk mencoba tidur siang. Ternyata ibu memanggilku dari luar. Segera saya beranjak dari tempat tidur untuk menemuinya, dan ternyata ibu memintaku untuk mengantarkan sebuah bungkusan untuk diserahkan ke teman arisannya. Tanpa banyak tanya saya segera bergerak ke alamat yang dituju yang tidak berbeda jauh dari rumahku. Sesampainya di sana aku melihat sebuah rumah yang besar dengan arsitektur yang menawan.

Aku segera memijit bel di pintu pagar rumah tersebut. Tidak beberapa lama keluarlah seorang gadis manis yang memakai kaos bergambar tweety kedodoran sehingga tidak terlihat bahwa gadis itu memakai celana, walaupun akhirnya saya melihat dia memakai celana pendek.

Singkat kata saya segera bertanya tentang keberadaan teman ibu saya.

“Hmm.., sorry nih, Ibu Raninya ada?, saya membawa kiriman untuk beliau”, tanyaku.

“Wah lagi pergi tuh, Kak.., Kakak siapa ya?”, tanyanya lagi.

“Oh saya anaknya Ibu Erlin”, jawabku.

Tiba-tiba cuaca mendung dan mulai gerimis. Sehingga gadis manis itu mempersilakan saya masuk dahulu.

“Kakak nganterin apaan sih?”, tanyanya.

“Wah.., nggak tahu tuh kayaknya sih berkas-berkas”, jawabku sambil mengikutinya ke dalam rumahnya.

“Memang sih tadi Mama titip pesen kalo nanti ada orang yang nganterin barang buat Mama.., tapi aku nggak nyangka kalo yang nganter cowo cakep!”, katanya sambil tersenyum simpul.

Mendengar pernyataan itu saya menjadi salah tingkah.

Saat saya memasuki ruang tengah rumah itu, saya menjumpai seorang gadis manis lagi yang sedang asyik nonton TV, tapi melihat kami masuk ia seperti gugup dan mematikan TV yang ditontonnya.

“Ehmm.., Trid siapa sih?”, tanya gadis itu.

“Oh iya aku Astrid dan itu temanku Dini, kakak ini yang nganterin pesanan mamaku..”, jawab gadis pemilik rumah yang ternyata bernama Astrid.

“Eh iya nama gue Ian”, jawabku.

Tidak lama kemudian aku dipersilakan duduk oleh Astrid. Aku segera mencari posisi terdekat untuk duduk, tiba-tiba saat aku mengangkat bantal yang ada di atas kursi yang akan aku duduki aku menemukan sebuah VCD porno yang segera kuletakkan di sebelahku sambil aku berkata, “Eh.., kalo ini punya kamu nyimpannya yang bener nanti ketahuan lho”.

Dengan gugup Astrid segera menyembunyikan VCD tersebut di kolong kursinya, lalu segera menyalakan TV yang ternyata sedang menayangkan adegan 2 orang pasangan yang sedang bersetubuh. Karena panik Astrid tidak dapat mengganti gambar yang ada.Untuk menenangkannya tanpa berpikir aku tiba-tiba nyeletuk.

“Emang kalian lagi nonton begini nggak ada yang tahu?”.

Dengan muka memerah karena malu mereka menjawab secara bersamaan tapi tidak kompak sehingga terlihat betapa paniknya mereka.

“Ehh.., kita lagi buat tugas biologi tentang reproduksi manusia”, jawab Astrid sekenanya. Dapat kulihat mimik mukanya yang ketakutan karena ia duduk tepat di sampingku.

“Tugas biologi?, emangnya kalian ini kelas berapa sih?”, tanyaku lagi.

“Kita udah kelas 3 SMP kok!”, jawab Dini. Aku hanya mengangguk tanda setuju saja dengan alasan mereka.

“Kenapa kalian nggak nyari model asli atau dari buku kedokteran?”, tanyaku.

“Emang nyari dimana Kak?”, tanya mereka bersamaan.

“Hi.., hi.., hi.., siapa aja.., kalo gue jadi modelnya mo dibayar berapa?”, tanyaku becanda.

“Emang kakak mau jadi model kita?”, tanyanya.

Mendengar pertanyaan itu giliran aku yang menjadi gugup.

“Siapa takut!”, jawabku nekat.

Ternyata, entah karena mereka sudah ‘horny’ gara-gara film BF yang mereka tonton itu, Astrid segera mendekatiku dengan malu-malu.

“Sorry Kak boleh ya ‘itunya’ kakak Astrid pinjem”, bisiknya.

Dengan jantung yang berdegup kencang aku membiarkan Astrid mulai membuka retsleting celanaku dan terlihat penisku yang masih tergeletak lemas.

“Hmm.., emangnya orang rumah kamu pada pulang jam berapa?”, tanyaku mengurangi degup jantungku. Tanpa dijawab Astrid hanya memegangi penisku yang mulai menegang.

“Kak, kalo cowok berdiri itu kayak gini ya?”, tanyanya.

“Wah segini sih belum apa-apa”, jawabku.

“Coba kamu raba dan elus-elus terus”, jawabku.

“Kalo di film kok kayaknya diremas-remas terus juga dimasukin mulut namanya apa sih?”, tanyanya lagi.

Ketegangan penisku hampir mencapai maksimal.

“Nah ukuran segini biasanya cowok mulai dapat memulai untuk bersetubuh, gimana kalo sekarang aku kasih tahu tentang alat kelamin wanita, Emm.., vagina namanya”, mintaku.

Tanpa banyak tanya ternyata Astrid segera melepaskan celananya sehingga terlihat vaginanya yang masih ditutupi bulu-bulu halus, Astrid duduk di sampingku sehingga dengan mudah aku mengelus-elus bibir vaginanya dan mulai memainkan clitorisnya.

“Ahh.., geli.., Kak.., ahh.., mm..”, rintihnya dengan mata yang terpejam.

“Ini yang namanya clitoris pada cewek (tanpa melepaskan jariku dari clitorisnya) nikmat kan kalo aku beginiin”, tanyaku lagi. Dan dijawab dengan anggukan kecil.

Tiba-tiba Dini yang sudah telanjang bulat memasukkan penisku ke mulutnya.

“Kok kamu sudah tahu caranya”, tanyaku ke Dini.

“Kan nyontoh yang di film”, jawabnya.

Tiba-tiba terjadi gigitan kecil di penisku, tapi kubiarkan saja dan mengarahkan tangan kiriku ke vaginanya sambil kuciumi dan kujilati vagina Astrid. Vagina Astrid mulai dibasahi oleh lendir-lendir pelumas yang meleleh keluar.

Tiba-tiba Astrid membisiku, “Kak ajarin bersetubuh dong..?”.

“Wah boleh”, jawabku sambil mencabut penisku dari mulut Dini.

“Tapi bakal sedikit sakit pertamanya, Trid. Kamu tahan yah..”, bisikku.

Aku mengangkangkan pahanya dan memainkan jariku di lubang vaginanya agar membiasakan vagina yang masih perawan itu. Dan aku pelan-pelan mulai menusukkan penisku ke dalam liang vagina Astrid, walau susahnya setengah mati karena pasti masih perawan. Ketika akan masuk aku segera mengecup bibirnya,

“Tahan ya sayang..”.

“Aduh.., sakit..”, teriaknya.

Kubiarkan penisku di dalam vaginanya, beberapa menit baru kumulai gerakan pantatku sehingga penisku bergerak masuk dan keluar, mulai terlihat betapa menikmatinya Astrid akan pengalaman pertamanya.

“Masih sakit nggak, Trid”, tanyaku.

“mm.., nggak.., ahh.., ahh.., uhh.., geli Kak”.

Hampir 30 menit kami bersetubuh dan Astrid mulai mencapai klimaksnya karena terasa vaginanya basah oleh lendir.

“Kak Astrid pingin pipis!”, tanyanya.

“Jangan ditahan keluarin aja”, jawabku.

“Ah.., ahh.., emm.., e..mm”, terasa otot vaginanya menegang dan meremas penisku.

“Nah Trid kamu kayaknya udah ngerasain ejakulasi tuh”.

Aku merebahkan tubuh Astid di sampingku dan segera menarik Dini yang sedang onani sambil melihat film porno di TV.

“Sini kamu mau nggak?”, tanyaku.

Tanpa banyak tanya Dini segera bergerak mendekatiku, kuhampiri dia dan segera mengangkat kaki kirinya dan kumasukkan penisku ke vaginanya dan tampaknya ia menahan sakit saat menerima hunjaman penisku di lubang vaginanya sambil memejamkan matanya rapat-rapat, tapi sekian lama aku mengocokkan penisku di vaginanya mulai ia merintih keenakan. Aku terus melakukannya sambil berdiri bersender ke tembok.

“aahh.., Kak.., Dini.., Dini”, jeritnya dan tiba-tiba melemas, ia sudah kelur juga pikirku.

Aku bopong gadis itu ke kursi dan rupanya Astrid sudah di belakangku dan menyuruhku duduk dan memasukkan penisku ke vaginanya dengan dibimbing tangannya. Aku telah berganti tempat dan gaya, yang semua Astrid yang memerintahkan sesuai adegan di film sampai akhirnya Astrid memberitahuku bahwa ia akan keluar.

“Trid tahan yah.., aku juga udah mau selesai nih.., ahh.., aahh.., croot.., creett.., creet”, aku muntahkan beberapa cairan maniku di dalam vaginanya dan sisanya aku semprotkan di perutnya.

“Enak.., yah Kak.., hanget deh memekku.., hmm.., ini sperma kamu?”, bisiknya dan kujawab dengan ciuman di bibirnya sambil kubelai seluruh tubuh halusnya.

Setelah itu kami mandi membersihkan diri bersama-sama sambil kuraba permukaan payudara Astrid yang kira-kira berukuran cukup besar untuk gadis seusianya, karena terangsang mereka menyerangku dan memulai permainan baru yang di sponsori gadis-gadis manis ini, yang rupanya mereka telah cepat belajar.


Walaupun dengan susah payah akhirnya kontol ku masuk amblas ke dalam memek Imah. Gadis lugu berjilbab itu menjerit kesakitan. Kurasakan kontol ku hangat dan serasa ada yang memijat-mijat. Aku mulai mengerakkan kontolku maju mundur. Tanganku memegang pundak gadis berjilbab itu sedangkan mulut ku..

Perkenalkan, namaku Adi. Aku seorang mahasiswa disebuah perguruan negeri di kota Purwokerto. Aku punya kenalan yang alim, cantik dan lugu. namanya Imah. setiap hari selasa dan sabtu , kami selalu bertemu. Karena kami ikut kursus malam bahasa inggris di sebuah tempat kursus bahasa asing yang cukup terkemuka. Di tempat kursus itu pula kami pertama kali bertemu.

Sekedar informasi, Imah adalah seorang mahasiswa tingkat pertama di sebuah perguruan tinggi islam swasta di kota ini. Imah yang selalu memakai jilbab lebar mempunyai wajah yang putih dan cantik lagi imut, membuat setiap orang tak bosan-bosan memandangnya. Apalagi senyuman lugunya yang manis, membuat semua pria tahu kalau gadis ini sangatlah polos dan benar-benar lugu. Dengan tinggi 167 cm dan berat 50 kg, kulitnya yang putih bersih selalu tertutup dengan busana muslimah yang longgar, dan jilbab yang lebar pula.
Meskipun lugu Imah sangat menggairahkan. Yang paling menonjol dari gadis alim yang lugu ini ialah pantatnya yang besar dan padat. Sekal sekali. Agak kontras dengan bentuk tubuhnya yang langsing. Roknya yang longgar dan memanjang sampai kemata kaki, tak bisa menyembunyikan lekuk buah pantatnya yang bergoyang naik-turun dan kekanan-kiri ketika berjalan. Didukung payudaranya yang cukup besar untuk ukuran seusianya, yang biarpun sudah ditutupi dengan baju longgar dan jilbab lebar, namun masih terlihat menonjol menggairahkan, seperti pasrah untuk diremas oleh para lelaki. Ukuran branya mungkin sekitar 34b.
Hari ini Imah terlihat sangat cantik dengan jilbab dan baju warna pink dan rok hitam panjang. Ketika melintas di depanku setelah selesai kursus, mataku segera tertuju ke bagian dada Imah, yang walaupun tertutup jilbabnya namun dari samping terlihat menonjol dan montok. Tanpa sadar gairahku naik melihat tubuh Imah. Entah darimana, timbul niat untuk memperkosa Imah.

Setelah pulang kursus pada malam harinya, kucoba untuk mengajaknya pergi makan ke warung seberang jalan. Pertama tama dia menolaknya, namun akhirnya dengan agak memaksa, aku mendapatkan persetujuannya. Saat kami berada didalam warung, hujan turun dengan lebatnya. Dengan gelisah Imah menunggu hujan reda di dalam warung. Aku justru berdoa agar hujan reda ketika malam sudah agk larut, agar Imah mau kuantarkan, karena sudah tidak ada angkot lagi. Ternyata benar. hujan baru reda pukul 21.25. kami keluar dari warung bersamaan dengan tutupnya warung itu. segera kutawarkan untuk mengantarkan Imah pulang, dengan alasan tidak ada angkot. Pertama-tama Imah menolak, karena tidak mau berboncengan dengan pria yang bukan saudaranya, dan memilih jalan kaki walalupun jauh .namun dengan seribu satu alasan dan ancaman kalau nanti dijalan ada yang menodongnya dan lain-lain, akhirnya Imah dengan sedikit berat mau menerima ajakanku.

Saat mengantarkan Imah pulang, aku berbohong dnegan mengatakan motor Tigerku ngadat dan aku pura-pura memperbaikinya sambil mengulur-ulur waktu. Gadis lugu berjilbab itu hanya bisa gelisah menunggu. Pukul 23.05, aku pura-pura telah berhasil memperbaiki tigerku. Segera aku membawa Imah yang sudah benar-benar geliash pergi. Otakku sudah mulai membayangkan kenikmatan tubuh gadis berjilbab yang semok dan menggairahkan itu. tiba-tiba hujan kembali turun, dan dengan berbohong tidak membawa mantel hujan, aku ngebut dan membawa Imah ke rumah yang kukontrak sendirian yang “kebetulan” sudah dekat.

Setelah sampai dirumahku, segera Imah kupersilahkan masuk. Rumahku yang termasuk terpencil dan jauh dari tetangga lainnya membuatku leluasa untuk menggarap Imah, pikirku. Awalnya gadis manis berjilbab itu segan dan sedikit curiga, namun karena rumahku tidak memiliki teras dan hujan semakin deras turun, terpaksa ia masuk kerumahku. Setelah kami berada didalam, segera kukunci pintu dan kudorong gadis berjilbab itu jatuh. Dengan birahi yang menggebu aku tindih dia dari belakang sambil ku tarik kedua lengannya ke belakang.

“jangan………apa yang kamu lakukan Di….”. kata Imah panik.

“tenang aja Mah, kamu bakalan enak kok….” balas ku.

Imah meronta,tapi apa daya seorang perempuan akhirnya setelah meronta selama sekitar 15 menit dia akhirnya lemas juga. Aku gosokkan kontol ku ke pantatnya yg besar, yang saat itu dibungkus rok hitam panjang dengan bahat lembut. Sambil ku remas-remas bongkahan pantatnya yang padat berisi. Wah, nikmat……..

“pantat loe kualitas nomer satu Mah…..ouuhh….semok banget!!”.

“ooohh.., ohhhh… janggaaaaannn…. jangan Di……aku teman kamu sendiri….”rintih gadis alim yang lugu itu sambil menahan tangis.

Namun aku nggak peduli. aku balik tubuh semoknya. aku robek kemeja longgarnya sampai kancingnya berhamburan lepas, dan jilbabnya kusampirkan kepundak, sehingga kulit payudaranya yang putih ranum terlihat. Kuremas-remas dengan kasar susu nya yang masih terbungkus bra pink yang dikenakannya. Gadis berjilbab itu hanya bisa meronta tanpa daya sambil merintih-rintih dan mulai menangis. Tapi aku tak peduli. Justru tangisannya membuatku semakin bernafsu.

Kutarik bra nya. Payudaranya bergoncang naik turun karena kutarik bra nya dengan paksa.aku tertegun melihat payudara gadis alim itu yg besar tapi kencang dan kenyal. Kulit payudaranya putih bersih, ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitar wilayah dadanya. Urat-urat berwarna kehijauan melintang di buah dadanya. segera kujilat dan kusedot sedot, sambil sesekali aku gigit-gigit gumpalan daging di dadanya itu. terdengar rintihan gadis alim berjilbab itu semakin keras, dan mulai dibarengi dengan desahan-desahan erotis. Nampaknya gadis alim ini mulai terangsang.

Wah asyik dan nikmat, sementara tanganku yg satunya memilin-milin puting susu Imah yang coklat kemerahan dan mulai mengeras. gadis lugu berjilbab itu ternyata benar mulai terangsang. Kutekan kedua susu nya sampai tergencet, sehingga melebar ke samping. Ku tampar-tampar kedua gunung kembarnya sampai memerah. Imah pasti merasakan panas pada kedua payudaranya saat ini.

“Aauhhh… auhh… ihhhh… ooohhhh……. ahhhhh” rintih Imah menahan geli dan nyeri pada kedua payudaranya. Kujepit puting susu sebelah kanan nya dengan kedua jariku. Kemudian kuplintir-plintir sambil kutarik-tarik keatas. Sambil kuhisap sekuat-sekuat nya, hingga putting susu gadis lugu yang alim itu mengeluarkan sedikit cairan putih yang lengket.

“ouuhh……. sakiiitt…… ampuunn……. Di…………iii……peerriiihh….” erang Imah.

Kemudian kutarik lepas rok longgarnya, ku tarik CD nya ke bawah, dan langsung ku kucek-kucek memeknya yang sudah mulai basah.

“ohhhh…. jangan Di…….kumohoooonnn…….ouuuhhhh…… .”.tubuh Imah menggelinjang hebat. Gadis alim berjilbab itu merasakan ngilu yang sangat di memeknya, namun juga disertai perasaan nikmat yang hebat. Agak lama aku mengucek-kucek memek Imah, dan akhirnya…

“Aaaaaakkkhhhhhhh……. Aihhh!!……aaiiiihh!!!……..ukhhhh ………” gadis lugu yang alim itu mengerang keras. tubuh Imah menggelinjang hebat. Punggungnya melengkung keatas. Puting susunya mengeras dan terlihat berkedut-kedut. Bersamaan dengan semua itu, cairan memeknya meluber keluar, sampai membasahi karpet di ruang tamuku. Orgasme itu nampaknya orgasme pertamanya, terlihat dari matanya yang melotot kearahku. Tatapan mata benci, namun juga terkejut dan kebingungan atas kenikmatan yang ia dapat. Setelah sekitar 1 menit tubuhnya terguncang-guncang tak terkendali oleh orgasme pertamanya, akhirnya tubuhnya melemas dan terkulai di karpetku. Tatapan matanya nanar ke langi-langit, bingung dengan yang terjadi.

Tanpa memberinya kesempatan beristirahat, Aku segera melepas Cdku. Mendekat ke wajahnya yang sayu, dan menyodorkan kontolku kedepan wajahnya. Melihat keterkejutannya, tampaknya ini pertama kali ia melihat kontol secara langsung. Kujepit klitorisnya dengan kedua jariku, kutarik dan kuperkeras jepitanku.

“aahhh..eeghhhh……….eeghhhhh….s akkkiittt…….Dii….sakk…..kitttt ……”. Imah yang masih lemas terus menggeliat mencoba melepaskan jariku.

“jilat kemudian sedot kontol gue,klo nggak gue tarik sampai lepas klitoris loe!!!!”.

Gadis berjilbab itu ketakukan, dengan terpaksa ia mulai menjilati kontolku, kemudian mulai mengulumnya.

“Waaaoooo ….. Imah mengulum kontol ku. Wah… nikmat sekali …..”.

Aku jejal kan kontol ini kemulutnya sampai masuk ke tenggorokannya, hingga ia kehabisan nafas aku tarik kontol ku dari mulutnya. Gadis alim itu terbatuk-batuk. Cairan ludahnya bercampur dengan cairan tenggorokan keluar banyak sekali, meluber membasahi mulut, dagu, pipi, bahkan sampai membasahi jilbab pink-nya. Pemandangan itu membuatku semakin bernafsu. Aku lepas cd nya yang sudah melorot sampai lutut, kemudian ku elus-elus pahanya yang putih bersih dengan bulu-bulu halus. Aku angkat paha gadis alim itu dan melebarkannya. Imah yang sudah sangat lemas karena orgasme pertamanya yang dahsyat tidak mampu banyak melawan.

Kepala ku menunduk memperhatikan memek Imah yang sudah becek, yang ditumbuhi bulu-bulu tipis. Kepala ku bergerak dan mulut ku mulai menjilati memek gadis berjilbab itu yang gemuk dan lipatan daging memeknya yang kemerahan. cairan cintanya yang gurih ikut terjilat, namun itu malah semakin membangkitkan nafsuku. Imah kembali terengah-engah merasakan kemaluannya ada yang menjilati. Hanya suara erangan gadis lugu berjilbab itu saja yang terdengar.

Sementara mulut ku menjilati memek Imah, tangan ku bergerak ke atas dan memijat-mijat payudara Imah serta mempermainkan putting susu gadis alim berjilbab itu.. Imah menggeliat antara sakit, geli dan takut. Kubuka bibir memek Imah, kemudian kumasukan jari telunjukku ke dalam liang kemaluannya. ku masuk keluarkan dengan cepat. Kukorek-korek lobang memeknya sampai lubangnya mulai terbuka agak lebar. Memek gadis berjilbab itu semakin basah akibat rangsanganku. Tiba-tiba Imah kembali menegang dan mengangkat pinggulnya dan melemah. Rupanya Gadis alim itu kembali orgasme. Dari memek Imah kembali menyembur keluar cairan memeknya yang bening dan lengket.

Ketika melihat bibir memek gadis berjilbab itu telah sangat basah, cepat-cepat Aku arahkan kontol ku yang sudah menegang dan mendekatkannya ke liang memek Imah. Langsung saja kutempelkan kepala kontolku di depan lobang memeknya, kemudian dengan sekuat tenaga ku dorong kontolku. Aku masukkan kontol ini ke memek gadis berjilbab itu, masih sulit maklum, gadis alim yang manis itu masih perawan jadinya lobang memeknya masih sangat kecil. Sambil memegangi pinggul gadis alim yang berkulit putih bersih itu, Aku menggerakkan pinggulku, dan “hup………….ooohhh”.

Walaupun dengan susah payah akhirnya kontol ku masuk amblas ke dalam memek Imah. Gadis lugu berjilbab itu menjerit kesakitan. Kurasakan kontol ku hangat dan serasa ada yang memijat-mijat. Aku mulai mengerakkan kontolku maju mundur. Tanganku memegang pundak gadis berjilbab itu sedangkan mulut ku menciumi putting susu Imah yang masih mengeluarkan cairan keputihan seperti susu itu.

Imah mengerang dan mendesah-desah sambil terus terisak. Peluhnya yang membanjir membasahi jilbab yang masih membungkus kepalanya. Wajahnya yang sayu, terlihat pasrah dan ayu dengan jilbab yang berantakan memberi kesan erotis, membuat ku semakin bergairah . Aku goyangkan kontol ku naik turun. Kutekuk kedua kakinya keatas, sehingga kedua paha gadis alim berjilbab yang putih mulus itu menyentuh payudaranya. Kupompa memek gadis alim itu naik-turun, sampai keluar darah perawannya yang mengalir membasahi bibir memek dan turun ke anus Imah ke belahan pantatnya.

“ohh ohhhh …. ohh… aakhh….. aahhh” Imah mengerang-erang kesakitan.

“Sakittt Di…… aaaakhh…. a..ku mo..hon..hen..ti…kan….. Di….” Imah terus memohon. Terdengar suaranya yang terpotong-potong karena genjotan kerasku. tapi aku tak peduli. aku terus mengebor lobang kemaluannya sambil kukulum dan kuhisap mulutnya yang mungil. air liur mengalir membasahi bibir, hidung, pipi, dan membasahi jilbabnya. kujilat dan kuhisap air liur gadis alim yang sedang kuperkosa itu dan kuteguk dengan nikmat.

Dan kuganti permainan ku. Kubalikkan tubuh gadis lugu alim yang sudah lemas dan pasrah itu. Kuposisikan tubuh telanjang Imah yang tinggal memakai jilbab itu seperti Anjing. Dari arah belakang kembali Kuhujamkan kontolku ke liang memek Imah. “hebat Mah….oooh….. memek loe rapet banget, sayaaanghhhh….”.Gerakan ku semakin cepat. Kedua tangan ku semakin kasar meremas-remas susu gadis itu.

Imah semakin mengerang-ngerang kesakitan. Tapi Aku tak peduli. Terus saja Aku maju mundurkan pinggul gadis alim yang benar-benar putih itu dengan cepat sambil menampar-nampar bongkahan pantatnya yang padat dan kenyal dengan keras. Sehingga bekas tamparanku mengecap merah membentuk telapak tangan di kulit pantat gadis alim yang putih mulus itu.

“aahhakhh……aahhkkk…. peee.. eerrii.. ii.. hhhh……. Diii…. iii…. aku ngga… taa.. haannn..”.

“Iiimm…mmaaa…hhhhh….loee…emang pantas….. jadi aan.. jii.. i. ng… oohh…. gila… enaknya.”.

“aaakkkhhh…. hhh……akhh…….. ohh…. ohh…… ouhhh” Imah terus merintih kesakitan.

Aku semakin bersemangat. Sampai akhirnya tubuh ku mengejang dan akhirnya pejuku menyembur ke dalam rahim gadis alim itu, memenuhi lobang memeknya.

“Ohhh….nikmattt………… …….gue masukin peju gue ke lobang loe…Mahhhh……” .

Setelah diam beberapa saat membiarkan kontol ku tertanam di lubang memek Imah. Sambil menikmati jepitan memek gadis alim yang otot memeknya berdenyut-denyut. Aku lepaskan kontol ku dan membalikkan tubuh Imah serta mengangkat kepala gadis itu yang masih terbungkus jilbab serta memaksa Imah menjilati kontol ku yang masih basah oleh sperma dan darah.

Setelah kontolku bersih aku tergeletak disamping Imah sambil membelai kepalanya yang masih terbungkus jilbab. Wajahnya terlihat pucat merasakan sakit pada selangkangan nya.

Aku bergegas ke kamar mandi. Aku mandi dan setelah itu aku kembali keranjang aku pandangi tubuh Imah yang dalam posisi menyamping tergolek lemah tak berdaya sambil kedua tangan memegangi selangkangannya. Tubuhnya sudah benang selembarpun, namun kepalanya masih terbungkus jilbablebarnya yang tersampir kepundak. Isak tangisnya masih terdengar, walaupun tidak sekeras tadi. Matanya yang sayu memandang nanar.

Melihat pemandangan itu tiba tiba kontol ku bereaksi lagi. setelah melihat pantat putihnya yang mulus dan padat berisi, aku langsung menindihi nya dan menciumi bibir nya dengan ganas beda dengan tadi sekarang Imah tampak pasrah menerima perlakuanku. Aku remas-remas dan kutarik-tarik susunya aku keluarkan kontolku lalu aku jejelin ke mulutnya. Gadis alim yang lugu itu kupaksa mengulum kontolku oohhh… ohhh… aku merintih keenakan merasakan surga dunia.

Kemudian kuletakkan kontolku tepat diantara kedua payudara Imah, kutekan kuat-kuat kedua susu gadis berjilbab lebar itu hingga menjepit erat kontol ku. Langsung kugerakkan kontolku maju mundur.

“uuu…. uuhhhhh…………toket loe empuk Mah………kenyal banget”.

“eeeghhh…….. ehh……. ehh……. ouuu.. hh…..”. Imah meringis kesakitan sambil kedua tangan nya berusaha melepas cengkraman tanganku pada kedua susu nya.

Kupercepat irama gerakan kontolku. Urat-urat payudara Imah terlihat sangat jelas, seperti mau keluar dari kulit payudara nya yang montok itu..

Setelah itu aku balik tubuhnya sekarang Imah dalam keadaan tengkurap, aku ciumi bongkahan pantatnya sambil ku jilat-jilat. Aku masukkan kontol ku kelubang anusnya.

“errgghhh…… oouhh… jangan… Di… aku mohon jangan disitu!!! sakiitttt……. Dii…” gadis manis alim itu terus memohon.

Perlahan kutekan kepala Imah hingga turun menyentuh lantai. Sepasang tanganku menarik pantatnya ke atas hingga gadis alim itu menungging. Melihat posisi gadis berjilbab itu yang sangat menggairahkan, aku semakin kesetanan. Imah sangat ketakutan. Aku terus mengerjai pantat gadis alim itu yang sangat putih dan montok. Sulit sekali aku buka belahan pantatnya, kemudian kujilati dubur Imah sambil kumasukan jari tengah ku ke dalam lubang anus gadis lugu yang alim itu. Ujung jariku mulai kudorong masuk ke anusnya, sakit yang amat sangat menyengat Imah.

Perlahan, aku mulai memutar-mutar jariku membuat liang anus gadis alim itu membuka menyakitkan. Aku terus mendorong dan memutar hingga akhirnya seluruh jari tengah ku masuk ke dalam anus Imah dan mulai bergerak keluar masuk. Tangan Imah meremas tempat tidur di bawahnya dengan gigi yang gemeretak, berusaha menahan sakit yang amat sangat. Aku masuk-keluarkan jariku dengan cepat, gadis berjilbab itu menggelinjang kesakitan.

“ooooohhhhhhhhh…… akhhhhhh…”Imah menjerit “sakittttttttttt……. ampun Dii…… akhhhh… ouuhh……. “.

“Yes, ini bener-bener hari keberuntungan gue, gue udah lama pengen ngerasain pantat lo Mah,”.

Gadis manis yang alim itu semakin gemetar ketakutan ketika aku berlutut di belakangnya. Tubuhnya tersentak ketika tangan ku membuka belahan pantatnya dan mulai merabainya lagi.

“aku mohon, aku mohon……jangan lakukan, aku nggak tahan sakitnya Diii……kamu sudah masukin punya mu di mulut ku dan memek ku, apakah itu ngga cukup buat kamu dii…aahhh…. argghhh…” Imah terus memohon.

Setelah lubang duburnya agak terbuka, aku masukan lagi jari telunjukku. Dengan kecepatan tinggi ku masuk-keluarkan kedua jariku didalam lubang dubur Imah. Gadis mains berjilbab itu terus meronta, sambil megap-megap menahan nafas karena kesakitan. Setelah kurasa lubang duburnya terbuka cukup lebar, kucabut kedua jariku yang berlumur darah anusnya. kemudian kumasukkan kedua jariku itu kedalam mulut Imah, kuoleskan ke lidahnya sampai kedua jariku bersih.

Kuarahkan kontolku yang menegang keras ke lobang dubur Imah yang memerah dan berkerut. Kucengkeram kepalanya yang tertutup jilbab dan kutarik dengan kencang.

“Aaakkkhhhh.. hh…… akhhhhh… ooooohhhhh….. sakiiiiiitttttttt…… Diiii”.

Rasa sakit langsung menyengat pantat Imah, ia berusaha merangkak ke depan, tapi tanganku yang di kepalanya membuatnya harus diam tak bergerak, punggung gadis alim itu melengkung menahan sakit. Pantatnya terangkat ke atas. Tangan ku di perut Imah memeganginya dan menariknya agar punggung gadis manis berjhilbab itu lurus kembali. Imah terengah-engah, Meluruskan punggungnya, dipegangi oleh tanganku, tak berdaya menunggu rasa sakit selanjutnya.

Imah menjerit dengan keras sekali ketika aku berhasil memasukkan sebagian kontolku ke dalam duburnya.Imah merasakan lubang anusnya membesar diterobos oleh kontol ku, sedangkan aku merasakan rasa panas di kepala hingga batang kontolku ketika hampir seluruhnya telah masuk ke dalam anus gadis alim yang lugu itu.

“Jangan, jangan….. Diiii…. aku mohon, sakit sekali, sakit, berhenti…. Sakiiitt…Diii……aku ngga ku…. aatttt….. aaaarrgghh….” Imah menjerit-jerit.

“Oke, sayang, gue udah masuk semua dan gue akan segera mulai pake pantat lo”.

Aku tak peduli aku paksa dan akhirnya masuk seluruhnya, kudiamkan sejenak sambil kupandangi batang kontolku yang tertanam di belahan pantat Imah.Aku goyangkan pantat putih gadis lugu yang alim itu kekanan kiri naik turun wah rasanya nikmat. Kemudian ku maju mundurkan pinggulnya, sambil kukeluar-masukkan batang kontolku dalam lobang duburnya yang sangat sempit dan kering.

“ooohhh………..oohhh…gilaa…..dubu r loe Mah……lebih sempit dari dubur ayam”.

Lubang anusnya tampak masih seret tapi itu menambah nikmat aku naik turun kan pinggangku sambil ku cengkeram pinggulnya. Gadis alim itu menarik nafas dalam-dalam, berusaha menahan sakit semampunya, tangannya mencengkeram kepalanya sendiri dan menariknya hingga menempel di atas kasur. Imah yang cantik sekarang menungging, kepala menempel di atas kasur, pantatnya di atas dengan sebuah kontol masuk di dalam anusnya. Imah merasa dirinya seperti penuh, seakan-akan dirinya ingin buang air. Gadis alim itu tidak percaya akan apa yang terjadi pada dirinya. Usahanya untuk menutupi keindahan tubuhnya dengan jilbab lebar dan pakaian longgar gagal, dan malah sekarang ia diperkosa secara brutal oleh temannya sendiri. Air matanya membanjir membasahi karpet. Air mata kemarahan, kesedihan dan kesakitan jadi satu.

“hheeeghhhhh …. ooohhh….. oooooohhhh.” kepala Imah menengadah keatas, bibirnya membentuk huruf O. membisu, karena suaranya tertahan di tenggorokannya.Kuangkat lagi ketika pinggul gadis berjilbab itu mulai turun, sehingga sekarang Imah dalam keadaan menungging dengan kokoh. Kusodok-sodok pantatnya sambil kuremas-remas susu gadis alim itu yang sangat putih dan mulus. Darah menyelimuti kontolku ketika kutarik keluar. Di iringi erangan suara Imah. Cairan anus Imah mengalir keluar bercampur darah turun ke memeknya, kemudian mengalir terus ke paha Imah yang putih mulus.

Anus Imah sangat sempit dan panas. Aku sangat menikmati jepitan anus gadis alim itu di kontolku, menikmati pijatan di kontolku. Kontol ku sebenarnya juga merasa sakit karena saking sempitnya anus Imah, tapi tanpa peduli aku kembali mulai bergerak keluar masuk. Kulihat liang anus Imah yang kupaksa kontolku masuk hingga pangkalnya, dan ketika kutarik kontol ku, Aku menikmati sekali otot-otot anus itu berdenyut memijati batang kontol ku, Sampai tinggal kepala kontol ku yang masih tertinggal di anus Imah, Kemudian kudorong lagi kontol ku masuk. Sakit semakin menjadi-jadi menyerang pantat hingga seluruh tubuh gadis lugu yang alim itu.

Setelah kurang lebih 15 menit aku menyodomi Imah, aku merasakan peju ku mau keluar. Kucengkeram leher dan kepalanya yang masih terbungkus jilbab dan menariknya kebelakang sehingga wajahnya menatapku dengan mulut menganga ke atas. Sementara tangan kiriku menekan pantatnya, kudorong kontolku sampai sedalam-dalamnya ke dalam lubang dubur Imah. Akhirnya peju ku menyembur di dalam anus gadis alim yang montok itu. Ketika cairan panas terasa mengalir masuk di anus Imah. Ia menjerit dan menjerit tanpa daya ketika sperma ku membuat anusnya semakin perih.

“Aaaaaahhhhhh…………. oouhhh…. sssshhhh…gilaaa… aaa…Maahhhh….. dubur loe gue masukin peju gue……”.

Di pantat Imah kontol ku mulai kutarik keluar perlahan. Ketika sampai dikepala kontol, aku berhenti sejenak, Dan kemudian perlahan kembali kutarik hingga terlepas seluruhnya dari jepitan anus Imah. “Uugghhhh,” gadis berjilbab itu mengerang ketika kontol ku terlepas dari jepitan anusnya. Cairan mengalir keluar dari anusnya.

Imah melihat ke belakang dan melihat di antara kedua kakinya menetes sperma kental berwarna putih dengan bercak-bercak merah dan kuning mengumpul di kasur. Tubuh gadis alim yang lugu itu bergetar dan tersungkur lemas.

Kucabut kontolku, sambil rebahan disamping tubuh Imah yang basah oleh keringatnya. Ia pingsan karena kecapaian dan merasakan sakit yang luar biasa pada kedua lobang di selangkangannya.

kejadian malam itu sempat aku abadikan dalam sebuah photo. Aku gunakan agar Imah tidak menceritakan penderitaannya kepada orang lain. Terutama ortunya. Aku rutin menyetubuhi dia, terutama menyodominya. Minimal seminggu dua sekali. Entah sudah seberapa lebar lobang anusnya sekarang. Ternyata lama kelamaan dia bisa menikmatinya, dan setiap aku menyodominya, dia juga ikut orgasme. Tentu saja itu semua tidak ia kehendaki, karena ia malu, sebagai wanita yang memakai jilbab, kenapa bisa orgasme karena sodomi.

4


Pengalamanku ini cukup menarik, dan menarik untuk disajikan sebagai Cerita Dewasa dan semoga membuat pembaca tergiur. Bagaimana tidak, 4 wanita sekaligus menikamti kontolku, demikian juga aku, kunikmati sekalian 4 memek mereka yang asyik.

Yanti mulai menciumi penisku dan mengelus buah zakarku, dan mengemutnya dan mengocoknya dengan mulutnya yang sangat imut itu. Terasa jutaan arus listrik mengalir ke tubuhku,

“Gila ini cewek pinter sekali sedotan dan kocokannya benar-benar nikmat banget,” dalam batinku. Kupegang kepalanya, kuikuti naik turunnya, sesekali kutekan kepalanya saat turun. Sesaat kemudian dia berhenti.

“Jok penis kamu lumayan besar dan panjang yach, keras lagi, aku semakin terangsang nich.”

Yanti, sebut saja demikian, sudah tiga minggu kami saling berbagi kebutuhan biologis. Yanti adalah wanita berusia 25 tahun dengan tinggi 160 cm, dan dengan dada yang amat besar 36B ukurannya, kulit putih, dengan wajah mirip wanita bangsawan.

Hubungan kami berawal pada sebuah pesta pertunangan rekan bisnis saya, aku kenalan dengannya dan menjadi akrab dengannya bahkan aku menawarkan untuk pulang bersama karena dia bosan untuk berada disana karena dia telah ditinggal oleh temannya. Yanti pun naik ke mobilku, dia tidak keberatan dengan itu, malam itu suhunya terasa amat dingin, walaupun AC sudahku matikan tapi masih terasa dingin aku juga tidak mengerti mengapa bisa terjadi seperti itu, akhirnya aku pinjami jasku untuk menutupi tubuhnya yang hanya memakai gaun putih itu. Bagiku Yanti malam itu terlihat sexy dengan gaun yang dipakainya, dia memakai gaun putih tanpa lengan, dan bra hitam yang menunjukkan kemolekan tubuhnya. Dan rambut panjangnya yang terawat dibiarkan tergerai dengan bebasnya.

Karena perutku masih terasa lapar, tadi aku cuma makan sedikit karena keasyikan ngobrol dan menikmati tubuhnya yang sexy dan bahenol itu, kuajak dia makan di sebuah restoran tapi dia menolak karena dia dirumah telah masak, jadi aku diminta untuk makan ditempatnya saja, dalam hati, ini cewek baik banget selain dia sexy dan bahenol tapi juga baik hati, setelah aku berpikir lama akhirnya aku setuju.

Singkat cerita kami sampai di rumah kontrakannya dan makanlah aku disana, selesai makan aku membereskannya, lalu dia mengajakku kekamarnya untuk menemaninya malam itu, padahal aku ingin pulang karena jam sudah menunjukkan jam 00.30. Aku mencoba untuk menolak tapi karena dia terus memohon untuk menemaninya, dan akhirnya aku pun mengiyakannya karena aku juga tidak tega kalau dia terlalu memohon kepadaku.

Kamarnya terlihat rapi dan bersih semuanya tertata rapih sekali, ya, maklum kamar cewek. Dia mengontrak untuk berempat dan teman-temanya kebetulan saat itu lagi pada keluar, maklum saat itu adalah malam minggu. Singkat cerita, dia bercerita padaku bahwa dia baru putus sama pacarnya karena cowoknya kepergok telah berbuat perselingkuhan dibelakang dia. Diapun menangis mengenang masa lalu yang teramat indah bersama sang pacar dan sekarang hanyalah tinggal kemalangan belaka dan aku coba untuk memberanikan diriku untuk memeluknya dan menenangkannya, Yanti tak menolaknya.

Setelah agak tenang, kubisikan dia bahwa malam ini kamu kelihatan cantik sekali. Yanti tersenyum dan menatapku sangat dalam, lalu aku cium bibirnya yang hangat itu dan dia membalas ciumanku dengan sangat ganasnya, lalu tangannya mulai mencari dimana adik kecikku bersembunyi. Akhirnya dia mendapatkannya dan meremas dengan lembutnya.

Kamipun berciuman dengan sangat ganasnya lalu aku mulai mencium lehernya, Yantipun mendesah,

“Aaahh geli Jok aahh.”

Mendengar itu aku semakin bernafsu, aku pun mulai meremas-remas payudaranya dari luar branya yang montok itu. Yanti mendesah lagi,

“Aaahh enak Jok terus Jok terus sstt.”

Dan dia pun menjambak rambutku. Setelah beberapa lama aku meremas payudaranya, dia mendesah dan terus berkicau, dengan permainan yang aku buat itu. Aku pun mulai melucuti gaun yang dia masih pakai, yang tersisa hanya tinggal Branya dan CD beranda merah muda, kemudian branya pun aku lepas, tampaklah jelas gunung kembar yang sangat menantang birahiku dan punting merah-kecoklatan cerah yang sudah mengeras. Kuremas payudaranya dan kuhisap puntingnya dan kugigit kecil dengan gigiku, Yanti hanya memejamkan mata sambil menikmati hisapanku itu. Aku gigit-gigit puntingnya dan dia pun mengerang dan menggelinjang keasikan,

“Jok enak Jok, teruss Jok, hisap terus aahh sstt”

Kemudian aku lanjutkan dengan menciumi perutnya kemudian aku copot CD yang masih melekat pada dirinya. WOw ternyata jembutnya tidak terlalu lembat dan rapi, rambut disekitar bibir kemaluannya bersih. Dan vaginanya tampak kencang dengan clitoris yang cukup besar dan tampak basah.

“Kamu rajin mencukur yaa,” tanyaku, dengan wajah memerah dia mengiyakan, sebab kata teman-temannya demi kesehatan vagina, dan tidak bau.

Kupangku dia dan mulai menciuminya lagi, dan sapuan lidahku mulai menjalar dari payudara kemudian puntingnya, kugigit kecil dengan gigiku, Yanti menggelinjang keasikkan dan mendesah-desah merasakan rangsangan kenikmatan,

“Ssstt terus Jok sstt.”

Tangan kananku mulai memainkan clitorisnya yang sudah banjir, kemudian kujilati klitotisnya dengan lidahku perlahan-lahan, desahan dan lenguhan makin sering kudengar. Seirama dengan sapuan lidahku klitorisnya, Yanti semakin terangsang, dia bahkan menjabak rambutku dan menekan kepalaku di klitorisnya,

“Jok, enak.. Banget.. Enak.. Jok, aahh.. Jok terus Jok jilat terus sampai dalam Jok aahh..”

Desahannya dan lenguhannya membuat aku bertambah nafsu untuk melancarkan yang lebih gila dari sebelumnya dan seketika itu juga badannya mulai mengejang dan

“Jok.. Yanti.. mau.. Keeluaar aa.. Aaahh” dan terasa sekali derasnya cairan yang mengalir dari vaginanya yang terasa asam-asam pahit tapi nikmat kemudian langsung aku jilat sampai habis dan tak tersisa. Yanti kemudian berdiri.

“Sekarang giliranku,” katanya.

Celanaku langsung dilucutinya dan akupun langsung berbaring diatas kasur yang empuk itu. Salah satu tangannya memegang penisku dan yang lain memegang buah zakarku, di mengelusnya dengan lembut.

“Mmmhh enak juga yaa penis kamu,” ceretus dia.

“Aaahh enak Yan” desahku.

Yanti mulai menciumi penisku dan mengelus buah zakarku, dan mengemutnya dan mengocoknya dengan mulutnya yang sangat imut itu. Terasa jutaan arus listrik mengalir ke tubuhku,

“Gila ini cewek pinter sekali sedotan dan kocokannya benar-benar nikmat banget,” dalam batinku. Kupegang kepalanya, kuikuti naik turunnya, sesekali kutekan kepalanya saat turun. Sesaat kemudian dia berhenti.

“Jok penis kamu lumayan besar dan panjang yach, keras lagi, aku semakin terangsang nich.”

Aku hanya tersenyum, lalu kuajak dia main 69, ternyata dia mau. Vaginanya yang banjir itu tepat diwajahku, merah dan kencang, sedang Yanti sudah mengocok penisku. Aku semakin bernafsu untuk memainkan vaginanya yang semakin menantang aja, tercium wangi yang khas pada sekitar vaginanya yang sangat aku sukai sekali pada wanita, dan clitorisnya sampai memerah dan kuhisap yang sudah keluar untuk kedua kalinya.

Tiba-tiba aku kaget ketika aku melihat ke arah pintu yang tidak begitu rapat ditutupnya dan aku semakin kaget ketika ternyata teman-temannya sudah melihat semua permainan yang sedang kami lakukan. Salah satu dari dia celetuk,

“Yan main kok tidak ngajak-ngajak sih kita kan juga mau,”

Dan ternyata setelah aku ketahui namanya Yeni (24), tampa disangka mereka langsung membuka baju dan celana mereka dan seketika itu pula mereka sudah keadaan bugil. Aku semakin kelabakan karena diserang dari berbagai arah. Aku mulai memasukkan penisku ke vagina Yanti, walaupun pertama kali terasa sempit sekali jadi aku agak kesulitan memasukannya dan setelah beberapa lama aku berusaha, akhirnya aku dapat masuk setengah dan Yanti menjerit menahan sakit yang tiada tara. Tanpa aku duga ternyata ada sedikit darah mengalir di sekitar vaginanya, ternyata dia masih perawan batinku. Yanti makin mengejang sambil mendesis seperti ular, sedangkan Yeni yang tidak kalah montok dan juga payuadarannya paling besar dari pada Yanti.

Yanti pun memainkan puntingnya Dewi(24, 38), sedangkan Ati (25, 36b) memainkan vaginanya Dewi. Mereka saling mendesah membuat suasana semakin panas saja. Aku sendiri semakin cepat memainkan penisku, desahan Yanti pun semakin kencang saja bersamaan dengan kecepatan goyanganku yang semakin cepat dan Yanti semakin menikmati permainanku dan dia pun semakin mengimbangi permainanku.

“Aaahh enak Jok, terus Jok, lebih dalam lagi Jok,” celotehnya aku semakin cepat dan ketika itu juga badan dia mulai mengejang bertanda dia mau orgasme. Tidak berapa lama dia,
“Jok aku ingiin keluar” dan ketika itu juga keluarlah cairan yang ketiga kalinya dengan banyak sekali dan Yanti terlihat lemas dan langsung tergeletak disampingku, tapi penisku masih tegak bagaikan mau menantang kenikmatan.

Yeni pun langsung mengambil penisku yang masih tegak itu ke dalam vaginanya ternyata sama sempitnya dengan Yanti, aku sedikit kaget karena ada sedikit darah mengalir dari vaginanya dan ternyata Yeni pun masih perawan juga batinku, perlahan kugoyang penisku, maju mundur, dan semakin keras aku mengenjotnya dan jeritanya panjang dan seketika itu juga badannya mulai mengejang yang berarti dia mau orgasme, aku pun semakin mempercepat gerakan penisku dan Yeni pun menjerit panjang,

“Jok.. Aku keeluuar aahh” dan seketika itu pula dia roboh disampingku sedangkan aku masih belum sampai puncaknya.

Aku raih tangannya Dewi dan langsung aku mainkan vaginanya dengan lidahku dan terus aku mainkan sampai diapun mendesah dengan keras. Sedangkan Ati memainkan puyudara Dewi yang sudah mengeras. Aku pun mulai memasukkan penisku ke vagina Dewi yang ternyata sempit juga tapi untung vaginanya sudah basah jadi tidak terlalu sulit. Dan ketika baru masuk setengah ada darah yang mengalir pada vaginanya dalam batin ternyata semuanya masih pada perawan dalam batinku, perlahan kugoyang penisku maju mundur membentuk angka 8, rintihan kesakitan berubah menjadi desahan kenikmatan.

Sedangkan Ati menjilati payudara Dewi dengan nafsunya dan sekali-kali Ati mencium bibirku dengan garangnya, saat kau berada diatas Dewi, kujilati payudaranya yang memerah dan Dewi tidak bisa menjerit karena bibirnya sudah disumpel dengan mulutnya Ati yang dari tadi sudah mencium bibirnya Dewi dengan garang dan kelihatan sudah bernafsu itu.

Aku mulai menekannya dengan nafsu dan tentunya dann tentunya penisku masih ada didalam vaginanya Dewi yang sangat nikmat itu.

“Ooohh nikmat sekali rasanya”, dia menjerit “Ssshh”, seperti ular yang sedang mendekati mangsanya. Dan kupercepat lagi goyanganku dan semakin cepat aku mengocoknya semakin keras dia menjerit kenikmatan dan seketika itu juga,

“Aaahh aku mau keeluuarr Jok, kau juga ingin keluar, kita keluarin bareng aja yaa, aahh”

Crot.. Crot.. Crot hampir bersamaan, begitu nikmatnya permain malam ini dan akupun langsung tertidur lemas karena sudah bermain dengan tiga wanita sekaligus, setelah 3 jam aku tertidur aku merasakan ada yang mengemut penisku dengan lebutnya dan setelah aku membuka mataku ternyata Ati yang belum mendapatkan jatahnya. Langsung kucium bibirnya denga bernafsu dan dia langung meminta aku untuk memasukkan penisku ke vaginanya yang ternyata sudah banjir dari tadi. Aku mencoba untuk memainkan vaginanya dan tanpa kuduga ternyata Ati telah meraih penisku dan langsung membimbingku memasuki vaginanya.

Disaat menyentuh bibir vaginanya dia mengerang kenikmatan dan akupun langsung memasukkannya dan ternyata sudah tidak begitu sempit dibandingkan dengan tiga temannya dan tanpa banyak hambatan aku mulai menggenjot dengan cepat dan terasa sekali ada yang terasa yang berdenyut-denyut di vaginanya yang berarti menandakan dia mau orgasme dan aku semakin mempercepat goyanganku dan seketika itu pula.

“Aaahh Jok, aku mau keeluuaarr sstt”

Keluarlah cairan yang sangat banyak itu dan dia langsung lemas dan ternyata mereka berempat langsung bangun dan langsung memburu aku dengan sangat garangnya, dan saat itu jam 05.30 pagi, kami berlima mandi bareng dan disaat mandipun kami masih sempat bermain walaupun hanya sebentar karena waktunya sudah tidak memungkinkan untuk bermain lama.

“Makasih yaa Jok, kamu memang hebat walaupun tubuh kamu tidak gemuk(kurus), tapi stamina kamu kuat sekali, aku jadi ingin sekali mengulangnya.”

Tapi aku harus berangkat kerja, setelah kejadian itu aku masih sering bermain dengan mereka kadang aku bermain hanya berdua, kadang berempat, kadang bertiga, kadang juga langsung berlima. Tapi hampir sudah sebulan ini, aku tidak tahu kemana mereka dan tidak pernah ketemu lagi bahkan saat aku ke kontrakannya ternyata dia sudah pindah entah kemana dan aku hubungin lewat HP tak pernah aktif, aku merindukan saat itu.


Pertemanan akrabku dengan Cindy karena ia adalah cucu dari ibu kostku. Cindy lebih tua 2 tahun dan dia anak Surabaya, sedang kuliah di Bandung hanya beda kampus denganku. Yang aku tahu, kedua orangtuanya sudah pisah ranjang selama dua tahun (tapi tidak bercerai) dan Cindy ikut tinggal bersama neneknya (ibu kostku) ketika ia masuk kuliah. Mungkin terlalu panjang kalo kuceritakan bagaimana prosesnya hingga kami berpacaran. Aku beruntung punya cewek seperti dia yang wajahnya sangat cantik (pernah dia ditawarin untuk menjadi model), segala yang diidamkan pria melekat pada dia. Kulitnya yang putih, hidung bangir, matanya yang indah dan bening, rambut ikal serta tubuhnya yang sexy padat.. Aku juga nggak tahu kenapa ibu kost menerimaku untuk nge-kost dirumahnya padahal yang kost di rumahnya adalah cewek semua. Mungkin karena ngeliat tampangku seperti orang baik-baik kali ya (hehehe)…
cerita sex,cerita dewasa,cerita mesum,cerita ngentot

Pada awal kami berpacaran, Cindy termasuk pelit untuk urusan mesra-mesraan. Jangankan untuk berciuman, minta pegang tangannya saja susahnya minta ampun, ga terbayang deh untuk bisa ngentot dia hehehe… ! Padahal aku termasuk orang yang hypersex, dan aku sering kali melakukan onani untuk melampiaskan nafsu seksku, hingga sekarang. Aku bisa melakukan onani sampai tiga kali sehari. Setiap kali fantasi dan gairah seksku datang, pasti kulakukan kebiasaan jelekku itu. Entah dikamar mandi menggunakan sabun, sambil nonton VCD porno dan seringnya sambil tiduran telungkup di atas kasur sambil kugesek-gesekkan penisku. Aku merasakan nikmat setiap orgasme onani. Back to story, sejak aku dan Cindy resmi jadian, baru dua minggu kemudian dia mau kucium pipinya. Itu pun setelah melalui perdebatan yang panjang, akhirnya ia mau juga kucium pipinya yang mulus itu, dan aku selalu ingin merasakan dan mengecup lagi sejak saat itu.

Hingga pada suatu malam, ketika waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh, aku, Cindy dan Desi (anak kost yang lain) masih asyik menonton TV di ruang tengah. Sementara ibu kostku serta 3 anak kost yang lain sudah pergi tidur. Kami bertiga duduk diatas permadani yang terhampar di ruang tengah. Desi duduk di depan sementara aku dan Cindy duduk agak jauh dibelakangnya. Lampu neon yang menyinari ruangan selalu kami matikan kalau sedang menonton TV. Biar tidak silau kena mata maksudnya. Atau mungkin juga demi menghemat listrik. Yang jelas, cahaya dari TV agak begitu samar dan remang-remang. Desi masih asyik menonton dan Cindy yang disampingku saat itu hanya mengenakan kaos ketat dan rok mini matanya masih konsen menonton film tersebut. Sesekali saat pandangan Desi tertuju pada TV, tanganku iseng-iseng memeluk pinggang Cindy. Entah Cindy terlalu memperhatikan film hingga tangannya tidak menepis saat tanganku memeluk tubuhnya yang padat. Dia malah memegang rambutku, dan membiarkan kepalaku bersandar di pundaknya. Terkadang kalo pas iklan, Cindy pura-pura menepiskan tanganku agar perbuatanku tidak dilihat Desi. Dan saat film diputar lagi, kulingkarkan tanganku kembali.

“I love you, honey….” Bisikku di telinganya.
Cindy menoleh ke arahku dan tanpa sepengetahuan Desi, ia mendaratkan ciumannya ke pipiku. Oh my God, baru pertama kali aku dicium seorang cewek, tanpa aku minta pula. Situasi seperti ini tiba-tiba membuat pikiranku jadi ngeres apalagi saat Cindy meremas tanganku yang saat itu masih melingkar di pinggangnya, dan matanya yang sayu sekilas menoleh ke arah Desi yang masih nongkrong di depan TV. Aman, pikirku.Apalagi ditambah ruangan yang hanya mengandalkan dari cahaya Tv, maka sesekali tanganku meremas payudara Cindy. Cindy menggelinjang, sesekali menahan nafas. Lutut kanannya ditekuk, hingga saat tangan kiriku masuk ke dalam daster bagian bawah yang agak terbuka dari tadi, sama sekali tidak diketahui Desi. Mungkin ia konsen dengan film, atau mungkin juga ia sudah ngantuk karena kulihat dari tadi sesekali ia mengangguk seperti orang ketiduran.

Ciumanku kini sedikit menggelora, menelusuri leher Cindy yang putih mulus sementara tangan kiriku menggesek-gesekkan perlahan vagina Cindy yang masih terbungkus celana dalam. Ia mendesah dan mukanya mendongak ke atas saat kurasakan celana dalamnya mulai basah dan hangat. Mungkin ia merasakan kenikmatan, pikirku.Tanganku yang mulai basah oleh cairan vagina Cindy buru-buru kutarik dari dalam roknya, ketika tiba-tiba Desi bangkit dan melihat ke arah kami berdua. Kami bersikap seolah sedang konsen nonton juga.

“Aku ngantuk. Tidur duluan ya….. nih remote-nya!” ujar Desi sambil menyerahkan remote TV pada Cindy.
Desi kemudian masuk ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Aku yang tadi agak gugup, bersorak girang ketika Desi hanya pamitan mau tidur. Aku pikir dia setidaknya mengetahui perbuatanku dengan Cindy. Bisa mati aku. Cindy yang sejak tadi diam (mungkin karena gugup juga) matanya kini tertuju pada TV. Aku tahu dia juga pura-pura nonton, maka saat tubuhnya kupeluk dan bibirnya kucium dia malah membalas ciumanku.

“Kita jangan disini Say, nanti ketahuan….” Bisiknya diantara ciuman yang menggelora.
Segera kubimbing tangan Cindy bangkit, setelah mematikan TV dan mengunci kamar Cindy, kuajak dia ke kamar sebelah yang kosong. Disini tempatnya aman karena setiap yang akan masuk ke kamar ini harus lewat pintu belakang atau depan. Jalan kami berjingkat supaya orang lain yang telah tertidur tidak mendengar langkah-langkah kami atau ketika kami membuka dan menutup kunci dan pintu kamar tengah dengan perlahan.

Setelah kukunci dari dalam dan kunyalakan lampu kamar kuhampiri Cindy yang telah duduk di tepi ranjang.
“Aku cinta kamu, Cindy…..” ujarku ketika aku telah duduk disampingnya.
Mata Cindy menatapku lekat.. Sejenak kulumat bibirnya perlahan dan Cindy pun membalas membuat lidah kami saling beradu. Nafas kami kembali makin memburu menahan rangsangan yang kian menggelora. Desahan bibirnya yang tipis makin mengundang birahi dan nafsuku. Kuturunkan ciumanku ke lehernya dan tangannya menarik rambutku. Nafasnya mendesah. Aku tahu dia sudah terangsang, lalu kulepaskan kaosnya. Payudaranya yang padat berisi ditutupi BH berwarna merah tua. Betapa putih kulitnya, mulus tak ada cacat. Kemudian bibir kami pun berciuman kembali sementara tanganku sibuk melepaskan tali pengikat BH, dan sesaat kemudian kedua payudaranya yang telah mengeras itu kini tanpa ditutupi kain sehelai pun.

Kuusap kedua putingnya, dan Cindy pun tersenyum manja.
“Ayo Yan, lakukanlah….” Ujarnya.
Tak kusia-siakan kesempatan ini, dan mulai kujilati payudaranya bergantian. Sementara tangan Cindy membantu tanganku melepaskan kemeja yang masih kukenakan. Kukecup putingnya hingga dadanya basah mengkilap. Betapa beruntungnya aku bisa menikmati semua yang ada ditubuhnya. Tangan kananku yang nakal mulai merambah turun masuk ke dalam roknya, dan kugesek-gesekkan pelan di bibir vaginanya. Cindy menggelinjang menahan nikmat, sesekali tangannya juga ikut digesek-gesekkan kesekitar vaginanya sendiri.

Bibirnya mendesah menahan kenikmatan. Matanya terpejam, Sebentar kemudian vaginanya mulai sedit basah. Dan kami pun mulai melepaskan celana kami masing-masing hingga tubuh kami benar-benar polos. Betapa indahnya tubuh Cindy, apalagi ketika kulihat vaginanya yang terselip diantara kedua selangkangannya yang putih mulus.
“Wah.. punyamu oke Cindy, Ok’s banget…” ujarku terpana
Begitu mulus memang,ditambah dengan bulu-bulu lebat disekitar bagian sensitifnya.
“Burungmu juga besar dan bertenaga. Aku suka Yan….” Balasnya sambil tangannya mencubit pelan kemaluanku yang sudah tegak dari tadi.
“Come on Honey….” Pintanya menggoda.

Aku tahu Cindy sudah begitu terangsang maka kemudian kusuruh Cindy berbaring di atas kasur. Dan aku baringkan tubuhku terbalik, kepalaku berada di kakinya dan sebaliknya(posisi 69). Kucium ujung kakinya pelan dan kemudian ciumanku menuju hutan lebat yang ada diantara kedua selangkangannya. Kukecup pelan bibir vaginanya yang sudah basah, kujilat klitorisnya sementara mulut Cindy sibuk mengocok-ngocok kemaluanku. Bibir vaginanya yang merah itu kulumat habis tak tersisa. Ehm, betapa nikmatnya punyamu Cindy, pikirku. Ciumanku terus menikmati klitoris Cindy, hingga sekitar vaginanya makin basah oleh cairan yang keluar dari vaginanya.

Kedua jari tanganku aku coba masukkan lubang vaginanya dan kurasakan nafas Cindy mendesah pelan ketika jariku kutekan keluar masuk.
“Ahh… nikmat Yannn…ahhhh…” erangnya.
Kugesek-gesekkan kedua jariku diantara bibir klitorisnya dan Cindy makin menahan nikmat. Selang 5 menit kemudian kuhentikan gesekkan tanganku, dan kulihat Cindy sedikit kecewa ketika aku menghentikan permainan jariku.
“Jangan sedih Say, aku masih punya permainan yang menarik, okay?”
“Oke. Sekarang aku yang mengatur permainan ya?” ujarnya.
Aku mengangguk.Jujur saja, aku lebih suka kalau cewek yang agresif.Cindy pun bangkit, dan sementara tubuhku masih terbaring di atas kasur.
“Aku di atas, kamu dibawah, okay? Tapi kamu jangan nusuk dulu ya Say?”
Tanpa menunggu jawabanku tubuh Cindy menindih tubuhku dan tangan kanannnya membimbing penisku yang telah berdiri tegak sejak tadi dan blessss…….ah,Cindy merasa bahagia saat seluruh penisku menembus vaginanya dan terus masuk dan masuk menuju lubang kenikmatan yang paling dalam. Dia mengoyang-goyangkan pantatnya dan sesekali gerakannya memutar, bergerak mundur maju membuat penisku yang tertanam bergerak bebas menikmati ruang dalam “gua”-nya.

Cindy mendesah setiap kali pantatnya turun naik, merasakan peraduan dua senjata yang telah terbenam di dalam surga.Tanganku meremas kedua payudara Cindy yang tadi terus menggelayut manja. Rambutnya dibiarkan tergerai diterpa angin dingin yang terselip diantara kehangatan malam yang kami rasakan saat ini. Kubiarkan Cindy terus menikmati permainan ini. Saat dia asyik dengan permainannya kulingkarkan tanganku dipinggangnya dan kuangkat badanku yang terbaring sejak tadi kemudian lidah kami pun beradu kembali.
“Andainya kita terus bersama seperti ini, betapa bahagianya hidupku ini Cindy ” bisikku pelan
“Aku juga, dan ku berharap kita selalu bersama selamanya..”

Sepuluh menit berlalu, kulihat gesekan pinggang Cindy mulai lemah. Aku tahu kalau dia mulai kecapekan dan aku yang mengambil inisiatif serangan. Kutekan naik turun pinggangku, sementara Cindy tetap bertahan diam. Dan suara cep-clep-clep… setiap kali penisku keluar masuk vaginanya.
“Ahh terusss Yannnnn….terusss…nikmattttt…ahh…ahhhh….” hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Cindy, dan aku pun makin menggencarkan seranganku.
Ingin kulibas habis semua yang ada dalam vaginanya. Suara ranjang berderit, menambah hot permainan yang sedang kami lakukan. Kutarik tubuh Cindy tanpa melepaskan penisku yang sedang berlabuh dalam vaginanya dan kusuruh dia berdiri agar kami melakukan gerakan sex sambil berdiri.
“Kamu punya banyak style ya say?” katanya menggoda.
“Iya dong, demi kepuasan kamu juga” jawabku sambil mulai menggesek-gesekan pebisku kembali.
“Ahh teruss…terusss……” desah Cindy ketika penisku berulang kali menerobos vaginanya.

Kupeluk tubuh Cindy erat sementara jari tangan kirinya membelai lembut bulu-bulu vaginanya, dan sesekali membantu penisku masuk kembali setiap kali terlepas. Keringat membasahi tubuh kami. Lehernya yang mulus kucium pelan, sementara nafas kami mulai berdegup kencang.
“Yan, keteteran nih, mau klimaks. Jangan curang dong….”
“Oke, tahan dulu Cindy” dan kucabut batang penisku yang telah basah sejak tadi.
Kusuruh Cindy nungging di ranjang, sementara tanganku mengarahkan penisku yang telah siap masuk kembali. Dan kumasukkan sedikit demi sedikit hingga penisku ambles semua ke dalam surga yang nikmat.
“Ah…tekan Yan…enaaaakkkkk…terusssss Yannn….” Erangnya manja setiap kali penisku menari-nari di dalam vaginanya.
Tanganku memegang pinggangnya agar gerakanku teratur dan penisku tidak terlepas,.
“Ohh…nikmat sekali Yan….teruss….terusss……” desahnya.
Betapa nikmatnya saat-saat seperti ini…dan terus kuulang sementara mulut kami mendesah merasakan kenikmatan yang teramat sangat setiap kali penisku mempermaikan vaginanya.
“Yan….aku mo keluar nih…..udah ngga tahan….ahhh….ahhhh….” ujar Cindy tiba-tiba.
“Tahan Cin, aku juga hampir sampai….” aku menekan-nekan penisku kian cepat,sehingga suara ranjang ikut berderit cepat.
Dan kurasakan otot-otot penisku mengejang keras dan cairan spermaku berkumpul dalam satu titik.

“Aku keluar sekarang Cin….” penisku kucabut dari lubang vaginanya dan Cindypun seketika membalikkan badan dan menjulurkan lidahnya, mengocok-ngocok batang penisku yang kemerahan dan saat kurasakan aku tak mampu menahan lagi kutaruh penisku diantara kedua belah payudaranya dan kedua tangan Cindy pun menggesek-gesekkan payudaranya yang menjepit batang kemaluanku dan….croott…crooottt… spermaku jatuh disekitar dada dan lehernya Sebagian tumpah diatas sprei. Cindy menjilati penisku membersihkan sisa-sisa spermaku yang masih ada.
“Kamu ternyata kuat juga Say, aku hampir tak berdaya dihadapanmu” kubelai rambut Cindy yang sudak acak-acakan tak karuan.
“Aku juga ngga nyangka kamu sehebat ini Yan….”desahnya manja .

Waktu sudah menunjukkan setengah satu malam Dan setelah kami istirahat sekitar lima belas menit, kami memakai pakaian kami kembali dan membereskan tempat tidur yang sudah berantakan. Dan tak lama kemudian kami pun pergi tidur dikamar masing-masing melepaskan rasa lelah setelah kami ‘bermain” tadi.

Begitulah kisahku dengan Cindy, setiap hari kami selalu melakukannya setiap kali kami ingin dan ada kesempatan. Kami melakukannya di kamar sebelah kalau malam hari, kamar kostku, atau bahkan dikamar mandi (sambi mandi bareng disaat rumah kost kosong hanya ada kami berdua).

Hingga pada suatu hari Cindy harus pindah ke luar kota ikut kedua orang tuanya yang telah berbaikan lagi. Aku benar-benar kehilangan dia, dan ingin kuterus bersamanya. Pernah beberapa kali kususul ke tempatnya yang baru dan kami melakukannya berkali-kali di hotel tempat kami menginap. Tanggal 27 November 1998, tiba-tiba kuterima surat dari Cindy yang mengabarkan bahwa ia akan menikah dengan orang yang dipilihkan orang tuanya dan aku benar-benar kehilangan dia, aku sungguh sabgat mencintai dia….. Sekarang, setiap kali aku melakukan masturbasi, fantasiku selalu melayang mengingat saat-saat terindah kami melakukan hubungan seks pertama kali dikamar sebelah itu. Ingin rasanya aku ulangi saat-saat indah itu…

Lia


Hari ini seperti biasa aku perhatikan istriku sedang bersiap untuk berangkat kerja, sementara aku masih berbaring. Istriku memang harus selalu berangkat pagi, tidak seperti pekerjaanku yang tidak mengharuskan berangkat pagi. Tidak lama kemudian aku perhatikan dia berkata sesuatu, pamitan, dan perlahan meninggalkan rumah. Sementara aku bersiap kembali untuk tidur, kembali kudengar suara orang mendekat ke arah pintu kamar. Tetapi langsung aku teringat pasti pembantu rumah tangga kami, Lia, yang memang mendapat perintah dari istriku untuk bersih-bersih rumah sepagi mungkin, sebelum mengerjakan yang lain. Lia ini baru berumur 17 tahun, dengan tinggi badan yang termasuk pendek namun bentuk tubuhnya sintal. Aku hanya perhatikan hal tersebut selama ini, dan tidak pernah berfikir macam-macam sebelumnya. Tidak berapa lama dari suara langkah yang kudengar tadi, Lia pun mulai tampak di pintu masuk, setelah mengetuk dan meminta izin sebentar, ia pun masuk sambil membawa sapu tanpa menunggu izin dariku. Baru pagi ini aku perhatikan pembantuku ini, not bad at all. Karena aku selalu tidur hanya dengan bercelana dalam, maka aku pikir akan ganggu dia. Dengan masih pura-pura tidur, aku menggeliat ke samping hingga selimutku pun tersingkap. Sehingga bagian bawahku sudah tidak tertutup apapun, sementara karena bangun tidur dan belum sempat ke WC, kemaluanku sudah mengeras sejak tadi. Dengan sedikit mengintip, Lia berkali-kali melirik kearah celana dalamku, yang didalamnya terdapat ‘Mr. Penny’ku yang sudah membesar dan mengeras. Namun aku perhatikan dia masih terus mengerjakan pekerjaannya sambil tidak menunjukkan perasaannya. Setelah itu dia selesai dengan pekerjaannya dan keluar dari kamar tidur. Akupun bangun ke kamar mandi untuk buang air kecil. Seperti biasa aku lepas celana dalamku dan kupakai handuk lalu keluar mencari sesuatu untuk minum. Kulihat Lia masih meneruskan pekerjaannya di ruang lain, aku rebahkan diriku di sofa depan TV ruang keluarga kami. Sejenak terlintas untuk membuat Lia lebih dalam menguasai ‘pelajarannya’. Lalu aku berfikir, kira-kira topik apa yang akan aku pakai, karena selama ini aku jarang sekali bicara dengan dia. Sambil aku perhatikan Lia yang sedang sibuk, aku mengingat-ingat yang pernah istriku katakan soal dia. Akhirnya aku ingat bahwa dia memiliki masalah bau badan. Dengan tersenyum gembira aku panggil dia dan kuminta untuk berhenti melakukan aktivitasnya sebentar. Lia pun mendekat dan mengambil posisi duduk di bawah. Duduknya sangat sopan, jadi tidak satupun celah untuk melihat ‘perangkatnya’. Aku mulai saja pembicaraanku dengannya, dengan menanyakan apakah benar dia mempunyai masalah BB. Dengan alasan tamu dan relasiku akan banyak yang datang aku memintannya untuk lebih perhatian dengan masalahnya. Dia hanya mengiyakan permintaanku, dan mulai berani mengatakan satu dua hal. Semakin baik pikirku. Masih dengan topik yang sama, akupun mengajaknya ngobrol sejenak, dan mendapat respon yang baik. Sementara dudukku dengan sengaja aku buat seolah tanpa sengaja, sehingga ‘Mr. Penny’ku yang hanya tertutup handuk akan terlihat sepenuhnya oleh Lia. Aku perhatikan matanya berkali-kali melirik ke arah ‘Mr. Penny’ku, yang secara tidak sengaja mulai bangun. Lalu aku tanyakan apa boleh mencium BB-nya, sebuah pertanyaan yang cukup mengagetkannya, selain karena pertanyaan itu cukup berani, juga karena matanya yang sedang melirik ke ‘anu’ ku. Untuk menutupi rasa malunya, diapun hanya mengangguk membolehkan. Aku minta dia untuk mendekat, dan dari jarak sekian centimeter, aku mencoba mencium BBnya. Akalku mulai berjalan, aku katakan tidak begitu jelas, maka dengan alasan pasti sumbernya dari ketiaknya, maka aku minta dia untuk menunjukkan ketiaknya. Sejenak dia terdiam, mungkin dipikirnya, apakah ini harus atau tidak. Aku kembali menyadarkannya dengan memintanya kembali memperlihatkan ketiaknya. Melihat tatapannya aku mengerti bahwa dia tidak tahu apa yang harus dikerjakannya untuk memenuhi permintaanku. Maka aku dengan cepat menuntunnya agar dia tidak bingung akan apa yang harus dilakukan. Dan aku katakan, naikkan saja baju kaosnya sehingga aku dapat memeriksa ketiaknya, dan aku katakan jangan malu, toh tidak ada siapapun di rumah. Perlahan diangkatnya baju kaosnya dan akupun bersorak gembira. Perlahan kulit putih mulusnya mulai terlihat, dan lalu dadanya yang cukup besar tertutup BH sempit pun mulai terlihat. ‘Mr. Penny’ku langsung membesar dan mengeras penuh. Setelah ketiaknya terlihat, akupun memberi perhatian, kudekatkan hidungku terlihat bulu ketiaknya cukup lebat. Setelah dekat aku hirup udara sekitar ketiak, baunya sangat merangsang, dan akupun semakin mendekatkan hidungku sehingga menyentuh bulu ketiaknya. Sedikit kaget, dia menjauh dan menurunkan bajunya. Lalu aku katakan bahwa dia harus memotong bulu ketiaknya jika ingin BBnya hilang. Dia mengangguk dan berjanji akan mencukurnya. Sejenak aku perhatikan wajahnya yang tampak beda, merah padam. Aku heran kenapa, setelah aku perhatikan seksama, matanya sesekali melirik ke arah ‘Mr. Penny’ku. Ya ampun, handukku tersingkap dan ‘Mr. Penny’ku yang membesar dan memanjang, terpampang jelas di depan matanya. Pasti tersingkap sewaktu dia kaget tadi. Lalu kuminta Lia kembali mendekat, dan aku katakan bahwa ini wajar terjadi, karena aku sedang berdekatan dengan perempuan, apalagi sedang melihat yang berada di dalam bajunya. Dengan malu dia tertunduk. Lalu aku lanjutkan, entah pikiran dari mana, tiba-tiba aku memuji badannya, aku katakan bahwa badannya bagus dan putih. Aku juga mengatakan bahwa bibirnya bagus. Entah keberanian dari mana, aku bangun sambil memegang tangannya, dan memintanya berdiri berhadapan. Sejenak kami berpandangan, dan aku mulai mendekatkan bibirku pada bibirnya. Kami berciuman cukup lama dan sangat merangsang. Aku perhatikan dia begitu bernafsu, mungkin sudah sejak tadi pagi dia terangsang. Tanganku yang sudah sejak tadi berada di dadanya, kuarahkan menuju tangannya, dan menariknya menuju sofa. Kutidurkan Lia dan menindihnya dari pinggul ke bawah, sementara tanganku berusaha membuka bajunya. Beberapa saat nampaknya kesadaran Lia bangkit dan melakukan perlawanan, sehingga kuhentikan sambil membuka bajunya, dan aku kembali mencium bibirnya hingga lama sekali. Begitu Lia sudah kembali mendesah, perlahan tangan yang sejak tadi kugunakan untuk meremas dadanya, kuarahkan ke belakang untuk membuka kaitan BHnya. Hingga terpampanglah buah dadanya yang berukuran cukup besar dengan puting besar coklat muda. Lumatan mulutku pada buah dadanya membuatnya sudah benar-benar terangsang, sehingga dengan mudah tanganku menuju ke arah ‘Veggy’nya yang masih bercelana dalam, sedang tanganku yang satunya membawa tangannya untuk memegang ‘Mr. Penny’ku. Secara otomatis tangannya meremas dan mulai naik turun pada ‘Mr. Penny’ku. Sementara aku sibuk menaikkan roknya hingga celana dalamnya terlihat seluruhnya. Dan dengan menyibakkan celana dalamnya, ‘Veggy’nya yang basah dan sempit itupun sudah menjadi mainan bagi jari- jariku. Namun tidak berapa lama, kurasakan pahanya menjepit tanganku, dan tangannya memegang tanganku agar tidak bergerak dan tidak meninggalkan ‘Veggy’nya. Kusadari Lia mengalami orgasme yang pertama Setelah mereda, kupeluk erat badannya dan berusaha tetap merangsangnya, dan benar saja, bebrapa saat kemudian, nampak dirinya sudah kembali bergairah, hanya saja kali ini lebih berani. Lia membuka celana dalamnya sendiri, lalu berusaha mencari dan memegang ‘Mr. Penny’ku. Sementara secara bergantian bibir dan buah dadanya aku kulum. Dan dengan tanganku, ‘Veggy’nya kuelus-elus lagi mulai dari bulu-bulu halusnya, bibir ‘Veggy’nya, hingga ke dalam, dan daerah sekitar lubang pantatnya. Sensasinya pasti sungguh besar, sehingga tanpa sadar Lia menggelinjang-gelinjang keras. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan, bibirku pindah menuju bibirnya, sementara ‘Mr. Penny’ku ku dekatkan ke bibir ‘Veggy’nya, ku elus-elus sebentar, lalu aku mulai selipkan pada bibir ‘Veggy’ pembantuku ini. Sudah seperti layaknya suami dan istri, kami seakan lupa dengan segalanya, Lia bahkan mengerang minta ‘Mr. Penny’ku segera masuk. Karena basahnya ‘Veggy’ Lia, dengan mudah ‘Mr. Penny’ku masuk sedikit demi sedikit. Sebagai wanita yang baru pertama kali berhubungan badan, terasa sekali otot ‘Veggy’ Lia menegang dan mempersulit ‘Mr. Penny’ku untuk masuk. Dengan membuka pahanya lebih lebar dan mendiamkan sejenak ‘Mr. Penny’ku, terasa Lia agak rileks. Ketika itu, aku mulai memaju mundurkan ‘Mr. Penny’ku walau hanya bagian kepalanya saja. Namun sedikit demi sedikit ‘Mr. Penny’ku masuk dan akhirnya seluruh batangku masuk ke dalam ‘Veggy’nya. Setelah aku diamkan sejenak, aku mulai bergerak keluar dan masuk, dan sempat kulihat cairan berwarna merah muda, tanda keperawanannya telah kudapatkan. Erangan nikmat kami berdua, terdengar sangat romantis saat itu. Lia belajar sangat cepat, dan ‘Veggy’nya terasa meremas-remas ‘Mr. Penny’ku dengan sangat lembut. Hingga belasan menit kami bersetubuh dengan gaya yang sama, karena ku pikir nanti saja mengajarkannya gaya lain. ‘Mr. Penny’ku sudan berdenyut-denyut tanda tak lama lagi aku akan ejakulasi. Aku tanyakan pada Lia, apakah dia juga sudah hampir orgasme. Lia mengangguk pelan sambil terrsenyum. Dengan aba-aba dari ku, aku mengajaknya untuk orgasme bersama. Lia semakin keras mengelinjang, hingga akhinya aku katakan kita keluar sama-sama. Beberapa saat kemudian aku rasakan air maniku muncrat dengan derasnya didalam ‘Veggy’nya yang juga menegang karena orgasme. Lia memeluk badanku dengan erat, lupa bahwa aku adalah majikannya, dan akupun melupakan bahwa Lia adalah pembantuku, aku memeluk dan menciumnya dengan erat. Dengan muka sedikit malu, Lia tetap tertidur disampingku di sofa tersebut. Kuperhatikan dengan lega tidak ada penyesalan di wajahnya, tetapi kulihat kepuasan. Aku katakan padanya bahwa permainannya sungguh hebat, dan mengajaknya untuk mengulang jika dia mau, dan dijawab dengan anggukkan kecil dan senyum. Sejak saat itu, kami sering melakukan jika istriku sedang tidak ada. Di kamar tidurku, kamar tidurnya, kamar mandi, ruang tamu, ruang makan, dapur, garasi, bahkan dalam mobil. Lia ikut bersama kami hingga tahunan, sampai suatu saat dia dipanggil oleh orang tuanya untuk dikawinkan. Ia dan aku saling melepas dengan berat hati. Namun sekali waktu Lia datang kerumahku untuk khusus bertemu denganku, setelah sebelumnya menelponku untuk janjian. Anak satu-satunyapun menurutnya adalah anakku, karena suaminya mandul. Tapi tidak ada yang pernah tahu..


Kisah ini adalah tentang Tania, seorang gadis cantik yang sedang merantau jauh dari kampung halamannya.ceritanya berkutat pada kisah cinta Tania dengan tiga lelaki yang berbeda. dengan berbagai macam sensasi dan problematikanya.pertama, Tania terjerat cinta pada paman jauhnya sendiri. Dan akhirnya berkonflik dengan bibinya.lalu, kembali terseretnya Tania pada kisah asmara terlarang dengan seorang pegawai muda bernama Reza, ketika Reza menjadi tamu di karaoke tempatnya bekerja.serta, kisah cinta lamanya yang kembali hadir ketika Indra, mantan pacarnya ketika SMU tiba-tiba muncul.juga, kisah saat akhirnya Tania terjerumus dalam….

________________________________Emmmhh…. apa ini…??, kurasakan ada sesuatu yang sedikit lengket dan berlendir di sekitar pangkal pahaku. Perlu beberapa saat untuk aku akhirnya menyadari. Oh my God..Sperma!Sesaat kemudian aku merasakan sedikit ngilu di darah kewanitaanku. Ohh.. apa yang terjadi..? Kupandangi sekeliling kamar kostku yang bedesain cukup manis ini, dengan dominasi warna ungu dan pink pastel. Ohh..mungkinkah.. benarkah.. akhirnya! dan akupun, tersenyum..

Bibi, Maafkan Aku… Telah Merenggut Cinta Suamimu

Tania. Itulah namaku, aku adalah seorang mahasiswi yang sedang kuliah di salah satu Universitas Negeri di kota ini. Saat ini aku sedang berusaha menyelesaikan Tugas Akhirku, yang sudah lumayan lama tak kunjung usai. Entah kenapa, rasanya malas sekali untuk aku menyelesaikannya. Mungkin karena kesibukanku bekerja. Atau.. memang aku sudah tak sepenuh hati lagi mengejar titel akademisku. Tapi toh sebenarnya sayang sekali, ini hanya tinggal Tugas Akhir.

Untuk diketahui, saat ini umurku 23 Tahun.. dan dua bulan lagi, satu tahun bertambah umurku. secara fisik aku cukup lumayan. Dengan face yang agak oriental sekilas mirip artis magdalena (kata beberapa temanku), Kulitku putih, bodykupun.. emm, bila aku gambarkan, setiap aku berjalan di kampusku, bisa dipastikan, hampir semua mata cowok-cowok mahasiswa tak sekejappun lepas menatapku nakal.. seakan-akan hendak menelanjangiku. Sebenarnya sangat aku maklumi, mungkin, ditopang dengan spek 171 cm berbanding 59 kg, membuat aku terlihat wow di mata mereka. Apalagi dadaku cukup sesak untuk ditopang dengan bra 36C serta kombinasi pinggul yang besar, bulat, dan kencang dipadu perutku yang rata hasil latihan aerobikku yang rutin kulakukan setiap selasa dan sabtu. Sekali lagi, tak aneh rasanya.. mereka selalu menahan liurnya menetes saat melihatku.

Penampilanku bila aku datang ke kampus sebenarnya tak terlalu spesial. Aku selalu berpakaian casual n sporty. Yaa, asalkan nyaman saja buatku. Hanya mungkin sesekali, aku agak berpenampilan ‘lebih manis’ bila aku sedang mood atau sedang ada acara di kampusku. Rambut hitam layer sepunggungku-pun sengaja hanya aku biarkan saja bergerai bebas, tapi mungkin bagi sebagian orang, itu justru membuat aku tambah terliat seksi dan menggemaskan.Aku berasal dari M*rt*p*ra Sumatera Selatan. Mungkin karena inilah, kata orang wajahku sedikit terlihat oriental. Karena memang sebagian besar wanita di daerah asalku berparas seperti itu, dan aku pun tak tahu mengapa. Semenjak lulus SMU aku putuskan untuk tinggal di kota S ini. Karena kebetulan ada kerabat keluarga kami yang menetap disini. Singkatnya, pada awal aku disini, aku tinggal bersama mereka. Namun karena suatu hal..(yang nanti mungkin aku ceritakan). Akupun memutuskan untuk.. pergi!!.

Dan kini aku tinggal di tempat kostku yang cukup nyaman di daerah dekat pusat kota. Berbekal uang hasilku bekerja sebagai pemandu karaoke di Kota C yang berjarak sekitar 25 km dari tempat tinggalku. Aku beranikan diri untuk hidup mandiri. Penghasilanku sebagai pemandu karaoke sebenarnya cukup lumayan untuk menghidupi diriku sendiri dan sekedar untuk berbelanja “ala kewanitaan”. Namun, hari-hari awal aku bekerja adalah hari dimana aku harus menyesuaikan diri dan bertahan dari godaan para tamu yang datang dan minta kutemani. Namun kini, anehnya semua terasa biasa, dan bahkan terkadang ‘mengasikkan’ buatku.

Sekedar aku ingin bercerita. Aku memiliki pengalaman buruk di masa kecilku yang membuatku berfikir sama atas semua mahluk yang bernama LELAKI !!!. dimataku, lelaki adalah buruk!. Aku katakan seperti itu karena hanya kesan menyakitkan dan traumatis saja yang bisa aku rasakan bila aku mengingat sosok yang satu ini dan bila mengenang masa laluku. Sedih bila aku terkadang harus membuka lagi semua kenangan itu. Saat aku melihat disana ada lebam-lebam kebiruan di kening dan tangan ibuku, hasil dari … ah sudahlah. Singkatnya, dimataku semua lelaki sama. Hanya bisa menyakiti hati lembut wanita yang tulus menyayanginya.. setelah mereka dapatkan apa yang mereka mau. Apalagi kalau bukan sekedar pemenuhan hasrat birahi mereka saja. Tapi, setelah itu hanya pencampakan.

Sialnya, setelah semua seakan hampir bisa aku lupakan, karena aku sedah cukup dewasa untuk lebih bijak memaknai itu. Diluar dugaan, aku sendiri yang kini justru mengalaminya. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, aku pernah tinggal di rumah kerabatku pada saat-saat awal aku pindah dari kota asalku. Awalnya semua berjalan biasa saja, di rumah kerabatku ini aku dianggap seperti anak sendiri. Setidaknya begitulah kesan awal yang aku rasakan. Di rumah ini tinggal sepasang suami istri dan seorang anaknya yang masih bersekolah TK. Sang suami (yang sering ku sebut dengan panggilan hormat ‘Mangci’ sebutan untuk paman di daerah asalku) dan istrinya ku panggil bibi.

Mangci Zul, begitulah biasa dia kupanggil. Seorang karyawan salah satu pabrik produksi baja nasional di kota C. Dia adalah pribadi yang menyenangkan dimataku. Dengan mata teduh khas seorang ayah, berpadu tutur kata bijak saat dia sering menasehatiku. Ditambah bila melihat penampilan fisiknya, sebenarnya mungkin belum pantas bila dia kupanggil Mangci (paman). Karena selain dia cukup tampan, tubuhnyapun atletis. Sungguh sempat membuat aku…, hingga, sesuatu itu terjadi.

Ceritanya, suatu hari aku sedang tidak ada jadwal kuliah pagi. Aku baru akan berangkat ke kampus sekitar jam 1 siang. Kurencanakan kunikmati pagiku ini dengan memutar beberapa DVD film yang kemarin kusewa dari tempat penyewaan DVD original di depan komplek rumahku. Aku menontonnya di ruang keluarga. Aku bisa leluasa menonton karena kebetulan bibiku tidak ada, sedang ada keperluan dengan teman-temannya, dan si kecil sedang sekolah. Jam 11 siang biasanya baru datang. oh nikmatnya, bisa santai fikirku. Karena biasanya bila ada bibi, aku pasti di suruhnya membantu memasak di dapur. Dan karena merasa tak ada siapapun, aku menonton DVD hanya dengan memakai hot pants jeans kesayanganku dan kaus tanktop belel yang sedikit longgar. Lebih nyaman rasanya.

Saat menonton, sempat aku menitikkan air mata menyaksikan adegan sedih di film itu. Hingga aku dikejutkan oleh suara ketukan pintu. Tok tok tok.. siapa di rumah? . oh suara Mangci Zul ternyata. Aku baru ingat semalam dia masuk shift. Dan memang jam 9 pagi jadwal pulangnya. Karena memang merasa tak ada hal aneh menurutku, langsung aku beranjak dari sofa dan kubukakan pintu untuk Mangci. Saat pintu kubuka, kulihat wajah lelah Mangci sambil seperti menahan kantuk. Capek rupanya Mangci Zul fikirku. Namun saat itu aku sadar untuk beberapa saat Mangci sempat melirik ke bagian payudaraku, yang setelah aku lihat memang agak menyembul keluar dari tanktop. Mungkin karena tadi terpengaruh posisi rebahanku saat menonton DVD film di sofa. Sedetik kemudian aku betulkan tanktopku hingga kini sudah kembali rapi dan ‘tertutup’. Lalu aku persilahkan Manci untuk masuk.

Setelah di dalam, sambil menurunkan tas dan merebahkan badan di sofa ruang tamu, Mangci bertanya, pada kemana Tan?. Bibi lagi keluar Mang, ama bu Ida katanya ada perlu, kujawab. Dan aku kembali ke sofa untuk meneruskan menonton. Sesaat tak ada apa-apa yang terjadi, karena setelah itu Mangci Zul bergegas langsung masuk ke kamar. Langsung istirahat sepertinya.

Sekitar setengah jam kemudian. Saat sedang serius menikmati adegan yang terpampang di televisi, aku dikagetkan oleh tepukan di bahuku dari arah belakang. Sesaat aku terperanjat. Namun cepat hilang ketika sejenak kemudian aku menoleh, dan memang, itu sentuhan tangan Mangci. Dia lalu menghampiriku, dan duduk di sebelahku. Tanpa aku sedikitpun risih karenanya. Karena sekali lagi, Kufikir memang tak ada yang aneh.

Untuk beberapa menit, tak ada sepatah katapun terlontar dari bibir kami. Hingga akhirnya,.. gimana kuliahnya Tan? Mangci Zul mengawali pembicaraan. Emmh.. baik Mang. Kataku. Kamu masuk siang hari ini? Dia kembali bertanya. Iya Mang, ntar siang baru ada mata kuliah. Makanya bisa nyantai. Gpp ya Mang klo Tania nonton DVD disini? Tanyaku. Nyantai aja Tan, gpp kok.. Mangci juga suka nonton film. yang penting klo nonton disini filmnya yang ada warnanya ya.. jangan sampe biru. Hahaha. Jawab Mangci sambil bercanda. Selanjutnya obrolan kami makin seru dan topik pembicaraannya pun beragam. Mulai dari tentang perkuliahanku, kampung halaman kami, dan sampai ke topik update gossip artispun kami bicarakan. Hmmmh…, sungguh pribadi yang menyenangkan Mangci Zul ini. Bathinku. Karena saat ngobrol, Manci memang terlihat cerdas. Terlihat dari tutur katanya. Dan entah kenapa, lelaki cerdas seperti Mangci, sangat terlihat ‘seksi’ dimataku! Tapi, upz.. kubuyarkan lamunanku yang mulai ngaco. Buru-buru kusadarkan bahwa… tak boleh Tania.. tak boleh.. , gumamku dalam hati.

Tak terasa waktu sudah mendekati pukul 11. Sebentar lagi si kecil Rendi akan pulang sekolah. Dan seolah mengingatkan. Bentar lagi kayaknya si Adek (begitulah biasanya Rendi kupanggil) pulang ya Mang..? kataku. Oh iya ya.. Ya udah deh, kamu terusin aja nontonnya. Mangci mau istirahat dulu. Jawab Mangci. Dan diapun beranjak menuju ke kamar. Namun sesaat setelah itu, ada hal yang membuatku salah tingkah karenanya. Sesaat sebelum masuk kamar dia sempat berkata padaku.. Tan, kapan-kapan mau gak klo kita nonton? Katanya. Hah! Sesaat aku sedikit kaget. Apa? Nonton? Maksudnya.. Nonton seperti apa.. di bioskop maksudnya? Berdua? Atau.. apa?. Bathinku lagi. Namun, entah kenapa tiba-tiba setelah itu langsung kujawab. Iya Mang. Dan sambil tersenyum manis, dengan wajah yang sangat cute khas laki-laki dewasa muda umur 31 Tahun, Mangci Zul menatapku, dan lalu masuk ke kamarnya. Menebarkan pesona yang tak mampu kujelaskan. Oh My God.. kenapa hatiku berdebar.. kenapa pipiku serasa memerah.. ada apa ini… apa mungkin..Setelah kejadian itu, hubunganku semakin ‘aneh’ dengan Mangci Zul. Aku selalu salah tingkah dan berdebar bila bertemu dan berada di dekatnya. Tapi, feelingku diapun merasakan hal yang sama. Karena naluriku bisa merasakannya. Tapi, karena ada bibi, aku berusaha menepiskan semua itu. Aku tak mau menjadi duri dalam daging di keluarga ini. Walaupun, meredam gejolak rasa ini, sungguh sangat sulit untukku. Tapi aku harus bisa. Dan sebenarnya aku diuntungkan dengan kondisi rumah ini, karena disini aku tinggal di lantai dua, di satu kamar yang cukup luas dan nyaman, yang didalamnya sudah ada televisi. Jadi, aku tak perlu sering-sering turun kebawah untuk sekedar ingin menyaksikan acara-acara favoritku di ruang keluarga. Dan berarti cukup mengurangi intensitas pertemuanku dengan Mangci Zul. Juga kebetulan memang karena shift kerjanya, jadi semakin kecil kemungkinan kami untuk bertemu. Dan untuk sementara.. clear.

Namun kerasku untuk ‘menipu diri’ ternyata sia-sia. Karena begitu mudahnya pertahananku jebol. Karena ceritanya, suatu hari saat di kampus sekitar pukul 2 siang. Saat aku sedang makan di kantin Teh Uun langgananku. Menyantap gado-gado yang kupesan pedas. Tiba-tiba HP ku berbunyi. Sms masuk rupanya. Dan ohh Tuhan.. dari Mangci Zul. Isinya: lg dmn Tan..? pulang jam berapa hari ini?. Tak berapa lama, tanpa berfikir jauh kubalas : lg d kampus Mang. Tania plg sktar jam 4. Msh ada 1 Mat Kul lg. Tp ga tw ada dosennya apa ga? Ada apa Mang?.Cukup lama tak ada balasan lagi. Lalu sekitar 10 menit kemudian, kembali ada sms masuk, dan memang dari Mangci Zul, kali ini isinya : Tan, mau ga nonton sore ini? Beres km kuliah. Klo mau jam stngah 6 nnti, Mangci tunggu di 21 R*m*y*n* C. Gmn?. Gila, bukan main senangnya aku dibuatnya. Langsung kubalas: iya Mang, tar jam stengah 6 ketemuan dsna.

Setelah tak sabar ingin cepat-cepat sore. Bahkan kalau boleh jujur, saat Pak Umar dosenku menyampaikan materi. Sudah tak konsen aku dibuatnya. Akhirnya setelah mata kuliah usai. Langsung ku bergegas keluar kampus, kutuju halte. Dan berharap cepat ada bus tujuan kota C disana. Karena kau ingin cepat-cepat bertemu Mangci ku sayank. Biarkan.. mungkin aku memang sudah salah minum obat, dan.. gila. Gila karena sensasi cinta buta. Cinta pada Mangci Zul. Yang tak lain adalah kerabatku sendiri. Orang yang pantas kuhormati, sebagai figur penggganti orang tuaku disini. Tapi biarlah. Duniaku sudah terlanjur dibuaikan gelora.

Singkat cerita, akhirnya aku sampai di depan tempat janjianku di R*m*y*n* C. Disana kejauhan kulihat Mangci Zul berdiri di depan Otlet waralaba ayam goreng. Dia masih mengenakan stelan pakaian kerjanya, namun ditutupi oleh jaket di atasnya. Ohh.. gantengnya Mangciku ini. Bathinku. Lalu setelah bertemu, kamipun langsung melangkah menuju 21. Memilih film. dan langsung membeli tiket. Kami sepakat untuk memilih film horror asia. Dan kami juga memilih tempat duduk pojok paling atas. Tempat duduk yang lazimnya bagi sepasang kekasih yang selain ingin menikmati film, juga ingin menikmati… nikmatnya bercumbu. Tapi memang itulah kenyataannya. Kamu sudah seperti terbuai, walaupun tak terucap. Namun kami saling bisa merasakan kata hati masing-masing.Dan filmpun dimulai, kamipun juga sudah duduk di tempat yang kami pesan. Adegan demi adegan mulai mengalir di depan layar. Kamipun hanya terdiam menikmati. Hingga akhirnya. Saat di film sedang ada adegan sepasang kekasih sedang masyuk setengah bercumbu. Kusadari, tiba-tiba tangan Mangci merayap menelusuri pahaku. Awalnya aku sedikit terkejut. Namun, karena jujur, aku menikmatinya. Jadi kubiarkan saja. Sambil tetap mataku menatap ke depan seolah-olah berkonsentrasi pada film. padahal. Jantungku berdegup.. hatiku berdesir. Melihat reaksiku yang diam saja, tangan Mangci mulai berani mulai lebih nakal. Kurasakan tangan itu mulai bergerilya menuju perutku, mulai beranjak keatas, dan.. seperti hendak meraba dadaku yang saat ini terbungkus t-shirt ketat motif bunga yang sedang ngetrend saat ini. Saat itu. Sejenak kucoba tepiskan tangannya. Namun justru, tiba-tiba.. disentuh dan diraihnya jemariku. Di genggamnya dengan mesra. Mangci menatap mataku dengan penuh arti.. lalu dia berucap, Tania.. maafin Mangci. Mangci sayang sama Tania. Dan dikecuplah keningku dengan lembut. Oh Tuhan.. aku bahagia. Aku sangat bahagia mendengar kalimat itu terucap dari bibirnya. Dan, seperti terbawa kata hati, langsung akupun berucap, iya Mang gak apa-apa, Tania juga sayang sama Mangci.. sayang banget.

Setelah sama-sama mengungkapkan perasaan, dengan lembut, kinipun kami saling mendekatkan wajah.. deru nafasnya dapat kurasakan. Seperti sudah lama menahan hasrat. Kedua bibir sepasang manusia yang tengah mabuk cinta ini, kini bertemu. Kamipun berciuman. Kami saling berpagut liar. Lidah kami saling memilin. Uuh… ahhh…emmh.. air liur kami saling bertukar. Saat seperti itu, tangan kamipun seperti sudah tak tertahan untuk ingin saling meraba, menjamah, meremas… ohh.. kurasakan tangan Mangci sudah mulai merayap menelusup kedalam bajuku. Mengelus-elus seperti hendak mencari gundukan susuku yang dari tadi sudah mengeras. Cepatlah Mang, jamah aku, raba aku Mang.. terserah kau mau apakan.. aku rela.. nafsuku sudah menderu. Tak berapa lama, kurasakan tangan lembut Mangci makin berani naik ke atas. Dan akhirnya menelusup ke dalam BH renda merah milikku. Di raihnya daging hangat nan kenyal didalamnya. Ohh, nikmatnya. Kini aku semakin berani untuk meminta dijamah. Iya Mang.. pegang mang.. Tania udah pengen… emmhh.. enaknya.. , celotehku sudah tak karuan.

Melihatku semakin bernafsu, Tangan Mangci makin berani dan nakal untuk bermain-main di bukit kembarku nan indah. Dipilin-pilin kecil putingku. Kini puting merah muda itu sudah sangat tegang berharap juga untuk dijilati. Tanpa memikirkan rasa malu lagi, dan juga karena situasi yang sangat gelap khas film horror. Tentu ini sangat memudahkan kesempatan kami untuk bercumbu semakin liar. Kini kuangkat sendiri t-shit ku ke atas. Kubuka klip pengait BH ku, kugapai dan kuusap wajah Mangci Zul. Seolah dia mengerti. Saat kubuka kain penutup susuku ini, dan kemudian terpampang dua buah bukit kembar nan indah. Sepasang bukit yang ranum, bulat, dan montok. Dihiasi puting merah muda nan menggoda. Kuperhatikan untuk sesaat Mangciku sayank melongo takjub dibuatnya. Takjub atas pemandangan yang begitu menggairahkan hasrat kelelakiannya. Dan, tanpa kuminta, sambil tetap kusentuh pipinya. Didekatkannya bibir Mangci ke arah susuku. Lalu, emmph.. kini putingku telah di lumatnya. Tak bisa kugambarkan betapa nikmatnya perlakuan Mangci terhadapku. Aku hanya bisa mengerang , akkkhh.. emmmhh.. emmppphh. Digigit-gigitnya kecil, dan semakin membuat geli nikmat itu menjalar di sekujur tubuhku. Dan saat itu akupun tak mau tinggal diam. Kujambak-jambak halus rambutnya. Sambil tetap susuku dijilati.. tanganku mulai meraba-raba mencari apa yang tersembunyi di balik sleting celana Mangci.

Tak sulit untuk mencarinya, karena saat kuraba, terasa batang kelelakian Mangci sudah sangat mengeras. Sepertinya butuh bantuanku untuk menyenangkannya. Oohh.. aku semakin nakal. Kucari-cari sabuknya, kubuka. Kutarik sletingnya, lalu kuturunkan. Dan seakan juga berharap lebih. Dengan sedikit gerakan mengangkat pinggul, dengan tanganku, kubantu Mangci untuk memelorotkan sedikit celana kerjanya. Dan akhirnya kini celana dalam itu sudah terlihat. Kulirik dengan senyum birahi. Tanpa berlama-lama. Langsung kugapai kontol yang sedari tadi sudah sangat aku dambakan. Kuraih apa yang tersembunyi dari balik celana dalamnya. Oommh.. besar dan panjang kurasa. Aku bayangkan betapa nikmatnya bila benda berurat ini memasuki dan mengaduk-aduk liang senggamaku. Aku mau.. sangat ingin disetubuhi, karena seingatku terakhir kali aku melakukannya adalah satu kelas 2 SMU di kamar kost pacarku. Namanya Indra. Dan kalau tidak salah, itu sudah terjadi 1 tahun 8 bulan yang lalu! Dan kini aku kembali rindu untuk bercinta. Rindu untuk dijamah, dan haus untuk ditindihi laki-laki. Walaupun kenangan dengan mantan pacarkupun cukup menyakitkan. Karena setelah kuberikan tubuhku. Ternyata dia mengkhianatiku, saat kupergoki dia sedang bergumul bersenggama dengan sahabatku. Dikamar kostnya. Di kamar tempat yang sama saat aku menyerahkan diriku, cinta suci, dan kenikmatan di sela-sela kedua paha mulusku.

Padahal apa kurangnya aku, bisa dikatakan aku adalah primadona di sekolahku dulu. Dengan selalu mengenakan stelan seragam atasan ketat yang dua kancing atasnya sengaja kubuka, serta rok ketat 5 cm di atas lutut. Jelas membuatku terlihat sangat sintal dan seksi. Tak terhitung berapa cowok yang ingin memacariku. Bahkan ada satu orang guru yang sempat menyatakan perasaannya padaku. Tapi, nyatanya mantanku lebih memilih untuk berselingkuh, daripada mempertahankan cintaku, dengan segenap ‘servis lebih’ yang setiap saat siap kuberikan bila ia memintanya. Seperti terkadang tiba-tiba dia memintaku untuk berjongkok meng’oral’nya di lantai 2 ruang kelas 2.7 yang sedang di ronovasi. Itupun dengan senang hati selalu kuturuti. Atau sekedar minta kontolnya untuk dijepit oleh kedua gundukan susuku yang besar nan kenyal saat pulang sekolah di kamar kostnya. Berbekal baby oil yang memang selalu tersedia dikamarnya, untuk pelumas sebagai penambah kenikmatan servis singkatku. Itu seperti sudah rutinitas harian bagiku untuk memuaskannya. Apalagi terkadang gilanya mantanku adalah bila sedang pejuhnya menumpuk seperti sudah menuntut untuk disemprotkan, tak segan ia juga meminta layanan seks yang sebenarnya. Ya.. benar-benar seks. Kontolnya menikmati liang senggamaku. Dan itupun kuturuti atas nama cinta. Namun untuk layanan seks full job ini, tak bisa sering-sering kuberikan. Karena aku takut resikonya. Takut aku sampai hamil. Takut bila kami tak bisa mengendalikan diri, untuk menumpahkan air mani saat dia klimaks, hanya di susu atau di mulutku saja. Namun untungnya sampai saat ini tak pernah ada janin yang sempat hadir di rahimku, akibat perbuatan birahi mantanku itu.

Tapi sudahlah, biarkan saja. Toh sekarang, saat ini, aku sedang bersama Mangci Zul-ku sayank.. sedang berasyik masyuk menikmati untai-demi untai peluh birahi kami. Saat ini, genggam tanganku semakin lembut mengelus-elus sembari memberikan rangsangan mengocok pada kontol Mangci yang gagah berurat. Kurasakan deru nafasnya semakin tak beraturan menahan nikmat. Sembari tetap menjilati dan mengemuti susuku. Namun, tiba-tiba rangsangannya pada putingku dihentikannya. Sesaat aku sedikit kaget dan kecewa. Karena nafsuku sedang naik-naiknya dan aku mau terus tetap dijilati, bahkan berharap semakin liar. Namun dengan tatapan meminta, dan akupun mengerti apa yang diinginkannya. Ditariknya kepalaku, dan diarahkannya kepalaku ke kontolnya yang sudah mengacung hebat, yang sudah keluar dari celana dalamnya. Tanpa sedikitpun aku menolak, juga karena aku mau. Kudekatkan bibirku ke kepala penis nan bulat menggoda itu. Kucium ujungnya.. emmhh, aroma khas yang sangat bersensasi. Sejurus kemudian lidahku mulai menari-nari menelusuri kontol itu. Kujelajahi dari ujung hingga pangkalnya, naik turun, kubasahi dengan air liurku. Lidahku seakan menari-nari saat itu. Dan kurasakan Mangci semakin menggelinjang.

Namun kini sepertinya kontol itu sudah tak tahan untuk di servis lebih lagi oleh bibir sensualku. Ditekannya kepalaku lebih dalam dari ujung lalu..lhhppp. kontol itu kini sudah masuk sepenuhnya di mulutku. Dalam keadaan seperti itu, kurasakan tangannya juga tak mau diam saja. Kini tangan itu sudah mnggerayang rok babydoll-ku, mulai menyingkapnya keatas. Namun sepertinya akal sehatnya masih sedikit tersadar, walau sudah dalam kondisi sangat On. Dilihatnya keadaan sekelilingku. Dirasa aman. Karena memang kebetulan jam tayang saat ini agak kosong. Dan bangku paling atas memang tak penuh terisi. Hanya di ujung yang lain terlihat terisi. Itupun sepertinya juga oleh sepasang kekasih yang juga sedang.. bercumbu.

Setelah dirasa aman, dilepaskannya jaket yang dari tadi melekat di badannya. Rupanya jaket itu di letakkan di atas pahaku, sebagai penutup. Supaya aksi gerilyanya bisa leluasa. Benar saja, kini setelah tertutup oleh jaket, tangan Mangci lebih leluasa untuk menyingkap lagi rokku ke atas. Dan tak perlu lama, langsung tangannya menelusup lebih dalam ke CD ku, seperti mencari-cari apa yang ada di dalamnya.

Lubang sengamaku sedari tadi telah basah oleh cairan lendir cinta. Kini mungkin akan semakin basah lagi karena, kurasakan jari-jari Mangci Zul liar menjelajahi dan memainkan setiap titik rangsanganku. Yang membuat gelora birahiku semakin meninggi. Klitorisku disentuhnya, labia ku dirabanya, dan itilku pun tak lepas dimainkan. emmmmh… aakkhh.. Rintihku. Hingga kurasakan semakin basah rongga-rongga kewanitaanku itu dibuatnya. Jari-jari nan lembut itu terasa sedikit mengoyak ketika kurasa liang senggamaku seperti hendak dimasuki. Kugigit kecil bibirku menahan nikmat sensasi lain yang kini kurasa. Dan iya, setelah itu dengan bernafsu. Di kocok-kocoknya memekku dengan jari Mangci. Entah sudah berapa kali jari itu keluar masuk di dalamnya. Tak terhitung kiranya. Sungguh nikmat sekali bercumbu seperti ini. Bahkan kalau boleh jujur sempat tadi aku lumer dibuatnya. Diperlakukan memekku seperti ini. Siapa yang tahan.. eemmmhh, Hingga setelah sekitar 10 menit berlalu.. Mangci berbisik padaku..

Sayank, Mangci udah di ujung… dah geli nih yank…, bisiknya. Emmmppp… sllluurpp… llppphh…, aku tetap mengoralnya, justru semakin liar dan bersemangat. Semakin kutekan kontol itu kedalam.. hingga sampai ke pangkal teggorokanku. Biarkan saja fikirku. Geli dan seru juga bathinku, melihat ekspresi lucu Mangci yang sudah memerah sembari memejamkan mata seperti menahan sesuatu yang mau meledak.

Yank.. Tania sayank.. udah mau keluar nih.. , katanya. Tetap tak kupedulikan, bahkan semakin kupercepat permainan bibir sensualku terhadap kontolnya!. Dan, benar saja. Tak seberapa lama kurasakan ada yang menyambur di dalam mulutku.. creett.. creettt.. creettt…, cairan kental nan hangat yang agak asin. Emmmh.. nikmat sekali rasanya. Cukup banyak sepertinya Mangci menyemprotkan sperma di mulutku, karena sensasi denyutannya kurasa lebih dari lima kali semburan. Entah sudah berapa hari sepertinya pejuh ini tak disemprotkan ke memek bibiku. Bathinku nakal. Kubiarkan beberapa detik kami dalam posisi seperti ini. Sembari sekali kulirik wajahnya yang tampak sangat puas. Bagaimana tidak, saat ini dia sedang menyemburkan sperma di bibir sensual seorang gadis yang teramat seksi dan menggairahkan di mata semua lelaki. Dan yang terpenting.. gadis itupun mencintainya. Layanan seks dengan cinta tentu akan terasa jauh lebih nikmat. Dan gadis itu adalah .. aku.

Setelah kurasa kontol Mangci mulai agak melemas, perlahan dengan gerakan menarik ke atas, kutarik bibirku, dan.. plup! Sambil tersenyum padanya kuperlihatkan bibirku yang saat ini masih menampung luapan spermanya. Kutatap matanya dengan sangat dalam, lalu, dengan tanpa rasa jijik, kutelan sperma itu didepannya. Dan aku tersenyum sambil kuraih jemarinya. Saat itu aku berucap, aku sayang kamu..Seperti tak mampu berkata-kata, dibelainya rambutku, dilapnya sedikit leleran sperma yang masih tersisa di bibirku dengan jarinya. Lalu kamipun berpelukan dengan sangat erat. Seperti tak mau terpisahkan.

Tanpa terasa filmpun berakhir. Dan kamipun harus tersadar dari permainan panas yang baru saja kami lakukan. Kulihat dari layar blackberry-ku. Waktu saat itu menunjukkan pukul 20.15. Waduh.. sudah malam ya yank. Kataku pada Mangci. Kini aku mulai berani untuk memanggilnya dengan panggilan sayang itu. Setelah kami merapihkan pakaian kami yang acak-acakan karena pergumulan tadi, kami langsung keluar 21, berjalan kearah halte dan pulang. Lalu Mangci Zul berkata, Tania sayank.. kita sekarang pulang bareng, tapi ntar klo udah nyampe S, kamu pulang kerumah duluan aja ya. Kayak ga ada apa-apa. Ntar aku mau ke rumah temenku dulu. Biar kita kesannya ga habis keluar bareng.. takut bibi curiga. Tadi aku udah bilang dapet shift lembur, gantiin temenku yang sakit. Begitu kata Mangci Zul padaku saat di bus. Iya sayank. Balasku. Dan aku memahaminya.

Setelah kejadian malam itu, hubungan asmara terlarangku dengan Manci Zul semakin erat dan mesra. Tak jarang kami sengaja mencuri-curi waktu untuk sekedar bermesraan. Untuk tempatnya bisa di 21, hotel, atau kost-an salah satu temen kuliahku yang sudah soulmate. Cukup dengan bermodal muka memelas dan dua porsi martabak A****, kunci pintu kamar kostnya sudah dipinjamkan padaku. Dan pastinya sudah bisa ditebak. Kugunakan untuk bercumbu.. saling menjamah.. saling meraba.. menjilat.. dan akhirnya kami pun melakukan hubungan intim. Seks yang pastinya sangat liar karena dalam diri kami memang dipenuhi hasrat birahi yang menggebu-gebu. Seperti selalu rindu. Tapi pastinya itu kami lakukan bila Manci bisa beralasan ada lembur atau ada shift tambahan mendadak. Indahnya cinta itu kami reguk bersama, dengan sangat indahnya dan tentu sangat berkesan bagiku.

Suatu hari, aku lagi-lagi sedang tak ada jadwal kuliah pagi. Dan kebetulan bibi juga sedang arisan dengan sesama ibu-ibu dari tempat kerja Manci Zul. Bibi pergi dari tadi pukul 7.30 dengan menggunakan taksi pesanan, dengan membawa serta si kecil Rendi yang hari ini sengaja tak masuk sekolah. Bibi bilang padaku untuk jangan lupa memasak untuk makan siang. Karena mungkin bibi pulang agak sore, karena sekalian mau belanja bareng sama ibu-ibu arisan ke Mal M. Kesempatan bathinku untuk bersantai, sekalian menunggu pangeranku sayank pulang kerja. Nanti sekitar pukul 9. Tanpa berharap terjadi apa-apa sih… karena masak iya mau melakukan ‘hal itu’ di rumah. Geli juga bathinku.

Setelah puas bersantai di depan TV sambil menonton acara gossip artis, aku putuskan untuk mulai memasak. Sengaja pintu depan tak kukunci, takut sewaktu-waktu pangeranku pulang. Aku naik ke atas untuk berganti pakaian dengan kaus terusan panjang berwarna putih, namun seksi karena hanya sedikit menutupi pahaku. Bisa dipastikan bila aku sedikit saja membungkuk, celana dalam merah seksi ber-renda-ku pasti terlihat menyembul dengan bongkahan pantat montok yang tersembunyi dibaliknya. Aku tak mengenakan pakaian bawahan apa-apa lagi. Karena biar leluasa memasak fikirku. Dan memudahkan bila harus bolak-balik jongkok berdiri saat mengolah makanan. Namun mungkin terselip juga niatan nakalku untuk sedikit menggoda Mangci Zul saat dia datang nanti. Lucu juga membayangkan ekspresi mukanya bila melihatku berpakaian seperti ini. Padahal selama ini toh semua lekukan tubuh putih mulusku telah dilihatnya. Namun tetap aku berniat menggodanya. Biar saja, dia khan kekasihku.

Kusetel salah satu koleksi CD musikku di CD player. Ku setting dengan volume suara agak keras sebagai penambah semangat saat aku memasak. Karena beat musiknya sangat oke. Saat itu aku berencana memulai masak sop ayam dengan perkedel kentang. Itu sesuai arahan bibi dan dengan bahan yang sudah dari tadi pagi dibelinya, dari Mamang Udin Sayur, langganan kami. Mungkin karena saking seriusnya memasak, atau karena suara musik yang kencang. Tanpa kusadari sudah cukup lama mungkin, ternyata Mangci Zul sudah pulang, langsung masuk ke rumah karena melihat pintu tak terkunci, berdiri sambil memperhatikanku memasak. Ehmm.. ehmm, si cantik lagi masak. Sapaannya mengagetkanku. Lalu aku menoleh, emmmh.. chayankku udah pulang. Sambutku mesra padanya. Lalu dia beranjak menghampiriku dan memelukku dari belakang. Aduh senangnya hatiku. Sempat aku membayangkan, andaikan saja aku yang jadi nyonya di rumah ini, dan saat ini aku sedang menyambut suamiku ini pulang kerja. Hayo.. kok diem? Ngelamunin apa hayo…, kata Mangci, sambil tetap memelukku dari belakang. Cukup membuyarkan lamumanku. Emmh.. chayank.. lagi masak sayur sop ama perkedel nih yank. Jawabku.

Dia tak menanyakan kemana yang lain, kenapa rumah kok sepi. Karena mungkin dia sudah tahu. Lalu dengan manjanya dia kecup bibirku lembut. Masih sempat kumatikan kompor, kubalikkan badanku, dan kubalas dengan ciuman yang panas. Iih… nafsu ya si cantikku ini…, katanya menggodaku. Kutatap manja sambil kujawab. Iya nih yank.. abis gara-gara nyium aroma badan kamu jadi horny bgt nih.. gimana donk..?. sambil kugesek-gesekkan pahaku di pangkal pahanya yang sudah mengeras, walaupun masih tertutup celana. Bisa kupahami, mungkin sedari tadi saat memperhatikanku dari belakang dengan pakaian menggoda seperti ini, sudah pasti hasrat kelelakiannya muncul. Ayank mau..? kataku lagi. Dia hanya menganggukkan kepala tanda iya.

Lalu kamipun berpagut lagi, kini semakin liar dan panas, tangan kanannya menggerayangi susuku, meremas-remasnya gemas dan semakin berani untuk menelusupkan tangannya dari bawah bajuku, hingga kini, kaus terusanku ini tersingkap hingga ke atas. Segera di raihnya bongkahan daging besar nan montok, yang sangat disukainya ini. Secepat kilat, BH-ku telah dilepaskannya dengan sekali menarik tali simpul, karena saat ini aku memang sedang memakai salah satu koleksi bra seksiku, berwarna merah menyala, yang jenisnya memang hanya berpengikat tali. Pasti sangat memudahkannya untuk segera menikmati isi di dalamnya. Dan benar saja setelah terlepas, dia segera meraih kausku, menariknya keatas hingga terlepas, dan setelah itu giliran BH ku yang terlucuti olehnya. Hingga.. Kini, aku adalah perempuan hampir bugil, yang hanya menyisakan g-string yang melekat di tubuhku. Sedang berdiri di depan seorang lelaki yang amat kucintai. Sesaat lagi, kembali akan kuserahkan tubuh ini padanya, untuk dijamah dan dinikmati lagi, demi menunjukkan betapa dalam rasaku ini padanya.

Tak sekejappun matanya berkedip melihat pemandangan indah yang kini terpampang jelas di hadapannya. Walaupun telah sering dia melihatnya, namun karena begitu indah, tetap saja membuatnya takjub. Dengan tubuh jenjangku tanpa busana, dihiasi dua bongkah payudaraku yang besar nan montok, yang seolah menantang untuk disentuh. Serta dengan siluet sempurna lekukan tubuhku dari leher hingga ke pinggul yang amat menggoda. Semua ini jelas membuat laki-laki normal manapun diam membatu terpana. Termasuk sayankku ini.

Tak seberapa lama, mungkin juga tak ingin menyia-nyiakan tawaran kenikmatan ini. Kini, tangan kanannya mulai beraksi kembali, cepat diraihnya susuku untuk diraba dan diremas-remasnya, sambil sesekali putingku di pilin-pilinnya. Uuuhh.. geli sekali rasanya, namun pastinya bercampur nikmat bagiku. Sementara tangan kirinya berusaha meraih pantatku, lau setelah dapat, langsung juga diremas-remasnya penuh nafsu. Entah kenapa sayangku ini terlihat begitu bergairah hari ini..

Kami saat itu saling menyentuh, meraba, dan meremas. Akupun tak mau diam saja. Kuusap-usap dan kuelus kontolnya dari balik celana yang masih menempel. Namun dapat kurasakan, batang kelelakian itu semakin mengeras saja. Dalam kondisi itu, kami juga tetap berciuman panas. Lidah kamu berpagut saling menari-nari liar beradu. Hanya suara desahan .. emmmhh.. aakkh… emmmpppp.. oohh, yang bisa mewakili suasana saat itu. Semuanya seolah berbaur seirama dengan birahi yang sudah semakin memuncak. Tangan kami saling bergelayut, hembus nafas kami semakin memburu rasanya.Akhirnya dia tersadar sejenak. Foreplay liar ini telah membuat keringat di tubuh kami bercucuran deras. Dia mengusap keningku yang penuh peluh. Sambil berucap, sayank.. didalem aja ya.. dikamar depan. Katanya. Lalu kujawab, Dimana yank?, masa di kamar depan, tar kalo.., buru-buru bibirku ditahannya saat hendak meneruskan bicara, dengan satu jari telunjuknya secara halus. Gak apa-apa sayank, khan mamahnya Rendi (dia menyebut istrinya) juga paling tar sore baru pulang.., ujarnya lagi. Yakin yank…? gpp? Kataku. Dan tanpa di jawab lagi, dengan sekali senyuman mautnya, dia langsung mengangkat tubuhku, dan membopongnya menuju ke kamar utama. Walaupun sebenarnya saat dibopong menuju kamar itu, hati ku tetap sedikit bimbang, bukan karena apa, hanya saja dihatiku masih menyisakan was-was, takut-takut tiba-tiba…, namun, ah sudahlah demi menyenangkan sayankku, aku turuti saja. Sambil berharap semoga tak ada…

Kini kami sudah berada di kamar utama, kamar tempat peraduan cinta sayankku dengan bibi. Kamar yang untuk sesaat sebentar lagi akan menjadi kamar pengantin kami. Kamar tempat kami memadu cinta dan menggelorakan birahi kami. Sempat sekali lagi terbersit dalam bathinku.. andaikan saja.. duh, senangnya. Lalu kecupannya di bibirku membuyarkan hayalan gila itu lagi. Hmmhh… ngelamun lagi ya sayank.. katanya. Dan aku hanya tersenyum.Diturunkannya aku dengan sangat hati-hati di ranjang. Dibimbingnya tubuhku dengan penuh kasih sayang.. hingga kini kami saling duduk berhadapan di ranjang itu. Kulihat senyum manis kembali tersungging di bibirnya. Dan akupun membalas senyuman itu, sambil berkata, Tania sayang ayank… dan kusentuh jemarinya dengan lembut.

Kulihat dia masih mengenakan pakaian lengkap seragam kerjanya, melihatnya seperti itu, dan juga karena naluriku untuk melayaninya. Kini aku berinisiatif untuk melepas pakaiannya. Kupindahkan posisiku turun dari ranjang. Agak berlutut. Dengan telaten kubuka satu-persatu kancing bajunya. Setelah itu kaus dalam putih itupun turut kulucuti dengan pelan dan halus. Sesaat aku berbisik sambil menggodanya.., celananya mau dibuka juga ga Tuan..?, dan kulihat dia hanya tersenyum menahan geli, namun sambil mengguk, tanda iya. Setelah itu kubuka sabuknya, kuraih resletingnya, kuturunkan, dan lalu celana itu kutarik perlahan kebawah hingga terlepas. Dan aku langsung berdiri. Lagi-lagi kugoda sayankku ini. Udah ya Tuan, khan udah dibuka… permisi Tuan, saya mau kembali ke dapur. Mau masak lagi. Reflek dia berkata., nah lho… kok? Lha.. cahayaaank.. kok udah sih? Khan celana dalamnya belum.. iih, ayank jahat tau. Ujarnya.

Melihat muka kekasihku ini manja sembari meminta sesuatu yang lebih. Dan memang tadi aku hanya menggodanya. Uuuh.. cahayank.. ganteng dech klo ngambek. Kataku. Dan setelah itu langsung kuraih celana dalamnya dan kupelerotkan hingga.. barang yang amat aku sukai di dalamnya kini terlihat jelas mengacung hebat. Berdiri tegak. Seakan siap untuk digunakan mengoyak-ngoyak liang kenikmatanku, yag sedari tadi sudah agak licin akibat pelumas yang meleleh saat tadi foreplay di dapur. Langsung aku duduk kembali di ranjang tepat disisinya. Kupatap dengan tatapan nakal.. lalu, kupeluk tubuhnya. Sambil berpelukan, kamipun kembali berciuman penuh nafsu. Bibir kami beradu, lidah kami saling berpilin kembali.. kurasakan bibir bagian bawahku ditarik-tariknya dengan lembut saat berciuman. Tak mau kalah, kubalasnya dengan permainan lidah yang lebih erotis. Lidahku kumainkan di rongga atasnya, menari-nari menjelajahi sudut bibirnya. Seraya sesekali kukulum dengan lembut. Sambil tetap berciuman liar, kini direbahkannya tubuhku di ranjang. Tak lepas pagutan bibir kami karena perpindahan posisi itu.. tangannya kini makin leluasa untuk menjamah susuku yang tegak keatas bersentuhan dengan dadanya yang bidang. Hangat kurasa menjalar di seluruh tubuh ini. Tangan lembut itu, kurasakan dengan lihai bermain-main di daerah rangsanganku.. mulai dari tepi hingga akhirnya putingku tak lepas di sentuhnya. Sesekali perutkupun ikut disentuh, namun dengan cepat kembali tangan itu menikmati gundukan hangat putih nan menggairahkan milikku. Memilin-milin putingnya.

Aka hanya bisa menggelinjang menahan nafsu yang semakin menderu. Dilepaskannya pagutan bibir kami olehnya. Sembari kepala itu kini bergerak kebawah. Dan benar saja. Kini putingku dilahapnya penuh nafsu.. dijilatinya seperti anak kecil yang sedang menyusu. Dia terlihat selalu bergairah dan terobsesi dengan payudaraku ini, termasuk kali ini. Walaupun bila aku jujur.. rasanya ubun-ubunku sudah mau meledak menahan birahi karena perlakuannya. Namun kubirkan saja, toh memang bagiku, segenap raga dan hati ini, kini adalah miliknya. Aku pasrahkan saja untuk dinikmati sesuka hatinya. Lelaki yang amat kusayangi.Cukup lama sepertinya dia bermain-main dengan susuku. Hingga tiba-tiba kurasakan permainan di sekitar dadaku itu terhenti, lalu kepala sayanku kurasakan bergerak lagi turun kearah pusar. Berhenti sesaat disitu.. dia menciumnya. Mencium pusarku, sekali mengecup, menjilat, tak terlalu lama. Lalu terus bergerak kembali kebawah hingga…, tak perlu terlalu lama, vaginaku telah dilumatnya. Dijilatinya klitorisku, sembari tangannya tetap meremas-remas susuku. Kurasakan labia mayora-ku juga tak luput dari sergapan bibirnya yang lembut. Sedikit ditarik-tarik. Dilepaskan.. diemut lagi, ditarik lagi.. aaahhh, perlakuan yang sungguh membuatku terbang.. nikmat sekali rasanya. Tak sedikitpun terlihat dia akan menghentikan permainan lidah dan bibirnya di daerah paling sensitifku itu. Bila aku tidak salah.. aku sudah sempat lumer kala itu. Namun tak kukatakan. Tapi sepertinya dia tahu aku keluar, karena sempat terdengar dan kurasakan.. slluuurrpp. Sepertinya cairan cintaku dilahap dan ditelannya. Oh sayank, kau apakan aku.. aku sangat nafsu yank…Setelah aku biarkan dia bermain-main, dan aku hanya bisa mendesah-desah tak karuan.. aaahhh.. emmmpph… ayo yaaank.. teruus.. emmmph.. hanya ocehan itu yang kuingat saat dia memainkan liang senggamaku. Kini, giliranku.Kusentuh rambutnya.. sedikit kuangkat kepalanya hingga kini terlihat wajahnya olehku.. kuberkata padanya. Gantian ya sayank..,. tak perlu lama, kutarik tubuh kekasihku keatas, kubalikkan badannya, dan kubuat dia terlentang. Saat itu kukerlingkan mataku dengan tambahan senyuman binal padanya. Nikmatin yaa sayank, bathinku.

Kepalaku kini kuarahkan kedadanya.. dan lalu, langsung kujilati seluruh badan kekasihku. Kenyalnya toketku kubiarkan berayun-ayun di sekitar kontolnya. Memberikan rasa hangat nan mengasikkan buatnya. Lidahku mulai bermain menjilati lehernya.. turun kembali ke dada, kugigit-gigit kecil putingnya, hingga dia sedikit menggelepar. Kutahu dia sedang menikmati permainan cumbuanku. Permainan lidahku kulanjutkan semakin kebawah. Keperutnya, pusarnya, hingga, saat ini bibirku sudah tepat berada di kepala penisnya. Tak perlu menunggu, langsung kukecup, dan kujilati kepala penis bulat nan indah itu. Air liurku kubiarkan melumer mengalir di batang berurat, aku sengaja supaya tambah memberikan sensasi lain. Tak terlewat, kedua bolanya-pun tak luput dari servis bibir dan lidahku. Bahkan hingga ke arah lebih bawah lagi. aku sangat menikmatinya. Karena ada sesuatu kepuasan buatku, saat sesekali kulihat muka kekasihku ini terpejam menahan nikmat sambil meringis dan berdesah. Emmhh… uuuhh…, kudengar. Naik turun kepalaku bergerak seiring dengan keluar masuknya kontol itu di mulutku. Kuluman lembut erotis yang pastinya membuat kekasihku mabuk kepayang menahan gelora. Suara slluurpp… mmmppph.. sllluurrp, serasa mendominasi. Semakin menambah panasnya suasana bercinta kami. Hingga dalam keadaan masih terlentang, sayankku sedikit menggangkat badannya, dan menatap kearahku yang sedang meng’oralnya’. sambil berkata, sayank… masukin ya.. udah ga kuat nih.

Mendengar permintaan dari kekasihku, akupun langsung menurutinya, aku beranjak, kuarahkan tubuhku kedekatnya. Dengan posisi dia masih terlentang, kini aku naikkan tubuhku tepat di atas tubuhnya. Aku mengangkang di pahanya, sembari mengusap-usap liang senggamaku, memastikan bahwa memekku sudah basah, dan siap untuk dimasuki benda kesayanganku. Setelah kupastikan cukup basah, kini kuposisikan tubuhku mengangkang lebih keatas lagi, dan saat ini posisi bibir memekku sudah tepat searah dengan kontol kekasihku. Kugenggam lembut batang itu, kuarahkan kepalnya yang bulat, kuoles-oleskan dulu di bibir memekku. Dan kulihat ekspresinya sudah tak tahan ingin segera memulai persenggamaan yang sesungguhnya. Melihat muka kekasihku yang sudah sangat galau dan bernafsu, pelan-pelan kini kuturunkan tubuhku seiring dengan masuknya kontol itu ke liang senggamaku. Sleeepp… sleep, pelaaan.. dan bless. Tenggelamlah sudah kini kontol itu di sangkar kenikmatan. Kurasakan sesaat. Ingin kunikmati kesan sensasi tusukan pertama yang begitu nikmat. Sangat mentok dan dalam. Hingga tanpa sadar aku berkata. Ooohh.. emmmh.. enak bgt yank.., kulihat iya hanya mengangguk menikmati juga. Setelah beberapa saat kunikmati rasa itu, kini mulai kuayunkan tubuhku keatas .. kebawah.. , naik turun, seirama dengan goyangan toketku yang bergelantungan bebas berharap untuk diraih oleh tangan kekasihku, dan di remasnya. Pasti akan menambah sensasi dan semangatku untuk ‘menggoyangnya’. Benar saja, tanpa kusuruh, atau mungkin dia memang tergoda dengan keindahannya, kini diraihnya sepasang daging kenyal nan montok milikku itu, dan diremas, dimainkannya. Aku tak mengurangi goyanganku di atas tubuhnya, justru aku semakin bergelora, kini kugerakkan pinggul dan pantatku maju mundur.. hingga menghasilkan suara sleepp.. sleep.. , aaahhh.. emmmhh. Ohh,, aahh… ayank.. emmmh, ocehku bersamaan dengan gerakanku yang semakin cepat. Dalam posisi ini, kurasakan g-spotku sangat tersentuh oleh ujung kepala kontolnya. Dan jelas sangat membuatku menggila, merasakan sensasi nikmat birahi yang teramat sangat. Sesekali kukombinasi gerakan pinggulku dengan gerakan memutar seperti penari goyang karawang yang melegenda, kumaju mundurkan lagi, kuputar lagi… begitu bergantian ku merangsangnya, menservis kekasihku dengan layanan kenikmatan terbaik yang bisa kuberikan. Namun dengan posisi itu, justru nyatanya… setelah sekitar 10 menit.. kurasakan ada yang akan meladak di tubuh bagian bawahku, di area pangkal pahaku, dan benar saja. Seiring gerakanku yang kupercepat.. aaakkkkhhh.. aku kelonjotan sendiri diatas tubuh kekasihku. Kurasakan sensasi hebat, kutarik-tarik rambutku, kumainkan dengan tak karuan. aku klimaks sayank.. aku sampai.. emmmh…,bathinku.

Akupun tertelungkup di dadanya. Dengan kontolnya yang masih menancap di memekku. Lemas rasanya setelah merasakan klimaks untuk yang kedua kalinya. Namun kulihat kekasihku hanya tersenyum, sambil nafasnya tetap menderu. Dapat kurasakan karena wajah kami sedemikian dekatnya. Entah apa yang difikirkan kekasihku ini, mungkin dia puas bisa membuatku lumer dua kali sejauh ini. Fikirku. Dan dia masih bertahan. Tapi biarlah, yang penting aku sangat menikmati sensasinya.

Tak berapa lama aku berada di posisi itu. Tubuhku kini sedikit diangkat dan dibalikkan olehnya. Kini aku terlentang. Dan dia sudah memposisikan tubuhnya untuk akan segera…, dan benar saja, sesaat kemudian dibukanya kedua kakiku melebar.. aku mengangkang di depannya. Terlihat liang senggamaku kembali berhadapan dengan batang kontolnya yang masih sangat tegak berdiri. Dan tak lama. Sleep.. sleep. Bless ! kontol itu kembali menghujam memekku. Kali ini agak keras hentakannya. Hingga aku agak tersentak, sekaligus merasakan sensasi nikmat, karena lagi-lagi g-spot ku tersentuh.Kocokannya lalu dimulai, dengan gerakan pinggul maju mundur, kontol berurat itu kini leluasa menikmati liang kenikmatanku yang sudah becek. Plok.. plok..plok… suaranya terdengar halus. Nikmat sekali rasanya, apalagi dengan gerakan andalannya. Sesekali dia memain-mainkan aku.. tusukannya tak beraturan.. kadang hanya sampai kepala.. ditarik lagi.. dimasukkan hanya setengah.. ditarik lagi.. lalu tiba-tiba menghujam dahsyat tanpa bisa aku perkirakan.. aaakkkhh.. oh yeeees. Emmmhh.. ohh.., ocehku karena perlakuannya itu. Bagaimana tidak, sensasinya sangat berbeda dan membuatku menggila. Kamu memang hebat sayank.. gumamku dalam hati. Plok.. sleepp… plok… sllleppp.. , masih terasa dan terdengar mengiringi persenggamaan kami. Lalu..Kocokan itu sesaat dihentikannya, dimiringkan tubuhku.. lalu dikocoknya lagi… ya ampuuun.. eeemmhpp.. makin terasa sentuhan dan gesekan antara kulit kelamin kami, dalam posisi itu. Karena dengan posisis kedua kakiku beradu ke arah samping, pastinya lubang memekku akan ikut menyempit. Dan pastinya itu akan menambah lagi sensasi nikmat untuk kami.

Tak seberapa lama, tanpa mengurangi kecepatan kocokannya yang sudah dari tadi membuatku menggelinjang, dia ubah lagi posisi menyampingku ke arah sebaliknya. Dan tetap dikocoknya terus miaw-ku olehnya. Hingga tiba-tiba iya berkata, namun sambil tetap menusuk-nusuk lubang memekku, ayank angetnya… emmmh…, bisiknya saat itu. Dan memang iya, jujur kuakui lagi-lagi aku klimaks. Namun aku hanya terdiam dan tersenyum.Kemudian, dengan sedikit gerakan, iya mencabut kontolnya dari memekku, diangkatnya tubuhku yang telah lemas ini, di posisikannya menungging, dan iya.. ditusukkannya lagi kontol itu ke memekku dengan posisi kami kini ber-doggystyle. Dalam posisi ini leluasa dapat kulihat dari cermin meja kosmetik milik bibiku di kamar itu. Dia sedang mengentotiku dengan sangat bernafsu. Maju mundur gerakan pantatnya terlihat olehku seiring dengan sensasi tusukan yang tak berkurang rasa nikmatnya.. ooh.. yess.. aaahhh.. sayank…,

Di raba-rabanya pantat dan punggungku dengan tatapan mata kagum. Mungkin karena keindahan bentuknya. Rambut hitam tebal layer-ku pun tak luput dari fantasi seksnya. Rambutku yang tadi tergerai bebas di punggung mulusku, kini diraihnya. Seolah dia kini adalah seorang joki yang sedang naik menunggangi kudanya yang berbody aduhai. Emmh.. sayaank… kamu cantik banget sih yank… emmh… , ocehnya tak karuan kudengar. Kubiarkan saja dia menikmati tubuhku dalam posisi ini. Karena aku yakin pasti sangat nikmat baginya. Menyetubuhi gadis putih mulus nan sintal sepertiku dari arah belakang. Plok.. plok..plok, suara syahwat saat dua kelamin kami beradu-pun semakin lantang terdengar. Karena mungkin memekku sudah semakin lumer, dan lumer lagi akibat tusukan kontolnya.

Kekasihku ini masih sangat bernafsu saat.. kurasakan ia merubah posisi bercinta kami kembali ke gaya konvensional. Ya, kini aku kembali terlentang dan mangangkang membuka pahaku lebar-lebar. Mempersilahkan kekasihku untuk kembali memasukkan batang kelelakiannya ke dalam lubang senggamaku. Dan benar saja, tak lama kemudian, bless. Kembali kontol itu terbenam di memekku. Namun kali ini kutahan pantatnya agar iya untuk sesaat tak bisa mengocokku. Bukan karena apa. Karana saat ini akan kuberikan sensasi servis lain untuknya.

Kutarik pantat kekasihku lebih merapat lagi ke tubuhku. Hingga kini tubuh kami berdua berhimpit sangat erat. Dalam posisi seperti itu, kontolnya-pun menjadi terbenam sangat dalam. Sesaat lagi akan kubuat dia merem melek. Pastinya. Karena setelah itu, langsung kumainkan rongga didalam liang senggamaku. Kuatur bergerak seiring dengan tarikan nafas dan perut yang tertahan-terlepas secara beraturan. Ya. Kubuat sensasi menyedot dan berdenyut untuk kontolnya yang sedang terbenam dalam. Emmpph.. hufft.. empph.. huft. Hasil latihan senam seks dan kegel-ku ini pastinya membuatnya tak kuasa menahan kenikmatan. Dan itu terlihat dari ekspresi mukanya. Matanya sesekali terpejam dan deru nafasnya makin tak karuan. Huuhh.. emmhh… kudengar. Dan benar saja, tak terlalu lama setalah itu. Langsung ditepiskannya tanganku dari pantatnya. Dan dia langsung mengocok lagi memekku dengan hebat. Kali ini bahkan kurasakan jauh lebih cepat dan cepat lagi.. yess.. emmmh.. fuck honey.. come on.. fuck me ! kataku. Nikmat sekali rasanya.Dan beberapa saat kemudian, untuk sesaat kocokannya terhenti. Dia membungkuk mendekatkan wajahnya ke arah wajahku. Lalu dia berbisik. Ayank.. aku dah mau keluar..

Kubalas dengan tatapan sayang pada kekasihku ini, sambil berkata lembut padanya. Ya udah sayank.. keluarin aja di dalem, kayaknya aku lagi gak subur.. keluarin aja yank. Mendengar jawabanku seperti itu, kulihat sinar cerah diwajahnya. Dan, kini iya kembali mengocokku dengan cepat.. sangat cepat, hingga entah tanpa aku sadari mungkin aku sudah lumer lagi tadi. Plok.. plok.. plok.. , suara itu beriring beradu dengan ohhh.. yeess.. ayo sayank.. ayo.. fuck me.. sayank.. emmh, ocehku.

Hingga akhirnya. Crettt.. creettt.. crettt.., aakkhhh… teriaknya bersamaan dengan tersemburnya pejuh hangat nan kental itu di memekku. Benar-benar nikmat yang teramat sangat kurasakan saat itu. Diapun lemas menjatuhkan tubuhnya diatasku sambil memelukku. Ku tahan pantat itu lebih lama lagi. Aku ingin benar-benar menikmati moment intim seperti ini. Tak terbayangkan sebelumnya, klo akan sangat nikmat seperti ini bila dikeluarkan di dalam.Tubuh kami masih bersatu saat iya tersadar dari klimaksnya dan berbisik padaku.. sayank, tadi enak banget. Iya sayank.. enak banget. Kataku membalas ucapannya. Dikecupnya keningku sambil rambutku dibelainya. Dan dia berkata, aku sayang kamu..

Kali ini tak kujawab. Karena tak perlu kuucapkan. Dia pasti sudah dapat merasakan apa kata hatiku. Karena dari hati yang paling dalam, akupun sangat menyayangi dia.

Kini iya terlentang tepat disampingku. Dan aku memeluknya. Memeluk erat. Kudekap tubuhnya. Hingga dapat kurasakan kehangatan itu. Lalu setelah cukup lama kemudian, aku berbisik padanya, ayank, udah yuk. aku mandi dulu ya kebelakang, takut keburu bibi dateng..

Ntar dulu sih yank.. sini aja, masih lama kali mamahnya Rendi pulangnya. Ucapnya padaku. Dan dia malah menarik bed cover lebih keatas lagi. Aku merasakan nyaman saat itu. Atau karena memang aku kelelahan setelah bercinta barusan. Dan kamipun terlelap tertidur pulas di ranjang itu. Masih tanpa selembar kainpun. Ya, kami masih telanjang di balik hangatnya bed cover ini. Hingga tanpa kami sadari, karena terlalu terlelap tidur…

Kreeeekkkkk…. brakk !!!! apa-apaan ini !!! kalian ngapain???, Dan kamipun terperanjat terkejut. Ya. Bibiku datang lebih cepat dari perkiraan kami. Ternyata setelah arisan meraka sepakat langsung pulang dan tidak jadi berbelanja bersama.

Ya ampuunnn Papaaaah…!!! Taniaaaa!!! Sialan kamu!!!

Itu yang masih terngiang olehku hingga kini. Kata-kata pahit yang sangat menusuk hatiku. Namun harus aku terima karena ini adalah kesalahanku. Telah merenggut cinta Manci Zul atas istrinya. Maafkan aku…Bibi, maafkan aku.


Selepas sekolah aku kuliah di akademi sekertaris. Aku pisah dengan keluarga dan tinggal sendiri. Tak jarang rasa sepi terasa saat jauh dari keluarga. Untunglah aku memiliki teman akrab yang dapat menghilangkan rasa sepi. Namanya Selly ia teman kampusku dan kebetulan kami satu kost.

Selly memang supel. Ia memiliki banyak teman dan kenalan. Sering ia memperkenalkan aku dengan teman-temannya. Tak jarang teman prianya mencoba untuk berpacaran denganku. Katanya sih aku cantik dan memiliki penampilan yang begitulah. Akhirnya aku berpacaran dengan kenalan Selly. Namanya Daniel. Ia sangat gigih untuk meluluhkan hatiku. Bisa dibilang temanku Selly memiliki pergaulan yang bebas. Memang ia memiliki banyak pacar dan tak jarang mereka menginap di kamar Selly.

Memang tempat kostku bagus dan bebas. Dan terkadang pacarku sering pulang malam. Tapi kami hanya mengobrol dan tidak melakukan apa-apa. Mungkin, karena Daniel cara berpacarannya jauh, terkadang ia mencoba untuk menaklukan tubuhku.

Baru kali aku menerima pria sebagai pacarku. Awalnya Daniel mencoba untuk mencium bibirku. Tapi aku menghindar dan menolaknya. Tapi karena usahanya yang gigih akhirnya bibir ini kuberikan. Hampir setiap bertemu ia melahap bibirku. Seakan tiada pertemuan tanpa berciuman. Tahap demi tahap usahanya berhasil membuatku memberikan tubuhku. Mulai dari bibir, dadaku dan kepolosan tubuhku yang tanpa sehelai pakaian. Kecuali keperawananku.

Sering Daniel meminta keperawananku. Tapi kutolak, kuanggap sudah semua kuberi. Kecuali satu ini. Setiap bertemu tubuhku selalu polos, karena Daniel selalu melucuti pakaianku. Awalnya aku merasa canggung. Awalnya aku hanya kasihan, mungkin karena kelembutan Daniel aku malah menyukai hal ini.

Aku memiliki komputer di kamar kostku. Sering Daniel membawakan film. Tapi lama-lama aku diajak nonton film XX. Awalnya aku risih, karena merasa lihat tubuh sendiri. Aku jijik melihat adegan-adegan itu. Tapi karena Daniel memberikan kelembutan disaat kami menonton, perlahan aku suka. Kuanggap sebagai pelajaran. Beberapa lama kemudian aku mempraktekkannya. Aku mencontoh beberapa adegan dan aku menyukainya. Sampai kuberikan liangku, tapi aku tetap perawan karena hanya liang belakangku yang kuberikan. karena kasihan terhadap Daniel yang menginginkan bersetubuh denganku.

Awalnya aku agak risih dan aneh. Tapi rasa nikmat yang kurasakan malah membuatku ketagihan. Sampai-sampai aku beronani saat kusendiri. Makin diasah rasanya aku makin butuh. Sampai kurobek sendiri selaput daraku dengan jari-jariku. Daniel tidak tahu hal ini. Kurasakan kenikmatan yang berbeda disaat liang vaginaku dimasuki sesuatu.

Saat malam minggu, Daniel dan aku bercumbu seperti biasanya. Sampai kami benar-benar terangsang dan sodomi kami lakukan. Aku menikmatinya, entah Daniel. Beberapa kali kurasakan semburan Daniel di liang anusku. Sampai-sampai liangku sangat licin. Akhirnya aku kelelahan dan kulihat Daniel ke kamar mandi. Sesaat kuterlelap. Beberapa lama kuterlelap. Sesaat kutersadar dan kurasakan kakiku mengangkang lebar. Terasa sentuhan yang lembut merangsang daerah sensitifku. Dengan reflek, dada dan daguku terangkat tinggi. Ah, birahiku mengalir di dalam darahku. Sesaat nafasku berburu, kumendesah. Kemudian kurasakan tubuhku dipeluk. Kurasakan bibir vaginaku tersentuh sesuatu. Perlahan suatu benda memasuki liang vaginaku. Sekejap kutahan nafas dan kurasakan nikmat seiring benda yang memasuki liangku. “Ooouuhh,” terucap seiring liangku tertancap dalam. Mataku tak dapat kubuka lebar karena kunikmati kejadian ini. Perlahan terlihat sosok Daniel.

Kurasakan Daniel mengeluar-masukkan miliknya perlahan. Mengapa kurasakan kelembutan dan kenikmatan dari sentuhannya. Beberapa lama kurasakan semburan di liangku. Aahh, rasanya, membuat rasa yang.. Sesaat kemudian kurasakan puncakku. Kudekap erat Daniel dan sesaat tubuhku menegang. Setelah itu kubenar-benar tersadar dan rasa bingung, sedih, kecewa dan senang bercampur aduk di hatiku. Rasa malu tersimpan di hatiku. Harga diriku sesaat hilang bersama persetubuhan itu. Beberapa kali Daniel menyetubuhiku. Tapi rasa klimaks yang kurasakan setiap berhubungan, membuatku ketagihan.

Akhirnya aku lulus kuliah. Dan Aku menjadi sekertaris. Bosku baik. Ia sudah menikah. Kurasakan orangnya lembut. Entah mengapa, lambat laun aku menyukainya. Perasaan sama kurasakan dari sikapnya. Kulihat ia rajin datang. Kami sering bersama dan kami sering mengobrol di dalam ruangannya. Awalnya kami berbincang. Akhirnya kami saling terbuka dan membicarakan tentang hal yang pribadi. Sesaat kami bertatapan. Rasa getaran yang kuat mengalir di tubuhku di saat dekat dengannya

. Mungkin karena rokku yang pendek membuat ia terangsang. Beberapa kali tangannya menyentuh pahaku. Awalnya aku ingin menolaknya. Tapi apa salahnya, maka kubiarkan. Karena sikapku ini Pak Rian semakin sering memegang pahaku. Tak jarang ia mengelus-elus dan bertahap menyusup ke selangkanganku. Sebenarnya aku ingin menepis perbuatannya. Mungkin karena aku menyukai, sentuhannya maka kubiarkan. Tampaknya ia merasa dapat lampu hijau dariku. Tangannya awalnya meraba pahaku dan akhirnya merembet ke selangkanganku, aku bingung haru berbuat apa. Aku hanya bisa diam, kemudian ia mengangkat rokku, merangkulku. Bibirnya menciumi kupingku, leher dan bibirku. Aku bingung harus bagaimana.

Hari-hari berikutnya ia melakukan hal ini terus. Suatu saat ia mencumbuku, kurasakan tangannya perlahan mengelus dari pahaku, pinggul, perut dan naik ke dada. Sesaat kami terdiam. Rasa campur aduk di hatiku. Serasa aku ingin memarahinya. Tapi aku tak dapat. Ia atasanku, dan sebetulnya aku menyukai hal ini.

Karena kuterdiam ia semakin menjadi. Dadaku ia raba-raba lalu diremasnya. “Dadamu empuk ya, besar loh,” bisik bosku. Kurasakan di dadaku mengalir rangsangan. Putingku terasa mengeras, nyilu dan nikmat. Rasanya kusuka. Kutak sanggup bergerak karena birahiku muncul. Beberapa lama kurasakan tangannya menikmati dadaku. Kemudian bibirku juga ia nikmati. Kurasakan bibirku dilahap dengan nafsunya. Beberapa lama mulai kurasakan kelembutannya. Kubalas kecupan bibirnya, lidahnya dan hisapan terhadap air liurku.

Beberapa lama kurasakan tanganku mulai sanggup bergerak. Perlahan kugerakkan dan kuhampiri pipinya. Lalu pipinya tersentuh tanganku dan kuelus-elus sebagai tanda kumenikmatinya. Kurasakan kemejaku keluar dari rokku. Ternyata Pak Rian mengangkatnya. Tangannya kurasakan menyusup dari perutku. Kurasakan sentuhan tangannya membuai perut lalu naik mendekap braku. Terbuai kulit dadaku. Beberapa lama kemudian tangannya menelusuri tali BH-ku dan akhirnya sampai dikaitan BH-ku.

Kurasakan tangannya mengelus punggungku sesaat. Lalu kurasakan kaitan bra-ku lepas. Pak Rian melepaskannya. Kurasakan jemarinya berjalan meraba punggunku dan akhirnya mendekap buah dadaku. “Tanpa bra lebih besar, lebih terasa,” bisik Pak Rian. Kurasakan tubuhku memasrah. Jemarinya memainkan putingku. Rasanya nyilu dan nikmat. Sekilas wajahku ke samping dan tertunduk. Perlahan kuhisap dan kugigit lembut bibir bawahku. Dadaku terangkat dengan reflek, seakan kusodorkan ke Pak Rian.

Kurasakan tangan Pak Rian keluar dan tak menyusup lagi. Bibirku ia kecup lagi. Perlahan tangannya kurasakan menyusup di celah lengan kemejaku. Tali bra-ku kurasakan ditariknya keluar sampai ke ujung jemariku tanganku. Sesaat kemudian taliku yang satunya juga ia lepaskan, kini tiada yang menahan bra-ku. Kemudian tangannya menyusup ke dalam kemejaku lagi. Penyangga buah dadaku kurasakan turun dan lepas keluar ditarik tangannya. Sesaat kurasakan putingku menyentuh langsung kemejaku. Lalu tangannya meremas-remas kemejaku yang menutupi langsung buah dadaku. Kemudian kurasakan putingku ia gelitik dengan lembut. Aahh, nikmat rasanya.

Sesaat terdengar dering telpon. Kami terhenti dan Pak Rian segera mengangkatnya. Sesaat terlihat kedua titik dadaku oleh mataku. “Kamu temenin aku nanti ya!” sahut Pak Rian kepadaku saat berbincang di telepon. Aku rasa aku harus memakai bra-ku lagi. Tidak enak bila terlihat karyawan lain. Sesaat kulepaskan kancingku satu persatu dan kulepaskan kemejaku sambil membelakangi Pak Rian. Sesaat kurasakan tubuhku didekap dari belakang. “Badan kamu bagus,” sambil tangannya meraba dan meremas buah dadaku lagi. Telingaku ia cumbu. Kemudian ia ajak lagi aku ke tempat duduk. Lalu ia duduk dan kedua tanganku ditarik sehingga aku mendudukinya secara berhadapan. Rokku terangkat dan celana dalamku terlihat jelas. Mulutnya segera melahap dadaku. Salah satu tangannya memelukku dan satunya lagi menikmati dadaku yang tersisa. Mataku terpejam sambil menikmati sentuhannya.

Bberapa lama ia menikmati buah dadaku. Ada teleon berbunyi. “Uah dulu, kita berangkat ya,” ucapnya setelah beberapa lama melahap tubuhku. Aku segera memakai dan merapikan pakaianku. Ia memintaku menemaninya rapat di pantai utara Jakarta. Setelah itu kami menyempatkan berbincang sambil melihat matahari terbenam di ujung laut.

Perlahan sore selesai dan mendung perlahan menutupi langit. Angin perlahan berhembus kencang dan gerimis turun. Akhirnya kami bergegas masuk kemobil. Perlahan hujan turun. Suasana di luar terlihat gelap. Rasa tenang aku rasakan di dalam mobil. Setelah lama mengobrol di mobil. Kulihat di sekitar mobil banyak yang berhenti parkir dan kadang ada yang bergoyang.

Mata Pak Rian kulihat menatapku. Lalu ia pindah ke tempat dudukku. Bibirnya segera melahap bibirku. Aku tak mau kalah dan kami bersaing. Kurasakan buah dadaku diraba tangannya, lalu diremas-remas dengan lembut. Sesaat kemudian kancing bajuku kurasakan dilepas satu-persatu, rasanya tali bra-ku juga dilepas. Dadaku ia telajangi. Perlahan bibirnya turun dari bibir, leher, pundak, sesaat senderan kursiku ia rebahkan dan kemudian buah dadaku ia lahap.

Daguku terangkat dan dadaku membusung ke mulutnya. Kurasakan nikmat, terkadang wajahku kuhadapkan ke kanan atau ke kiri sambil kugigit lembut bibir bawahku. Kurasakan pahaku ia raba dan kemudian ke celana dalamku. Beberapa lama kemudian kurasakan celana dalamku ia tarik dan lepaskan. Rokku juga tak ketinggalan. Kurasakan hembusan AC mobil membuai tubuhku bersama jemari Pak Rian yang meraba-raba hampir seluruh tubuhku dengan kehangatannya.

Buah dada dan bibirku ia gilir. Kurasakan tangannya turun dari perut ke tonjolan sensitifku. Lalu ia mainkan dan perlahan jarinya meraba bibir vaginaku yang sudah basah. Sesaat kurasakan liang vaginaku ia masuki dengan jarinya. “Ooouuhh,” ucapku sesaat. Kurasakan jarinya keluar-masuk di liangku. Beberapa lama kurasakan tubuhnya menindih tubuhku. Kurasakan ia membuka celananya. Kakiku ia buat melebar, lalu kurasakan bibir vaginaku tersentuh miliknya, sesaat liangku ia tancap sampai dalam dengan mudah. “Oouuhh,” ucapku sesaat lagi. Kurasa aku sudah basah. Tanpa tahapan ia langsung mengeluar-masukkan miliknya dengan cepat.

Kutaksanggup menahan rasa nikmat. Desahan demi desahan akhirnya terlepas dari mulutku. Tubuhku menjadi pasrah menikmati sentuhannya. Rasa nikmat membuatku cepat mencapai puncak. Beberapa lama kemudian kurasakan miliknya menyembur liang vaginaku. “Ooouuhh.. aahh..” terlepas dari mulutku seiring menikmati semburannya yang terasa hangat di liangku. Akhirnya kami istirahat sesaat. Mungkin karena suasana yang nikmat, kami akhirnya mengulangi beberapa kali.

Keesokannya ia menjadikan aku merangkap sekretaris pribadinya. Ia meminta aku tinggal di apartermen barunya. Kami semakin sering berhubungan. Mungkin hampir setiap hari. Aku juga membantunya memperlicin kerjsama dengan klien usahanya. Dari situ aku banyak mengenal orang-orang tertentu. Dan kunikmati petualangan ini. Mungkin karena aku menyukainya, aku bersedia jadi istri mudanya.

TAMAT


Adegan dalam video ini sungguh sangat membuatku shock, mulutku terbuka melongo. Aku merasa seperti orang dungu yang ditendang tepat diselangkangan. Apa yang terpampang dalam layer TV adalah rekaman isteriku dengan suami adik iparku. Dan mereka tengah bersetubuh. Aku tak bias mempercayainya! Tidak hanya kenyataan bahwa isteriku yang menghianatiku, tapi juga dia melakukannya dengan Bob, suami dari adiknya sendiri!

Jenny, adik iparku berdiri di sebelahku mengamati reaksiku akan rekaman video tersebut. Tampak jelas dia terluka dan marah. Dia menemukan rekaman video ini dalam laci yang tersembuni di meja kerja suaminya hanya beberapa jam yang lalu. Adegan di TV terus berjalan, aku berjalan menuju pantr di ruang sebelah dan menuangkan minuman ke dalam dua buah gelas. Jenny menerimanya tanpa sepatah katapun. Kami berdua meneruskan melihat rekaman video tersebut dalam diam.

Tampak jelas betapa usaha Bob dalam mengolah bentuk tubuhnya, tapi aku merasa senang karena betapapun hasil latihannya telah membuat otot tubuhnya menjadi besar dan kekar tapi itu tak membuat batang penisnya jadi lebih besar. Setidaknya aku masih lebih hebat dibagian itu. Tentu saja, Sherly terlihat menikmati apa yang didapatkan dari Bob terkecuali terhadap ukuran kejantanannya, aku cukup mengenal Sherly akan hal ini.

Isteriku mempunyai bentuk tubuh yang atletis. Dia rutin pergi ke gym dan selalu berusaha mengajakku ke tempat itu juga, tapi aku tak pernah punya ketertarikan dengan hal-hal semacam itu. Saat melihat adegan video tersebut, aku membayangkan apa mungkin hal tersebut akan mambawa perbedaan…

Jenny melangkah pergi untuk mengambil minuman, kupandangi dia, Jenny berumur 10 tahun lebih muda dari isteriku dan memiliki bentuk tubuh yang lebih montok dibandingkan kakaknya. Payudaranya juga lebih besar. Aku melihat perkembangan kedewasaan tubuhnya hingga menjadi seorang wanita muda yang cantik dalam beberapa tahun belakangan.

Dia dan Bob menikah dua tahun yang lalu. Sherly dan aku menikah jauh sebelumnya dan sekarang sudah memiliki 3 orang anak. Kami akan segera merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke duapuluh.

“Kamu tahu sudah berapa lama ini terjadi?” tanyaku begitu video tersebut berakhir. Sherly menggelengkan kepala.

“Mungkin sudah setahun lebih!” sambungnya ketus. Aku gelengkan kepala.

“Tidak, ini terjadi baru-baru ini. Kelakuan Sherly berubah aneh sejak sekitar bulan lalu dan sekarang aku baru mengerti sebabnya,” jawabku.

“Kakak kandungku sendiri!” kata Jenny dengan geram. Aku mengangkat bahu. Aku benar-benar tak bisa berkata apapun untuk membuat kenyataan ini menjadi lebih baik.

“Apa yang akan kita lakukan?” tanyanya, tampak jelas nada kemarahan dalam suaranya.

“Aku belum tahu,” ku hela nafas. Aku masih sangat terguncang untuk dapat berpikir jernih.

“Abang belum tahu?” tanyanya tak percaya. Aku hanya mengangkat bahu kembali.

“Kakakmu dan anak-anak sedang berakhir pekan di rumah pantai dan kakek nenek mereka juga ikut di sana. Aku rasa aku butuh waktu 24 jam untuk membuat keputusan drastis.”

“Well, aku sudah tahu apa yang akan kulakukan!” potong Jenny. Kupegang kedua bahunya dengan tanganku untuk meredakannya.

“Bukankah Bob sedang diluar kota sekarang ini?”

“Ya,” jawabnya, tapi segera menambahkan dengan nada marah sebelum aku mampu melanjutkan, “Mungkin sekarang ini dia sedang meniduri wanit lain lagi!”

“Aku rasa tidak,” jawabku sambil menggelengkan kepala.

“Apa?”

“Dengar, aku cukup mengenal Bob dengan baik dan dia bukan tipe lelaki yang suka main perempuan,” kataku, meskipun sadar betapa menggelikannya penjelasanku ini.

“Kamu pasti bercanda,” tukas Jenny. Aku hanya mengangkat bahu.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku tak percaya kalau Sherly dan Bob sengaja melakukan ini.”

“Itu kan sudah terlihat jelas di video itu!” teriak Jenny.

“Apa ada kelakuan Bob yang aneh akhir-akhir ini? Aku tahu kalau sekarang ini Sherly sedang mengalami puber kedua. Dia baru saja memasuki usianya yang ke tiga puluh sembilan dan perasaan akan berumur empat puluh di tahun depan sangat membuatnya resah.”

“Itu bukan alasan!”

“Aku tidak bilang ini suatu alas an, tapi aku rasa itu bukan bagian dari penyebabnya,” jawabku. Jenny menatapku dan menggelengkan kepala, tapi kemudian dia menarik nafas dan kelihatan agak sedikit mereda emosinya.

“Sudah satu tahun kami mencoba untuk mendapatkan seorang bayi, tapi belum juga beruntung. Aku tahu itu sangat mengganggu Bob,” jelasnya sambil menggosok kedua lengannya, tapi kemudian ketenangannya sirna dan matanya berkilat marah, “Itu juga sangat menggangguku, tapi aku tidak lari dan tidur dengan salah satu saudaranya!”

“Kamu benar,” jawabku, coba menenangkannya. “Tapi aku masih merasa kalau kita butuh waktu beberapa hari untuk berfikir sebelum membuat keputusan besar.”

“Baiklah! Mungkin abang benar, tapi aku merasa itu tak akan membantu,” tukasnya, Rasa sakit dan marahnya terlalu besar untuk ditahannya.

“Besok malam kamu kembali saja kemari dan kita bicarakan lagi,” tawarku. “Sebelum itu kita berdua punya waktu untuk menenangkan diri.”

Jenny terlihat tidak puas, tapi dia mengangguk setuju. Dia mengeluarkan video tersebut dari dalam player dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Aku berharap dia tidak melakukan suatu tindakan yang bodoh sampai dia merasa tenang.

Kuputuskan untuk mandi, aku merasa kotor. Aku pergi ke kamar mandi, menyetel suhu air panas dan melihat pantulan bayanganku di dalam cermin. Kamar mandi ini mulai terisi uap panas saat kutatap mataku. Ini akan jadi sebuah malam yang panjang dan aku merasa ragu akankah berangkat kerja besok pagi.

***

Jenny dating ke rumahku malam berikutnya. Dia terlihat lebih kurang tidur dibandingkan aku, tapi setidaknya dia terlihat jauh lebih tenang dibandingkan kemarin.

“Jadi, apa keputusan abang?” tanyanya langsung tanpa basa-basi. Aku mengangkat bahu.

“Apa ini tidak membuat abang marah?” tanyanya gusar.

“Tentu saja ini membuatku marah, tapi aku tetap tak bisa merubah apa yang sudah terlanjur terjadi.” Kenyataannya adalah aku lebih merasa sakit karena dikhianati dari pada kelakuan mereka.

“Astaga, aku benar-benar heran dengan abang? Aku akan minta cerai pada Bob! Abang juga mestinya menceraikan Sherly!” kata Jenny. Aku gelengkan kepala, aku sudah punya keputusan sendiri.

“Itu tak akan terjadi. Kakakmu Sherly dan aku punya tiga orang anak. Kami sudah berumah tangga hamper dua puluh tahun,” kutarik nafas, lalu melanjutkan, “Aku sangat mencintai kakakmu, dan perbuatannya dengan Bob tak akan mampu menghapus cinta itu begitu saja. Aku merasa sakit dan aku akan mencari tahu kenapa dia merasa harus mengkhianatiku, tapi aku tak akan menceraikan dia.” Jenny menatapku tajam.

“Abang akan memaafkannya,” tanyanya tak percaya. Aku mengangguk. Jenny menggelengkan kepalanya, air matanya mulai keluar. Aku merengkuhnya ke dalam pelukanku dan dia mulai terisak. Ini berlangsung untuk beberapa saat lamanya hingga akhirnya dia dapat mengendalikan diri.

“Aku rasa aku tak akan bisa memaafkan Bob,” akhirnya dia berkata.

“Jenny, apa kamu benar-benar ingin berpisah dengan Bob?” tanyaku. Sejenak dia ragu sebelum akhirnya menggelengkan kepala.

“Tapi aku tak bisa membiarkan begitu saja perbuatannya,” jawabnya lirih.

“Ayo kita ambil minum dulu,” tawarku. Dia mengangguk setuju.

Gelas yang pertama terasa hanya untuk membasahi tenggorokan saja. Gelas yang ke dua baru terasa pengaruhnya. Aku bilang ingin pergi ke kamar mandi sebentar saat jenny menuangk minuman pada gelas ketiganya. Ketika aku keluar dari kamar mandi aku mendapati dia melihat rekaman video tersebut lagi. Aku menghela nafas, menghampirinya untuk mematikan TV.

“Kamu tahu kan, ini tak akan membantu,” kataku. Di menghela nafas. Kami meminum gelas ketiga dalam diam. Kali ini giliran Jenny yang pergi ke kamar mandi saat aku menuang gelas yang keempat. Aku masih belum merasa mabuk, tapi rasa sakit di hati sedikit terasa hilang.

Jenny keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arahku. Segera saja aku menyadari ada sesuatu yang berubah. Pertama, Jenny terlihat sudah mengambil sebuah keputusan. Yang kedua, tak mungkin rasanya kalau tak melihat kalau beberapa kancing bajunya yang atas terbuka dan dia tak lagi memakai bra. Aku dapat melihat jelas putting payudaranya dari balik blouse-nya.

“Jenny, apa yang kamu lakukan?” tanyaku bingung.

“Aku akan melakukan sesuatu yang mungkin bisa mempertahankan pernikahanku setelah pengkhianatan Bob. Aku akan meniduri abang,” jawabnya. Aku baru saja akan memprotesnya, tapi dia sudah langsung melumat bibirku. Disamping itu, kalau mau jujur, meskipun aku memutuskan untuk memaafkan Sherly, aku juga sama terlukanya dengan Jenny. Meniduri Jenny, benar atau salah, mungkin saja akan menolong. Aku merasa sangsi kalau ini akan bisa menyakiti mereka.

Dalam sekejap saja kami sudah tak berpakaian lagi dan aku terkejut melihat buah dada Jenny bahkan lebih besar dari yang pernah kubayangkan. Ukuran payudara Sherly breasts sekitar B cup. Tapi menurutku putingnya yang mesar mencuat itu terlihat seksi pada ukuran payudaranya.

Payudara Jenny yang jauh lebih besar dibandingkan isteriku tampak sangat menggiurkan. Mungkin ukurannya C cup, tapi sangat pasti kalau ini adalah ukuran full C cup. Putingnya tidak sepanjang punya kakaknya, tapi lebih gemuk. Dia tersenyum memergoki aku yang terpana melihat dadanya.

“Ini milikmu sepenuhnya,” kata Jenny sambil menyangga kedua buah dadanya dengan kedua tangannya sekaligus meremasnya menggoda. Kuhabiskan gelas keempatku dan segera membenamkan wajahku ke dalam dua bongkahan daging kenyal didepanku. Tangan Jenny bergerak ke bawah untuk meraih batang penisku.

“Wah, punya abang besar sekali!” katanya, gairahnya terdengar besar dalam nada suaranya. Aku bergerak turun menelusuri lekuk tubuhnya, melewati perutnya dan mulai menyapukan lidahku pada bibir vaginanya.

Dia segera bersandar pada dinding di dekatnya dan memegangi kepalaku dengan kedua tangannya sambil mendesah. Segera saja tubuh Jenny mulai tergetar ketika aku konsentrasi pada kelentitnya. Langsung saja dia meraih orgasme pertamanya dan aku harus menyangga tubuhnya sebelum dia jatuh. Lalu kugendong dia menuju ke kamar tidur.

Kurebahkan tubuhnya di atas ranjang, Jenny menjulurkan kedua lengannya ke depan menmintaku untuk segera naik. Aku merangkak menaiki tubuhnya dan memberinya sebuah ciuman yang dalam. Nafasnya tercekat saat ujung kepala penisku menemukan jalan masuk ke dalam vaginanya.

“Kamu yakin mau melakukan ini?” tanyaku. Dia mengangguk.

“Kakakku, isteri abang, meniduri suamiku. Aku rasa baru adil kalau aku menyetubuhi abang di atas ranjangnya sendiri. Ini cara untuk membalas kelakuan Bob dan Sherly diwaktu yang sama,” nada amarah terdengar dalam jawabannya, tapi dia kemudian tersenyum dan menambahkan, “Lagipula, aku tak akan melepaskan begitu saja setelah melihat ukuran penis abang ini.” Kemudian segera saja lenguhan nikmat terlepas dari bibirnya saat dia menggunakan kakinya untuk menarik tubuhku ke arahnya.

“Aku merasa sangat penuh!”

Batang penisku hanya baru masuk 3/4nya saja ke dalamnya. Kudorongkan lagi, tapi dia merintih kesakitan. Aku coba hentikan, tapi dia tidak mengijinkanku. Nafasnya tersengal terdengar antara menahan deraan nikmat atau sakit, dan dia terus mengguna kan pahanya untuk menarikku semakin erat. Bahkan tangannya mencengkeram pantatku dan menariknya dengan keras hingga seluruh batang penisku terkubur dalam lubang anusnya.

“Oh mami!” teriakan lepas keluar dari bibirnya saat aku berhasil membenamkan batang penisku seluruhnya. Aku diamkan tanpa bergerak agar dia terbiasa dengan ukuranku.

“Ayo bang! Setubuhi aku!” akhirnya dia berkata dan memang itu yang segera akan aku lakukan. Pada awalnya secara perlahan kukeluar masukkan, tapi atas desakan Jenny segera saja aku menyentaknya dengan keras dan cepat. Langsung saja orgasme kedua diraihnya dan tanpa henti. Aku piker dia akan pingsan saat teriakan nikmatnya terdengar keras sekali.

“Jenny, aku hamper keluar!” teriakku. Dia mendorong tubuhku berganti posisi hingga dia berada diatas dan mulai menunggangi batang penisku.

“Lakukan, bang! Isi rahimku dengan benih abang!” ucapnya semakin membakar gairahku.

“Tapi, kita tidak pakai pelindung!” kataku ragu. Tapi keraguanku malah semakin membuat pantulan tubuhnya semakin keras saja dan tak ayal aku langsung keluar jauh di dalam rahimnya. Kusemburkan begitu spermaku ke dalam vaginanya hingga meleleh keluar pada pahanya seiring pompaan naik turun tubuhnya di atasku.

Kami berdua rebah tak bergerak dengan tubuhnya yang masih menindihku untuk beberapa waktu. Akhirnya dia mengangkat kepalanya dan menatapku dengan diam.

“Kamu tidak apa-apa?” tanyaku khawatir tapi dia malah tertawa.

“Aku merasa sangat ehmm…! Saat ini, aku tidak tahu apakah akan meninggalkan Bob dan tak akan bicara dengan Sherly lagi ataukah aku mestinya berterima kasih pada mereka. Abang sangat menakjubkan,” katanya. Aku tertawa dan menurunkan tubuhnya dari atasku.

“Aya mandi, aku sangat ingin bermain lagi dengan dada montokmu ini,” Kataku sambil meremas buah dadanya lalu menggamit tangannya. Kami bawa serta gelas minuman yang kosong, mengisinya lagi untuk yang terakhir kalinya sebelum bergandengan tangan masuk ke kamar. Lansung saja kami habiskan gelas terakhir kami setelah mengatur suhu shower. Tawa riang tak hentinya keluar dari bibir kami saat air hangat mulai turun membasahi kedua tubuh berkeringat kami.

Kusabuni dada montoknya dan menghabiskan setidaknya sekitar sepuluh menit meremasinya. Disaat yang bersamaan dia juga menyabuni batang penisku. Begitu penisku kembali mengeras, aku bergerak ke belakang tubuhnya, masih tetap meremasi buah dadanya. Aku mulai menciumi lehernya dan batang penisku kugesekkan pada celah bongkahan pantatnya. Penisku masih berlumuran sabun sehingga dengan mudah melesak masuk.

Saat bibir kami saling melumat dalam ciuman yang dalam, kepala penisku terdorong masuk ke dalam lubang anusnya. Jenny merenggangkan pahanya dan penisku melesak masuk dengan sendirinya seakan punya maksud sendiri, Aku terkesiap dan berusaha menariknya keluar.

“Sorry! Ini masuk begitu saja…” aku berusaha menjelaskan, tapi Jenny malah menyeriangai lebar dan mendorong pantatnya ke belakang membuat kepala penisku semakin menyelam ke dalam lubang anusnya. Aku mengerang keenakan.

“Jangan bilang kalau kak Sherly tidak pernah mengijinkan abang melakukan anal seks?” tanyanya menggoda.

“Tidak, tidak pernah,” jawabku.

“Baiklah kalau begitu, kalau abang mau abang boleh merasa bebas menyetubuhi anusku semau abang!” katanya manantang dan bagai api yang disiram minyak, langsung saja aku lesakkan batang penisku jauh ke dalam lubang anusnya.

Kedua tangannya terjulur kedepan pada dindning untuk menahan tubuhnya yang terguncang dengan keras oleh sodokanku. Buah dadanya yang montok terayun menggoda, membuatku dengan segera bergerak meremas keduanya. Tapi tanganku langsung beralih untuk mencengkeram pinggulnya untuk menjaga keseimbangan kedua tubuh kami karena ayunanku.

“Ya! Terus bang! Dorong penis abang ke dalam anusku! Makin dalam bang!” teriak Jenny dalam kenikmatan. Salah satu tangannya masih menahan tubuhnya pada dinding sedangkan yang satunya lagi mulai bergerak kea rah selangkangannya.

“Yes!” teriaknya saat aku semakin keras mengayunkan batang penisku semakin ke dalam. Dapat kurasakan otot pantatnya yang mulai mengencang saat dia menggesek kelentitnya sendiri. Tak mampu lagi kutahan, kulesakkan seluruh batang penisku terkubur seutuhnya dalam cengkeraman lubang anusnya dan kembali, sekali lagi aku keluar dengan hebatnya. Sentakanku yang terakhir membuat kaki Jenny benar benar terangkat dari lantai kamar mandi karena kerasnya. Dan hal tersebut membuat Jenny bergabung bersamaku dalam ledakan orgasmu sejenak kemudian.

Kami berjalan berpelukan dengan sempoyongan keluar dari kamar mandi menuju ke kamar tidur kembali. Aroma seks tercium sangat pekat di dalam kamar dan kami kesulitan untuk menemukan area sprei yang kering di tempat tidur. We stumbled out of the shower and back to the bedroom. The room smelled like sex and we had problems finding a dry spot on the bed. I was barely settled before Jenny crawled between my legs and started blowing me.

“Kamu benar-benar liar!” kataku.

“Ternyata balas dendam itu rasanya jauh lebih manis dari yang kudugatimpalnya dengan tersenyum puas. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Dia benar benar wanita muda yang penuh amarah, tapi… apapun itu adik iparku ini benar benar sangat menggairahkan!

Jenny merapatkan kedua daging payudaranya yang kenyal menjepit batang penisku dan mengocoknya begitu batangku mengeras lagi. Dia masih asik melakukannya ketika tiba-tiba saja Sherly berjalan masuk ke dalam kamar tidur…!!!

“Jenny! Teganya kamu?” teriak Sherly terdengar hamper menangis, tapi Jenny Cuma tersenyum sinis.

“Teganya aku? Kakak pasti bercanda! Coba kakak periksa rekaman video di bawah. Itu rekaman perselingkuhan Bob dengan kak Sherly,” balas Jenny said lalu kemudian dengan mata menatap kea rah kakaknya, dia memasukkan batang penisku hingga ke batangnya.

“Anak-anak mana?” tanyaku merasa tak nyaman. Aku coba untuk bergerak, tapi Jenny tak membiarkanku. Dia ingin agar Sherly melihat aksi kami berdua.

“Kutitipkan di rumah mami. Aku mau memberimu kejutan ‘a night out alone’,” jelasnya, nampak jelas rasa kecewa dan terkejutnya.

“Nah, aku rasa yang terkejut sekarang adalah kakak. Apa kakak benar-benar berharap kalau rekaman itu tak akan diketahui oleh siapapun?” Tanya Jenny. Sherly menggelengkan kepala.

“Kakak keliru,” kata Jenny, lalu menambahkan dengan nada sinis, “Nah, sekarang impas kan?” tangis Sherly benar-benar pecah sekarang dan dia berlari meninggalkan kamar. Bukannya merasa puas telah membalas dendam, tapi aku malah merasa sangat tidak enak. Kudorong tubuh Jenny menjauh dan pergi menyusul Sherly. Kutemukan dia di ruang keluarga, sedang menyaksikan rekaman videonya dengan Bob. Dia menoleh dan memandangku dengan tatapan yang berlinang air mata.

“Aku sungguh-sungguh minta maaf!” ucapnya diantara isak tangisnya. “Itu terjadi begitu saja bulan lalu. Bob tengah frustrasi karena Jenny tak juga hamil. Kami minum-minum dan aku tak ingat pasti apa yang terjadi kemudian, yang kuingat saat aku terbangun, kita tidur berdua di ranjangnya. Apakah kamu mau memaafkanku?” tanyanya. Aku hendak mulai menjawab, tapi Jenny sudah berada di ruangan ini.

“Abang percaya semua omong kosong ini? Itu mungkin benar kejadian pertama kalinya, tapi bagaimana dengan yang berikutnya? Kak Sherly terlihat jelas sangat menikmatinya dalam video itu,” potong Jenny dengan marah. Wajah Sherly berubah merah oleh rasa malu.

“Kami melakukannya cuma dua kali saja,” bela Sherly lirih, meskipun dia sadar itu tak banyak membantunya.

“Kejadian yang kedua terjadi saat Bob menelphone-ku untuk dating dan bicara. Aku juga terkejut saat mendapati ada sebuah kamera yang dalam keadaan siap rekam. Lalu dia memperlihatkan padaku rekamannya dengan Jenny yang sedang bercumbu. Kami sepakat untuk menghentikan affair ini, tapi Bob ingin membuatsebuah video sebagai kenang-kenangan.”

“Dan kakak tak mampu menolaknya, kan?” potong Jenny dengan tajam.

“Aku mau menolaknya!” jawab Sherly, tapi kemudian meneruskan dengan suara pelan, “Tapi video kalian berdua benar-benar membuatku jadi terangsang. Melihatmu bercumbu dengan Bob sangat membuatku terangsang.”

“Kakak jadi terangsang karena melihatku?” Tanya Jenny tak percaya. Sherly tak berani menatap kami berdua, tapi dia hanya mengangguk. Aku gelengkan kepala. Aku benar-benar kaget dengan apa yang dikatakan Sherly barusan.

“Jenny, Sherly dan aku menikah di usia muda. Aku tidak heran jika kakakmu membayangkan apa yang hilang dari masa mudanya setelah kami menikah dulu. Aku juga merasakan hal itu.”

“Lalu apa abang berselingkuh di belakang kakak?” Tanya Jenny asked. Kugelengkan kepala.

“Tidak sampai hari ini,” jawabku. Sherly mulai merasa tak nyaman.

“Aku benar-benar minta maaf! Aku sangat mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu,” kata Sherly. Aku tersenyum mendapati situasi ini. Ketakutan terbesarku adalah jika Sherly sudah tidak mencintaiku lagi. Sekarang aku tahu itu tidak benar.

“Aku tak akan meninggalkan kamu. Andai saja kamu ceritakan padaku tentang semua ini sebelum kamu membuat keputusan, mungkin kita bisa lakukan itu bersama.”

“Bersama?” tanyanya. Dia terlihat jelas terkejut.

“Ya. Sherly, aku punya sebuah fantasi yang ikin kulakukan. Aku tak pernah menceritakannya padamu karena kupikir kamu sangat konservative tentang seks dan kupikir kamu akan marah jika kuajak membicarakannya. Aku tak ingin kehilangan kamu.”

“Sungguhkah?” tanyanya, ketakutanna perlahan berubah menjadi sebuah harapan. Kurengkuh dia ke dalam pelukanku dan memberinya sebuah ciuman yang sangat dalam sebagai jawabannya.

“Jadi, abang mengijinkan pria lain menikmati tubuh isteri abang?” Tanya Jenny tak percaya Aku mengangkat bahu dan tersenyum.

“Aku tak masalah jika Sherly bercinta dengan orang lain, Cuma syaratnya aku harus ada di sana dan dia pulang ke rumah kembali bersamaku.”

“Menakjubkan,” kata Jenny, tak tahu harus berkata apalagi.

“Jenny, meskipun ini tak membantu, Bob mengatakan padaku kalau hanya dengankulah satu-satunya wanita yang pernah berselingkuh dengannya. Aku percaya padanya. Bob benar-benar mencintaimu,” kata Sherly, masih memelukku. Jenny masih tetap menggelengkan kepala.

Kutarik kembali Sherly dalam sebuah ciuman. Aku masih tetap telanjang, sedangkan Sherly masih berpakaian lengkap. Aku mulai melucuti pakaiannya. Dan dia membantu mempercepatnya.

“Hey, bagaimana dengan aku?” Tanya Jenny. Sherly memandangku seakan meminta ijin. Aku mengangguk, masih meraba-raba kemana ini akan berakhir. Isteriku menatap adiknya dan menyeringai lebar.

“Jenny, kamu sangat boleh bergabung dengan kami,” undangnya. “Sudah kukatakan, Aku sangat suka melihatmu bercinta dengan Bob. Kurasa melihatmu melakukannya dengan suamiku pasti akan lebih dahsyat lagi!” Aku sama terkejutnya dengan Jenny, tapi aku sudah terlalu terangsang oleh wanita yang kunikahi hamper dua puluh tahun ini.

Sherly dan aku tak menunggu jawaban Jenny lagi. Kupanggul Sherly menuju ke kamar tidur kami dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi tengkurap. Dia protes soal aroma dan kenyataan kalau sepreinya telah habis dipakai, tapi protesnya tersebut langsung terhenti begitu kulesakkan batang penisku ke dalam lubang vaginanya. Kupegangi pinggulnya saat aku mulai bergerak keluar masuk.

“Ya, setubuhi aku sayang!” teriaknya. Sherly tidak pernah berkata mesum saat berhubungan seks sebelumnya. Birahiku benar-benar terbakar oleh perubahan isteriku ini. Kami berdua benar-benar terhanyut dengan irama persetubuhan ini hingga aku dikejutkan oleh sebuah tangan yang memegang buah zakarku.

“Jadi, akhirnya kamu putuskan untuk bergabung dengan kami,” kataku pada Jenny. Dia mengangkat bahunya, tersenyum nakal dan kemudian menciumku.

“Aku tak akan pernah melewatkan kesempatan untuk menikmati batang penis abang lagi,” katanya begitu lumatan bibirnya denganku berakhir. Kemudia dia menampar pantat Sherly dengan keras. Sherly teriak terkejut.

“Disamping itu, aku masih belum memberikan hukuman pada wanita jalang yang sudah menyetubuhi suamiku ini,” katanya sebelum memberi sebuah tamparan lagi.

“Hey! Hentikan,” cegahku. Aku mencintai Sherly dan tidak ingin melihat dia disakiti.

“Tidak apa-apa! Aku memang pantas mendapatkannya,” kata Sherly, mengejutkanku, tapi kurasa Jenny sudah mengira akan hal ini.

“Nah kakakku yang jalang, kakak suka dengan kekerasan ya,” kata Jenny dengan yakin sambil memilin putting kakaknya dengan kasar. Sherly berteriak antara sakit dan nikmat. Baru saja aku mau menghentikan semua ini, tapi Sherly malah mulai meledak orgasmenya. Ini akan menjadi sebuah eksplorasi yang menarik dilain waktu.

Jenny menarikku menjauh dan menaiki batang penisku. Tak perlu menunggu waktu untuk penyesuaian yang lama lagi seperti saat pertama kali, dia kemudian mulai bergerak naik turun di atasku sekali lagi. Aku sudah dekat dengan orgasmeku saat akhirnya Sherly pulih kondisinya setelah ledakan orgasmenya. Dia melumat bibirku dengan liar sebelum tangannya bergerak meremas pangkal batang penisku.

“Hey, hentikan, kakak merusak iramaku!” Jenny komplain. Sherly tersenyum, melepaskan cengkeramannya dan menarik Jenny dalam sebuah ciuman. Ciuman keduanya sangat lama dan juga basah, tapi saat akhirnya selesai Jenny kembali komplain.

“Wanita jalang!” teriaknya, yang sebenarnya hanya terkejut oleh aksi Sherly barusan. Isteriku hanya tersenyum.

“Sudah kubilang kan, kalau melihatmu bisa membuatku sangat terangsang. Apa yang kamu harapkan saat memutuskan untuk bergabung dengan kami?” jawab Sherly, dan kemudian tangannya bergerak ke bawah untuk memainkan kelentit Jenny. Segera saja nafas Jenny mulai tersengal.

“Aku tidak tertarik pada wanita! Singkirkan tangan kakak!” perintahnya, tapi Jenny tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan Sherly.

“Aku juga belum pernah melakukannya dengan seorang wanita sebelumnya. Aku rasa kamu juga. Bagaimana kamu tahu kalau kamu tak suka?” Tanya Sherly.

“Tapi aku kan adikmu!” jawab Jenny. Sherly tak menghiraukannya.

“Aku yakin kalau mulutmu pasti akan lebih bermanfaat daripada hanya bicara tak karuan begitu,” jawab Sherly, lalu kemudian kembali melumat bibir adiknya lagi.

“Wow! Sherly, ini sangat hot! Jika saja aku tahu lebih awal kalau kamu juga mau melakukannya denga wanita juga,” kataku dengan seringai lebar. Sherly hanay mengangkat bahu.

“Siapa kira? Aku juga tak pernah membayangkan sebelumnya sampai aku lihat videonya Jenny dengan Bob,” jawabnya sebelum kemudian membungkuk kedepan untuk menghisap salah satu putting payudara Jenny. Mengerang keras Jenny mulai orgasme.

Aku mencoba untuk bertahan, tapi segera saja aku seburkan spermaku ke dalam vagina Jenny juga. Jenny membuat kami berdua terkejut saat dia menjambak rambut kakaknya agar mendekat padanya dan melumat bibirnya dengan liar ditengah ledakan orgasme yang melandanya.

Sherly meraih batang penisku dan memasukkannya ke dalam mulutnya begitu orgasme yang mendera kami berdua mereda.

“Iih, menjijikkan! Penis abang kan penuh dengan cairanku,” kata Jenny dengan wajah menyeringai. Sherly hanya tersenyum lalu mendorong tubuh adiknya hingga terlentang. Dia bergerak menaiki tubuh Jenny dan duduk di atas dada montoknya. Membuat vaginanya berada sangat dekat ke mulut Jenny. Jenny meronta beberapa saat, tapi Sherly lebih kuat dan lagipula tubuhnya berada di atas menindih Jenny.

“Sekarang giliranku untuk orgasme dank arena kamu sudah memakai penis suamiku untuk orgasme, kamu harus menggantikan tugasnya. Jilat vaginaku Jenny!” perintah Sherly. Aku hanya menyaksikan dengan terpesona. Aku tengah menyaksikan bagian dari diri Sherly yang tak pernah kusangka dimilikinya. Jenny mencoba memprotes, tapi Sherly sama sekali tak mengacuhkan. Disorongkan vaginanya kea rah mulut adiknya dan mendesah keras beberapa saat kemudian ketika lidah Jenny menelusup ke dalam lubang vaginanya.

“Ya, begitu Jennyy! Tepat di situ!” ceracau Sherly. Mereka berdua seakan asyik masyuk dalam dunianya sendiri dalam beberapa menit ke depan sebelum pada akhirnya Jenny mendorong tubuh Sherly dari atasnya.

“Hey!” protes Sherly, tapi Jenny cuma tertawa. Dia kemudian mengatur untuk melakukan posisi enam-sembilan dengan isteriku. Kuamati lidah Jenny langsung melata keluar masuk ke dalam vagina kakaknya. Sherly ragu untuk beberapa saat sebelum akhirnya lidahnya juga memberi aksi yang sama terhadap vagina Jenny.

Terlihat jelas bahwa kedua wanita ini sangat menikmati dan larut terhadap apa yang tengah mereka perbuat. Sudah cukup lama mereka saling memuaskan birahi satu sama lainnya dan aku yakin kalau keduanya sudah mendapatkan paling tidak sebuah orgasme. Batang penisku akhirnya sekali lagi mengeras sepenuhnya dan aku tengah bingung untuk memutuskan apa yang akan kulakukan. Jenny melihat kebingunganku dan mengedip kepadaku sambil sebuah jarinya menyelip masuk ke dalam lubang anus Sherly. Sherly mengerang.

Jenny terus memainkan jemarinya di dalam lubang anus Sherly sambil tetap mengoral vaginanya. Sejenak kemudian Jenny mengisyaratkan padaku untuk mendekat. Dicengkeramnya batang penisku dan menempatkan kepala penisku tepat di lubang anus Sherly. Kudoeng sedikit hingga kepalanya masuk sebelum Sherly akhirnya menyadari apa yang tengah terjadi.

“Tunggu!” teriaknya, tapi Jenny tetap berkonsentrasi pada kelentitnya dan itu membuat perhatian Sherly kabur. Kumasukkan beberapa centi lagi.

“Hentikan, ini sakit!” erang Sherly. Jenny menampar pantat isteriku dengan keras.

“Tapi rasanya sangat nikmat, kan?” tanyanya pada isteriku. Sherly hanya mengerang. Kumasukkan lagi lebih dalam.

“Ya!” Sherly semakin mengerang keras.

“Jadi, diam dan nikmati saja!” perintah Jenny menampar pantat Sherly lagi. Jenny merangkak ke bawah tubuh Sherly dan mulai mempermainkan kelentitnya.

Aku terus mendorongkan penisku semakin ke dalam anus Sherly. Rasanya sangat rapat dan aku tak yakin sepenuhnya apakah dia menikmati ini ataukah tidak.

“Apa kamu ingin aku berhenti?” tanyaku meyakinkan.

“Jangan! Masukkan seluruhnya. Sodomi aku!” teriak Sherly. Dan jawaban itu membuatku melesakkan sisa penisku selurhnya tanpa ragu lagi. Dia langsung mulai orgasme. Kurasakan denyutannya seiring tiap sodokanku.

Kusodomi Sherly dengan keras dan cepat, membuat buah zakarku menghantam dahi Jenny. Segera saja aku orgasme beberapa menit kemudian. Sherly dan aku rebah kecapaian sedangkan Jenny meberi kami masing-masig sebuah ciuman yang penuh nafsu yang dalam. Tak disangsikan lagi kalau dia juga sangat membutuhkan sebuah pelapasan yang sangat mendesak.

Begitu kondisiku dan isteriku mulai pulih, tanpa menyia-nyiakan waktu lagi kami berdua langsung berkonsentrasi pada vagina Jenny. Dengan bergantian lidah kami mengeksplorasi seluruh titik sensitifnya. Dan itu membuat Jenny merintih memintaku agar segera menyetubuhinya langsung.

Kuposisikan dia dalam dogy-style, Sherly memposisikan dirinya diantara tubuhku dan Jenny dan mencumbu anus adiknya dengan menggunakan lidah. Hal ini terlalu berlebihan untuk dapat ditahan Jenny lebih lama lagi dan orgasme segera menggulungnya. Denyutan liar dinding vagina Jenny tak mampu kutahan, kulit penisku yang terasa sangat sensisit segera memberiku ledakan orgasme yang berikutnya. Isteriku terus saja mencumbui lubang anus adiknya saat aku semburkan kembali spermaku di dalam vagina adik iparku untuk kesekian kalinya.

Kami bertiga hanya mampu berbaring kelelahan dengan tubuh bersimbah keringat untuk sekian waktu. Saat akhirnya kami mampu bergerak, hanya dengan gerakan tubuh yang lemah dan pelan. Secara bregiliran kami mandi menyegarkan tubuh, berpakaian dan bertemu di meja makan. Sherly menyiapkan sesuat untuk mengganjal perut kami semua yang kelaparan.

“Aku lapar,” Jenny said.

“Aku juga,” timpalku.

“Aku rasa kita sudah membangkitkan selera makan kita,” Sherly tersenyum. Hampir disepanjang acara makan kami diwarnai keheningan. Masing-masing tenggelam dalam alam pikirannya. Aku lihat Sherly sedang menata mentalnya untuk membuka omongan. Akhirnya dia menatapku begitu acara makan kita selesai.

“Jadi, apakah kita semua baik-baik saja?” nada bicaranya terdengar nervous. Kami saling menatap satu sama lain dalam beberapa saat dan kemudia aku mengangguk. Senyuman Sherly terkembang.

“Bagaimana dengan kamu?” Tanya Sherly pada adiknya.

“Mmm, aku belum tahu,” jawab Jenny dengan jujur, tapi kemudian dia tersenyum lebar dan bertanya, “Yang kamu maksud itu tentang kamu dan Bob atau kenyataan bahwa baru saja aku sadar kalu aku seorang lesbian yang juga menikmati hubungan incest?”

“Kamu bukan lesbian,” jawabku sambil tersenyum.

“Dia benar,” Sherly menambahkan. “Kamu seorang biseksual yang menikmati hubungan incest.” Jenny tidak bias menahan diri. Dia tertawa terbahak. Sherly dan aku ikut tertawa, tapi dengan cepat tawa kami berhenti.

“Jenny, beri Bob kesempatan,” kata Sherly dengan lebih serius. Jenny menarik nafas.

“Akan kupikirkan.”

“Dan diskusikan dengannya soal belum juga hamilnya kamu. Kalian berdua mungkin harus membicarakan hal tersebut. Mungkin sekaranglah waktunya untuk datang ke dokter ahli.”

“Wow, sekali nasehat langsung komplit,” jawab Jenny dengan tersenyum. Dia terlihat agak bimbang.

“Hei, kamu boleh menyewa suamiku sebagai gantinya kalau yang jadi masalahmu adalah Bob,” gurau Sherly, mencoba untuk membuat adiknya tersenyum. Senyuman Jenny semakin terkembang lebar saat tangannya bergerak mengelus perutnya.

“Masalah itu mungkin sudah terpecahkan kalau memang yang bermasalah aadalah Bob. Minggu ini adalah periode masa paling suburku dan suamimu sudah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik saat mengisiku dengan spermanya.”

Alis Sherly’s, dan tentu saja alisku, terangkat karena terkejut. Kami saling mamandang dan kemudian menoleh ke arah Jenny. Akhirnya kami bertiga hanya mengangkat bahu.

“Itu issue untuk besok saja,” jawab Sherly.

“Kalau memang jadi,” Jenny menambahkan.

“Beritahu kami kalau akhirnya kamu memutuskan untuk memaafkan Bob,” kataku, merubah topic pembicaraan. “Akan tiba waktunya bagi Bob dan aku untuk membicarakannya, tapi itu persoalan lain lagi. Dan jika semuanya berjalan baik dan antara kamu dan Bob ok, aku rasa aku ingin melihat Bob dan Sherly melakukannya secara langsung. Aku yakin itu akan terlihat lebih hebat dari pada di dalam video.”

“Hanya selama aku diberi kesempatan dengan kamu lagi,” jawab Jenny menimpali ‘tantanganku. Dia kemudian menoleh kea rah Sherly dan dengan tersenyum menambahkan, “Tentu saja dengan kamu juga.”

“Aku bisa menggaransi kalau soal itu,” balas Sherly.

Jenny memberi sebuah pelukan pada kami berdua sebelum dia pergi. Sherly dan aku saling menatap dalam kebisuan untuk beberapa saat.

“Nah, sekarang bagaimana?” Tanya Sherly. Awalnya aku hanya mengangkat bahu, tapi kemudian kuhembuskan nafas. Aku sadar jika kami berdua membutuhkan sebuah aturan dasar dalam hal ini.

“Pertama, aku rasa kita harus saling setuju dan berjanji bahwa kita tidak akan saling bermain dengan orang lain tanpa persetujuan salah satu dari kita. Tak ada lagi affair,” jelasku dengan ringkas. Sherly tampak sedikit malu dan mengangguk setuju.

“Kita harus ekstra hati-hati terhadap anak-anak. Aku tidak mau gaya hidup kita yang baru ini membawa sebuah dampak bagi mereka semua,” Sherly menambahkan.

“Setuju.”

“Kamu puny ide yang lain lagi?” Tanya Sherly. Aku menyeringai.

“Ya, masih ada sebuah hukuman yang menunggumu.”

“Hukuman?” Tanya Sherly, matanya berbinar.

“Yeah, sekarang aku tahu kalau kamu suka sedikit kekerasan dan rasa sakit, aku rasa kita harus kembali lagi ke kamar. Lagipula anak anak tidak ada dan kita hanya berdua saja sekarang.”

“Apa yang kamu rencanakan?” Tanya Sherly curiga. Aku hanya tersenyum lebar.

Kami habiskan beberapa jam berikutnya dengan saling memuaskan dan memanjakan satu sama lain. Tidak semua yang kami coba berjalan dengan baik, tapi saat itu tidak berjalan sesuai harapan, kami hanya tertawa dan kemudia mencoba sesuatu yang lainnya lagi. Untuk pertama kalinya Sherly dan aku saling berbagi seluruh fantasi seksual dalam kehidupan dua puluh tahun perkawinan kami. Kami sadar kalau tidak semua fantasi tersebut bisa diwujudkan dalam satu malam ini, tapi kami sudah melakukan sebuah awal yang bagus.

Mentari pagi hanya menunggu satu dan dua jam untuk terbit saat akhirnya kami merasa terlalu lelah untuk mencoba sesuatu yang lain lagi, tapi kami berdua belum merasa mengantuk juga. Sekali lagi kami mandi lagi dan melangkah menuju ke kamar tamu. Kamar ini memiliki pemandangan yang indah saat mentari terbit dan juga seprei yang bersih dan segar.

Kami berdua berbaring dan berbincang seakan sudah tak saling bicara selama bertahun-tahun. Aku bahkan tak begitu yakin apa yang sedang kami diskusikan, tapi pada akhirnya aku merasa lebih dekat dengan isteriku melebihi sebelumnya. Manteri terbit mengantarkan kami berdua lelap dalam mimpi indah dengan saling memeluk.

Tolong beri komentar untuk kedepannya..( ´ ▽ ` ) mαkαcíhhhh…..